Bullying Berujung Maut di Pekanbaru, Dinas Pendidikan Bentuk Tim Investigasi
astakom.com, Pekanbaru – Kasus dugaan perundungan (bullying) yang berujung pada kematian seorang bocah SD berinisial MAR di Pekanbaru mencuat setelah pihak keluarga menunjuk kuasa hukum untuk mengusut insiden tersebut. Merespons dugaan kekerasan di lingkungan sekolah yang menimpa murid kelas 6 SD Negeri 108 tersebut, Dinas Pendidikan (Disdik) Pekanbaru segera membentuk tim investigasi khusus pada Selasa (2/12/2025) untuk mengumpulkan fakta dan keterangan lengkap dari para pihak terkait.
MAR meninggal dunia pada Minggu (30/11/2025) dini hari, setelah mengalami gangguan di bagian kepala yang diduga dipicu oleh kekerasan di sekolah. Plt Kepala Disdik Pekanbaru, Masykur Tarmizi, menyatakan bahwa pembentukan tim investigasi ini adalah tindak lanjut dari arahan Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, guna memastikan kebenaran dugaan perundungan tersebut.
Tim Investigasi Turun ke Sekolah Kumpulkan Keterangan
Masykur Tarmizi menjelaskan bahwa tim investigasi yang dibentuk Disdik Pekanbaru telah mulai bekerja dan turun langsung ke lokasi sekolah untuk mengumpulkan data dan mewawancarai pihak-pihak yang terlibat."Kita sudah bentuk tim dan tim sudah bekerja, turun ke sekolah, mewawancarai para pihak. Kita tunggu laporan lengkap dari tim ini," kata Masykur.
Tim tersebut tengah mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak, termasuk wali kelas, guru, dan teman-teman sekelas korban. Pihak Disdik berjanji akan menyampaikan hasil temuan tersebut setelah laporan tim selesai disusun.
"Kita sudah bentuk tim dan tim sudah bekerja, turun ke sekolah, mewawancarai para pihak. Kita tunggu laporan lengkap dari tim ini," ujarnya
Kronologi Dugaan Kekerasan dan Riwayat Korban
Peristiwa yang diduga memicu kondisi kritis MAR terjadi saat korban mengikuti kegiatan belajar kelompok di dalam kelas. Saat itu, salah seorang murid berinisial FT dilaporkan tiba-tiba menendang kepala MAR.Aksi ini dilaporkan oleh murid lain berinisial ARK kepada wali kelas, namun laporan tersebut hanya direspons dengan permintaan untuk "tunggu". Sepulang sekolah, korban menangis dan menyatakan tidak ingin kembali ke sekolah karena trauma akibat perundungan.
Keesokan harinya, MAR mengalami gangguan pada bagian kepala. Pihak keluarga, karena keterbatasan biaya, sempat membawa korban ke pengobatan alternatif sebelum akhirnya dirujuk ke fasilitas kesehatan, namun nyawa bocah SD tersebut tidak tertolong.
Keluarga korban juga mengungkapkan bahwa MAR sebelumnya pernah menjadi korban kekerasan di sekolah. Pada Oktober 2025, korban pernah dipukuli oleh murid lain hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit selama satu minggu.
Mencuatnya kasus dugaan bullying berujung kematian ini setelah keluarga korban memutuskan untuk menempuh jalur hukum guna mengusut tuntas serangkaian kekerasan yang dialami bocah SD tersebut.
Gen Z Takeaway:
Kasus bullying yang bikin bocah SD MAR meninggal di Pekanbaru ini parah banget! Keluarga korban akhirnya pakai jalur hukum setelah insiden fatal di kelas, kepala ditendang teman dan riwayat kekerasan sebelumnya (pernah dirawat 1 minggu). Sekarang, Dinas Pendidikan Pekanbaru langsung sat set bentuk Tim Investigasi buat ngecek semua guru, wali kelas, dan teman sekelas. Kita tunggu aja hasil tim gak boleh cuma jadi lip service, keadilan buat MAR harus didapat!













