DPP KNPI: Peletak Dasar GBHN dan Repelita Pembangunan, Soeharto Layak Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
astakom.com,Jakarta — Usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden RI ke-2, Soeharto, kembali memunculkan perdebatan di ruang publik. Di tengah pro dan kontra, Ketua Bidang Politik DPP KNPI, Razikin Juraid, menyampaikan dukungannya. Menurutnya, terlepas dari kontroversi sejarah yang menyertai masa pemerintahannya, Soeharto memiliki jasa besar dalam membangun fondasi Indonesia modern.
Kepemimpinan Soeharto Selamatkan Indonesia dari Krisis 1965
Razikin menilai era kepemimpinan Soeharto merupakan fase penting ketika Indonesia bangkit dari situasi krisis politik dan ekonomi pasca-1965. Stabilitas nasional, pembangunan infrastruktur, perluasan akses pendidikan, serta program swasembada pangan menjadi catatan capaian penting Orde Baru.“Peran beliau dalam membawa Indonesia keluar dari situasi sulit, membangun kemandirian pangan, serta menata pembangunan nasional secara terencana adalah capaian besar yang memberi dampak hingga sekarang,” ungkap Razikin, yang juga menjabat sebagai Presiden Keluarga Mahasiswa Magister Ilmu Hukum (KMMIH) Universitas Gadjah Mada Kampus Jakarta.
Peletak dasar GBHN dan arah Pembangunan Jangka Panjang
Ia menambahkan, kebijakan pembangunan melalui Repelita dan GBHN menjadi arah pembangunan jangka panjang yang terstruktur, dan hasilnya masih dapat dirasakan dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat.Menurutnya, keberhasilan Soeharto dalam menciptakan ketahanan pangan serta menurunkan angka kemiskinan di masa awal pemerintahannya memperlihatkan kapasitas kepemimpinan yang visioner dan pragmatis. Karena itu, pemberian gelar Pahlawan Nasional dapat dilihat sebagai penghargaan terhadap kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.
Pentingnya Rekonsiliasi Sejarah
Razikin juga menekankan bahwa penilaian terhadap sejarah tidak semestinya hanya melihat sisi gelap atau kekurangan seorang pemimpin. Ia berpendapat bahwa rekonsiliasi sejarah penting agar bangsa dapat memandang perjalanan masa lalu secara utuh.“Memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto bukan berarti menutup mata terhadap kekurangannya, melainkan mengakui bahwa setiap pemimpin besar memiliki sisi terang dan gelap. Dalam konteks sejarah bangsa, pahlawan sejati bukanlah sosok tanpa cela, tetapi mereka yang memberi dampak nyata dan abadi bagi kemajuan rakyat dan negara,” tutup Razikin.













