PMI Manufaktur RI Tembus 54! Airlangga: Ekspansi Terkuat Sejak Maret 2024

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 3 November 2026 | 15:34 WIB
PMI Manufaktur RI Tembus 54! Airlangga: Ekspansi Terkuat Sejak Maret 2024
PMI Manufaktur RI Tembus 54! Airlangga: Ekspansi Terkuat Sejak Maret 2024 (Foto: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

astakom.com, Jakarta - Sektor manufaktur Indonesia resmi bikin bikin terpana dalam pencapaiannya di Oktober 2026, lantaran produk industri dalam negeri di bulan kemarin sukses nunjukin performa yang makin gacor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto nge-spill kalau industri manufaktur Indonesia mengalami ekspansi yang signifikan pada Oktober 2026. Sinyal positif ini terlihat jelas dari menguatnya Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur nasional yang melonjak ke angka 54 pada Oktober, melompat cukup jauh dibandingkan posisi 52,4 pada September.

Capaian apik itu menandakan bahwa sektor manufaktur Indonesia terus berekspansi, bahkan berhasil menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir.

"Ini menandakan penguatan ekspansi sektor manufaktur, dan level ekspansinya ini terkuat sejak Maret 2024, jadi ini level ekspansi yang tinggi," kata Airlangga usai bertemu Presiden Prabowo Subianto, dikutip astakom.com pada Senin (02/11/2026).

Amunisi ekonomi nasional

Menko Airlangga menegaskan bahwa capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih sangat well-prepared dan kuat menjelang penutupan tahun. Kondisi yang stabil ini juga terekam manis di berbagai indikator makroekonomi lainnya.

Sebagai bukti konkret, Airlangga bilang kalau bahwa inflasi pada Oktober tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan atau 2,4 persen berdasarkan tahun kalender (year-to-date). Menurutnya, inflasi nasional berdasarkan tahun kalender masih amat terjaga karena tetap berada dalam rentang target inflasi nasional, yakni 1,5 hingga 3,5 persen.

Jaga daya beli masyarakat

Pemerintah juga terus berupaya untuk menjaga daya beli masyarakat supaya tetap aman sampai pergantian tahun, pemerintah bakal menyiapkan serangkaian strategi dan kebijakan ampuh.

Skema yang bakal diturunkan antara lain pemberian insentif tiket transportasi selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru), serta penyaluran bantuan pangan hingga akhir tahun yang menyasar 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

"Jadi kita menggelontorkan bantuan agar daya tahan bisa terjaga," katanya.

Neraca perdagangan ikut flexing surplus

Nggak cuma masalah inflasi dan manufaktur yang on-point, kuatnya fundamental ekonomi Indonesia juga tecermin dari neraca perdagangan selama Januari hingga September 2026 yang berhasil mengantongi surplus hingga USD 10,61 miliar.

Angka tebal ini membuktikan kalau ketahanan ekonomi Indonesia tetap kuat meski badai gejolak ekonomi global sedang terjadi.

Secara akumulatif, sepanjang Januari hingga September 2026, ekspor Indonesia tercatat menembus USD 221,23 miliar atau tumbuh 5,58 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Di sisi lain, total impor Indonesia mencapai USD 210,63 miliar dengan pertumbuhan sebesar 19,67 persen secara tahunan.

Impor masih tinggi

Meskipun laju impor tercatat tumbuh lebih tinggi ketimbang ekspor, komposisi impor Indonesia sebagian besar dikuasai oleh bahan baku, bahan penolong, serta barang modal. Hal ini justru menyiratkan kabar baik yakni ada aktivitas produksi yang makin heavy dan kenaikan investasi yang aktif di sektor manufaktur serta industri dalam negeri.

"Jadi, ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini, dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga," dia menutup. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Manufaktur Indonesia lagi menunjukkan performa yang solid! PMI manufaktur Oktober 2026 sukses naik ke level 54 dari sebelumnya 52,4 pada September, sekaligus menjadi capaian ekspansi tertinggi sejak Maret 2024. Kondisi ini makin memperkuat optimisme terhadap ekonomi nasional, apalagi inflasi masih terkendali, neraca perdagangan mencatat surplus USD10,61 miliar, dan impor yang didominasi bahan baku serta barang modal mengindikasikan aktivitas produksi dan investasi tetap bergerak. Pemerintah juga terus menjaga daya beli masyarakat lewat insentif transportasi Nataru dan bantuan pangan untuk 33,2 juta KPM.

Industri Manufaktur Purchasing Managers' Index (PMI) Menko Perekonomian Airlangga Hartarto ekspansi Ekspor

Infografis

Terkini