BPS Spill Produksi Beras RI 2026 Diproyeksi Turun 4,57%, Ini Faktanya!
astakom.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) ngedrop soal data dan isu pangan. Kementerian Pertanian (Kementan) ngumumin kalau Indonesia udah sukses swasembada beras, tapi BPS langsung overthinking.
BPS mencatat kalau produksi beras nasional buat konsumsi masyarakat pada September 2026, anjlok sampai 18,25 persen secara tahunan (year-on-year). Angka perolehan produksi beras yang tercatat BPS cuma nyentuh 2,81 juta ton aja, padahal di bulan yang sama tahun lalu bisa tembus 3,44 juta ton.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, nhespill datanya langsung situasi ini di Jakarta, Senin (02/11/2026).
"Produksi beras untuk yang setara beras ya, untuk yang dikonsumsi pangan masyarakat, ini pada September 2026 diperkirakan mencapai 2,81 juta ton, atau mengalami penurunan sebesar 18,25 persen dibandingkan dengan September 2025 yang besarnya 3,44 juta ton," kata Ateng dalam keterangannya dikutip astakom.com pada Senin (02/11/2026).
Kontradiksi sengit: surplus vs realita lapangan
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman udah sering banget koar-koar kalau pasokan beras aman terkendali dan surplus. Kementan ngeklaim stok melimpah berkat program ngebut pompanisasi, optimalisasi lahan rawa, sampai cetak sawah baru.
Penurunan luas panen di pengujung kuartal ketiga bikin pasokan beras siap konsumsi down secara masif, bikin volume ketersediaan di tingkat penggilingan ngalamin kontraksi dua digit.
Gak cuma berhenti di situ, pelemahan ini juga nyeret total akumulasi pasokan dari awal tahun. Merujuk catatan BPS, total produksi beras dari Januari sampai September 2026 baru kisaran 28,10 juta ton artinya turun 2,12 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Proyeksi akhir tahun
Kalau dipikir situasi bakal rebound, estimasi BPS justru bikin insecure. Pasokan beras diprediksi masih bakal lesu sampai pengujung tahun karena estimasi panen di kuartal keempat ikutan nyusut.
Potensi produksi beras periode Oktober-Desember 2026 cuma diperkirakan 5,01 juta ton. Angka itu amblas 0,98 juta ton atau turun 16,32 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Alhasil, total neraca produksi beras sepanjang Januari hingga Desember 2026 dipastikan ditutup di angka 33,11 juta ton turun 4,57 persen (sekitar 1,59 juta ton) dari capaian tahun sebelumnya.
Sentra panen masih jadi penyelamat
Di tengah situasi yang agak cringe ini, sebaran sentra panen nasional ternyata masih bertahan di titik-titik lama. Buat kuartal akhir 2026, potensi panen mayoritas masih nongkrong di Pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah), disusul Sumatera (Sumatera Utara, Lampung, Aceh, Sumbar, Sumsel), Sulawesi Selatan dan Tengah, Kalimantan Selatan, serta NTT dan NTB.
Secara spesifik di level kabupaten/kota, lumbung pangan utamanya masih dipegang daerah-daerah kaya hasil tani seperti Indramayu, Subang, Karawang, Bekasi, dan Cirebon di Jabar. Lalu ada Sragen dan Pemalang (Jateng), Ngawi, Banyuwangi, Ponorogo, Jember, Lumajang (Jatim), Tulang Bawang dan Aceh Utara (Sumatera), serta Pinrang, Banggai, Luwu, hingga Konawe (Sulawesi). (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Klaim swasembada beras Indonesia kini berhadapan dengan catatan produksi dari BPS yang menunjukkan tren penurunan. Pada September 2026, produksi beras tercatat hanya 2,81 juta ton atau turun 18,25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, total produksi sepanjang 2026 diproyeksikan hanya mencapai 33,11 juta ton, terkoreksi 4,57% dari tahun sebelumnya. Artinya, klaim surplus beras perlu dibaca bersama data produksi aktual, karena tantangan menjaga pasokan dan stabilitas pangan nasional masih belum selesai.









