BPS Spill Neraca Dagang September 2026: Surplus USD3,36 Miliar!

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 3 November 2026 | 09:32 WIB
BPS Spill Neraca Dagang September 2026: Surplus USD3,36 Miliar!
BPS Spill Neraca Dagang September 2026: Surplus USD3,36 Miliar! [astakom/str-Andri Mardiansyah]

astakom.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) baru aja ngespill data terbaru soal performa neraca perdagangan Indonesia per September 2026. BPS mencatat kalau neraca perdagangan RI surplus di angka USD3,36 miliar.

Kalau dibandingin sama bulan Agustus 2026 yang sempat nyentuh USD3,55 miliar, angka bulan ini agak nyusut alias ngalamin penurunan tipis. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, ngejelasin kalau bulan September ini mayoritas disokong sama komoditas nonmigas yang tembus USD5,67 miliar.

Jagoan utamanya masih dipegang sama lemak dan minyak hewani/nabati, besi dan baja, plus bahan bakar mineral yang jadi support system paling kuat. Sayangnya, sektor migas RI lagi down banget dan ngalamin defisit sampai USD2,31 miliar, gara-gara hasil minyak dan minyak mentah yang nge-drag performa ke bawah.

Akumulasi cuan Januari-September 2026

Secara kumulatif dari Januari sampai September 2026, neraca perdagangan kita sebetulnya masih nge-flex surplus sebesar USD10,61 miliar.

“Surplus sepanjang periode Januari-September 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus USD34,21 miliar, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD23,60 miliar,” kata Ateng saat Konferensi Pers, Senin (02/11/2026).

Dari sisi penjualan luar negeri, nilai ekspor kumulatif kita sukses nyentuh USD221,23 miliar, alias naik 5,58 persen secara year-on-year. Kenaikan ini paling keliatan dari sektor nonmigas yang tumbuh 6,30 persen jadi USD212,27 miliar.

Kalau di-breakdown berdasarkan sektor, industri pengolahan jadi penyokong dan dengan angka ekspor paling gokil, yakni nyentuh USD182,83 miliar atau melesat 8,93 persen dibanding tahun 2025. 

Belanja negara lagi naik

Buat negara tujuannya, China masih jadi main character dengan porsi USD54,17 miliar (25,52 persen), disusul Amerika Serikat sebesar USD25,39 miliar (11,96 persen), dan India di posisi tiga dengan USD15,00 miliar (7,07 persen).

Di sisi lain, belanja impor RI lagi banyak, nih. Nilai impor kumulatif Januari-September 2026 melonjak tajam sampai USD210,63 miliar, alias meroket 19,67 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan ini paling kerasa dari impor nonmigas yang naik 16,92 persen (USD178,06 miliar) dan impor migas yang naiknya sampai 37,35 persen (USD32,57 miliar).

Impor bahan baku tinggi

Kalau dilihat dari jenis kegunaannya, impor kita didominasi sama bahan baku/penolong senilai USD150,57 miliar (naik 21,11 persen). Disusul impor barang modal sebesar USD41,55 miliar, dan barang konsumsi yang nyentuh USD18,51 miliar, naik sebanyak 15,54 persen.

Selanjutnya, China fix masih jadi top tier supplier impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-September 2026 dengan angka fantastis USD76,16 miliar(42,77 persen). Jepang ada di urutan kedua dengan USD10,04 miliar, dan Australia di posisi tiga lewat angka USD8,07 miliar. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Neraca perdagangan Indonesia masih berhasil mencatat surplus USD3,36 miliar pada September 2026, meski sedikit menyusut dibandingkan Agustus yang mencapai USD3,55 miliar. Kinerja ini masih ditopang sektor nonmigas, terutama lemak dan minyak nabati, besi dan baja, serta bahan bakar mineral. Secara kumulatif, surplus Januari-September 2026 mencapai USD10,61 miliar, dengan ekspor tumbuh 5,58 persen. Namun, ada catatan yang perlu diperhatikan: impor justru melesat 19,67 persen menjadi USD210,63 miliar, terutama untuk kebutuhan bahan baku dan barang modal.

neraca perdagangan RI surplus perdagangan Ekspor BPS

Infografis

Terkini