Kisah Haru! Becak Listrik dari Prabowo 'Ngebantu Perjuangan Tukang Becak 63 Tahun di Banjarnegara

Editor: Usman
Rabu, 10 Desember 2025 | 13:38 WIB
Kisah Haru! Becak Listrik dari Prabowo 'Ngebantu Perjuangan Tukang Becak 63 Tahun di Banjarnegara
Jasimun Warga Banjarnegara dapat Becak Listrik dari Presiden Prabowo Subianto melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) Foto : Yuzin

astakom.com, Banjarnegara - Pada usia 63 tahun, bagi kebanyakan orang, tenaga adalah aset yang perlahan menipis, digantikan oleh nyeri di sendi dan harapan yang semakin memudar. Namun, bagi Jasimun, seorang tukang becak veteran di Banjarnegara, Jawa Tengah, masa senja justru dibukakan oleh sebuah hadiah tak terduga yang datang dari ribuan kilometer jauhnya sebuah becak listrik sumbangan dari Presiden Prabowo Subianto melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN).

Bagi Jasimun, becak listrik ini bukan sekadar alat kerja baru; ini adalah perpanjangan napas, penawar nyeri kronis, dan yang paling utama, adalah penyelamat lututnya yang sudah puluhan tahun menjadi mesin utama penggerak keluarganya.

“Dengan adanya becak ini, tentunya membantu lutut saya agar tidak lelah mengayuh, jadi tidak seperti kemarin yang hanya bisa narik becak setengah hari,” tuturnya dengan nada lega, suaranya dipenuhi rasa syukur yang mendalam.

Sebelum becak listrik itu tiba, kehidupan Jasimun adalah perjuangan sunyi yang diukur dalam setiap kayuhan dan denyutan nyeri. Setiap hari ia harus berhadapan dengan jarak tiga kilometer yang terasa seperti jarak maraton. Lututnya sering kali sakit hebat.

Di usianya yang tak lagi muda, tantangannya bukan hanya mencari penumpang, tetapi juga mengalahkan kelelahan fisik dan rasa sakit yang menderanya. Dengan pendapatan harian yang hanya berkisar Rp25.000 hingga Rp30.000, untuk menghidupi istri dan tiga anaknya - satu di SMP, satu di SD, dan satu penyandang disabilitas. Setiap rupiah benar-benar adalah perjuangan hidup.

Kisah Jasimun kini bertransformasi. Dari seorang pejuang yang berkejaran dengan usia dan sakit, ia kini menjadi simbol harapan bahwa solidaritas dan kepedulian dapat benar-benar mengubah nasib wong cilik. Bantuan dari Presiden Prabowo ini, yang diyakini Jasimun berhati emas, telah membuktikan bahwa kepedulian terhadap rakyat kecil dapat datang dalam bentuk yang paling esensial: sebuah becak listrik yang menjaga martabat seorang ayah di usia senja.

Kayuhan Sejak 1990: Sebuah Kaledioskop Perjuangan

Jasimun memulai karirnya sebagai tukang becak sejak tahun 1990. Tiga puluh lima tahun mengayuh becak adalah sebuah monumen kesabaran dan kerja keras yang luar biasa. Ia telah menyaksikan berbagai pergantian zaman, dari era telepon umum hingga ponsel pintar, dari harga bensin yang murah hingga naik-turunnya harga kebutuhan pokok yang mencekik.

Dulu, di awal tahun 90-an, ia mengenang masa-masa keemasan: “Narik becaknya dari tahun 1990 sampai sekarang, kalau dulu pendapatan Rp75–100, bisa dapat Rp3.000,” ujarnya, menggambarkan betapa berharganya uang di masa lalu. Kini, dengan inflasi dan persaingan yang makin ketat, pendapatan harian Rp25.000-Rp30.000 terasa sangat berat untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Keterbatasan ekonomi ini diperparah oleh tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Selain istrinya, ia menafkahi anak pertama yang duduk di bangku SMP, anak bungsu yang masih SD, dan seorang anak penyandang disabilitas yang memerlukan perhatian dan biaya ekstra.

Meskipun keluarganya menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) setiap tiga bulan, yang ia syukuri sebagai uluran tangan dari pemerintah, beban hidup tetap terasa berat. "Kalau di rumah dapat PKH, 3 bulan sekali, itu membantu saya dan keluarga saya juga mengucapkan terima kasih kepada aparat desa yang memperhatikan,” katanya, menunjukkan sikap rendah hati dan rasa syukur yang tak pernah hilang.

Namun, yang paling menghantui Jasimun adalah keterbatasan fisiknya. Kayuhan becak yang menjadi sumber penghidupannya justru menjadi musuh bagi lututnya. Kelelahan dan nyeri lutut parah memaksanya mengurangi jam kerja, yang otomatis memangkas penghasilannya. Ia hanya bisa narik becak setengah hari, mengayuh becak konvensional terasa seperti memikul beban seluruh dunia di pundaknya.

Datangnya Kabar dari Aktivis Purwonegoro

Kabar baik itu datang secara tak terduga, melalui perantara seorang relawan. Suatu hari, Jasimun dihubungi oleh seorang aktivis bernama Bu Revi dari Yayasan GSN di Purwonegoro.

“Awalnya, saya tahu dari Bu Revi dari aktivis di daerah Purwonegoro, katanya saya dapat bantuan becak, lalu saya disuruh kumpul ke tempatnya Bu Revi, setelah kumpul saya disuruh kesini, hari Sabtu, lalu tanggal 2 disuruh kesini lagi. Dan sekarang disini,” cerita Jasimun, menggambarkan proses yang awalnya ia sambut dengan sedikit keraguan dan keheranan. Sulit baginya untuk percaya bahwa di antara ribuan tukang becak di Banjarnegara, ia yang terpilih untuk menerima hadiah mulia ini.

Pada hari penyerahan becak listrik, yang merupakan bagian dari program bantuan sosial Presiden Prabowo untuk masyarakat kecil, Jasimun merasa seperti mendapatkan lotere kehidupan. Becak listrik ini adalah jawaban atas doa-doa yang dipanjatkannya setiap kali lututnya berdenyut nyeri.

Alat kerja barunya ini dilengkapi dengan motor listrik, yang secara drastis mengurangi beban mengayuh. Ia kini bisa bekerja lebih lama, lebih jauh, dan yang paling penting, tanpa rasa sakit parah.

"Lebih jauh lebih enak ini (becak listrik) kalau kehabisan strum/listrik bisa dibantu roda. Membantu sekali pokoknya,” tambahnya. Ia bahkan tak lagi khawatir jika baterai habis di tengah jalan, karena ia masih bisa mengayuh secara manual, meskipun dengan beban yang jauh lebih ringan dibanding becak konvensional.

Sebuah Harapan Baru dan Martabat yang Kembali Tegak
Dengan becak listrik ini, Jasimun melihat potensi peningkatan penghasilan yang sangat nyata. Ia tidak perlu lagi memotong jam kerja karena kelelahan, artinya potensi pendapatannya bisa berlipat ganda.

“Mungkin bisa menambah hasil, mudah-mudahan dengan bantuan ini cepat mendapatkan hasil yang lebih banyak,” harap Jasimun, matanya berbinar penuh optimisme.

Namun, hal yang jauh lebih penting dari sekadar peningkatan pendapatan adalah kembalinya martabat dalam bekerja. Di usia renta, ia tidak lagi harus memaksakan tubuhnya hingga batas maksimum. Ia bisa menafkahi keluarganya secara bermartabat, tanpa harus terus-menerus bertarung melawan rasa sakit fisik.

Ungkapan terima kasih Jasimun kepada Presiden Prabowo diulang-ulang, seolah-olah satu kali tidak cukup untuk menampung rasa syukurnya yang meluap.

“Pak Prabowo benar-benar berhati emas, bisa membantu orang kecil seperti saya ini,” katanya dengan sungguh-sungguh. "Pak Prabowo, saya atas nama Jasimun, terimakasih sekali, telah memberikan becak listrik dan ini sangat membantu sekali untuk orang kecil seperti saya. Terimakasih.”

Bagi Jasimun, sumbangan ini adalah wujud nyata kepedulian pemimpin terhadap rakyatnya yang paling lemah. Ia mendoakan agar Prabowo selalu menjadi pemimpin yang baik hati dan adil.

“Semoga Pak Prabowo bisa menjadi presiden yang selalu baik hati sampai selamanya, adil untuk rakyat-rakyat kecil dan semuanya. Mudah-mudahan diberikan kesehatan, menjaga negara RI sampai akhir,” harapannya.

Kisah Jasimun adalah pengingat yang kuat bahwa solidaritas sosial, ketika diwujudkan dalam tindakan konkret yang menyentuh akar permasalahan, dapat menjadi titik balik yang monumental dalam hidup seseorang. Becak listrik itu kini bukan hanya mengangkut penumpang; ia mengangkut impian, harapan, dan masa depan yang lebih cerah bagi keluarga Jasimun, sambil merawat lutut yang telah lelah berjuang selama lebih dari tiga dekade.

Banjarnegara kini memiliki satu lagi cerita inspiratif, tentang bagaimana sebuah becak bertenaga listrik berhasil menyelamatkan seorang ayah dari kelelahan usia, dan mengembalikan senyum di tengah perjuangan hidup yang tak kenal lelah. (Usm/aSP)

Gen Z Takeaway 

Becak listrik buat Jasimun bukan cuma alat kerja baru—ini cheat code hidup yang langsung nge-upgrade hari-harinya. Dari yang lututnya “lowbat” tiap narik setengah hari, sekarang bisa ngebut lembut tanpa rasa sakit.
Bantuan kecil, impact besar.

Intinya: ketika teknologi ketemu empati, hidup wong cilik bisa naik level.

Banjarnegara Becak Listrik Becak listrik Prabowo Ekonomi Kerakyatan Prabowo Subianto Presiden Prabowo Provinsi Jawa Tengah Tukang Becak UMKM

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB