Pemprov Sumbar Estimasi Kerugian Rp4,9 M Akibat Banjir yang Melanda 6 Kecamatan
astakom.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) lakukan penanganan darurat mengenai cuaca ekstrem yang berimbas sungai meluap dan menyebabkan banjir besar di Kabupaten Padang Pariaman.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Sumbar, Rifda Suriani lakukan langkah awal yang difokuskan pada normalisasi sungai dan pengamanan infrastruktur irigasi.
Pemprov Sumbar mengerahkan sejumlah alat berat ke lokasi-lokasi terdampak. Alat berat tersebut menurut Rifda berfungsi untuk menormalisasi sungai, mengurangi pendangkalan sehingga arus sungai tidak masuk ke pemukiman warga.
"Ini bantuan sementara untuk normalisasi sungai dengan mengambil sedimen yang menyebabkan pendangkalan. Kita pastikan aliran sungai kembali ke jalurnya sehingga tidak masuk ke permukiman," kata Rifda dikutip Rabu, (26/11/2025).
Alat Berat Diturunkan Perbaiki Alur Sungai
Saat ini alat berat disebar di Batang Surantih, Langgai, Nagari Gantiang Mudiak Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, satu unit alat berat diturunkan untuk memperbaiki alur sungai dan mengembalikan penampang sungai agar daya rusak air dapat ditekan.
Di Kabupaten Padang Pariaman, ekskavator dikerahkan ke Ulakan, Nagari Gimba, untuk membuka alur sungai yang menyempit. Upaya ini dilakukan agar aliran air kembali lancar menuju sungai utama dan risiko banjir dapat ditekan.
Sementara di Kota Padang, satu unit alat berat ditempatkan di Batang Baringin, Kelurahan Baringin, guna mengamankan free intake irigasi yang terancam rusak akibat naiknya debit air. Fasilitas ini merupakan sumber pengairan utama bagi lahan pertanian masyarakat.
Distribusi Bronjong Sungai
Selain pengerahan alat berat, Pemprov Sumbar juga mendistribusikan 200 unit bronjong sungai ke Batang Bayang, Nagari Kapujan Kubang, Kabupaten Pesisir Selatan, untuk menangani ancaman erosi di area pertanian. Tambahan 135 unit bronjong juga telah dipersiapkan untuk dikirimkan ke titik terdampak lainnya.
Sebagai informasi, bronjong sungai adalah anyaman kawat baja yang berisi batu-batu untuk membentuk dinding penahan di tepi sungai.
Rifda menambahkan bahwa penanganan jangka panjang akan dilakukan dengan melibatkan pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS V).
"Selanjutnya kami akan berkoordinasi dengan BWSS V untuk penanganan sungai lebih lanjut," jelasnya.
Pemprov Sumbar memastikan seluruh perangkat terkait tetap dalam kondisi siaga, mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi berlanjut. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap peningkatan debit sungai, banjir, dan longsor di wilayah rawan.
Kerugian Dampak Bencana Capai Rp4,9 miliar
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar mengestimasikan nilai kerugian akibat dampak bencana banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem di provinsi setempat mencapai Rp4,9 miliar.
"Jumlah kerugian ini masih bersifat sementara berdasarkan laporan kabupaten/kota per Selasa (25/11) pukul 16.00 WIB," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumbar Arry Yuswandi di Padang, Rabu.
Arry menjelaskan bahwa angka kerugian tersebut berpotensi bertambah seiring proses asesmen detail yang masih berlangsung. Apalagi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan lebat hingga ekstrem masih berpotensi terjadi hingga 27 November 2025.
Gen Z Takeaway
Pemprov Sumbar lagi ngebut nanganin banjir besar akibat cuaca ekstrem dengan fokus normalisasi sungai biar air nggak lagi masuk permukiman. Alat berat dikerahin ke berbagai titik buat ngambil sedimen, buka alur sungai yang menyempit, sampai amankan irigasi pertanian. Mereka juga nyebar ratusan bronjong sungai buat cegah erosi sambil nyiapin koordinasi lanjutan bareng BWSS V untuk solusi jangka panjang. Di tengah situasi yang masih rawan hujan ekstrem, kerugian sementara udah tembus Rp4,9 miliar dan diprediksi naik, bikin kewaspadaan masyarakat jadi prioritas bareng penanganan teknis di lapangan.













