Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat! Airlangga Optimistis Tren Positif Berlanjut hingga Akhir 2026

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Senin, 2 November 2026 | 21:47 WIB
Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat! Airlangga Optimistis Tren Positif Berlanjut hingga Akhir 2026
Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat! Airlangga Optimistis Tren Positif Berlanjut hingga Akhir 2026 [Timpres/Jessica Jowena Yiswi]

Reporter: Usman

astakom.com, Jakarta - Memasuki kuartal keempat, pemerintah pastiin kalau fundamental ekonomi Indonesia ada dalam kondisi yang baik. Menjelang akhir 2026 tercatatkan kalau inflasi tetap terkendali, aktivitas industri manufaktur juga semakin ekspansif.

Nggak cuma itu, neraca perdagangan RI juga surplus menjadi sejumlah indikator positif yang menopang pergerakan dan ketahanan ekonomi nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bilang kalau berbagai indikator ekonomi menunjukkan bahwa aktivitas perekonomian nasional masih bergerak positif.

Hal itu disampaikan Airlangga setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (02/11/2026). Airlangga bilang berbagai indikator ekonomi nunjukkin aktivitas perekonomian nasional bergerak positif.

Optimis tren positif berlanjut sampe akhir tahun

Bahkan pemerintah optimis tren ini berlanjut sampe akhir tahun.

"Jadi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga," katanya.

Dari sisi stabilitas harga, Airlangga bilang kalau inflasi Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara year-on-year. Inflasi bulanan sebesar 0,22 persen.

Inflasi sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd) tercatat sebesar 2,4 persen. Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Inflasi terjaga

"Dari segi inflasi, inflasi di Oktober year on year sebesar 3,23 persen, dan month to month 0,22 persen. Dan inflasi tahun kalender, artinya year to date itu sebesar 2,4 persen. Jadi kalau year to date 2,4 persen juga ini masih dalam range 2,5 persen plus minus 1 persen," katanya.

Airlangga menjelaskan inflasi inti atau core inflation berada di level 2,56 persen, sementara inflasi harga yang diatur pemerintah atau administered prices mencapai 3,24 persen. Adapun inflasi komponen harga bergejolak atau volatile food tercatat sebesar 5,81 persen.

Menurutnya, pergerakan inflasi terutama dipengaruhi oleh sejumlah komoditas pangan, termasuk ikan segar, serta kenaikan harga pada sektor transportasi, khususnya angkutan udara. Meski demikian, pemerintah menilai kondisi tersebut masih terkendali dan belum mengganggu stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

"Namun inflasi masih tetap dalam 2,5 plus minus 1, jadi pemerintah tidak khawatir, karena yang naik juga terkait dengan penghasilan dari petani. Jadi kita biarkan inflasi masih dalam range yang 2,5 plus minus 1," ungkapnya.

Airlangga ngespill, Purchasing Managers' Index manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 meningkat menjadi 54, dari sebelumnya 52,4 pada September.

Beberapa sektor mengalami ekspansi

Capaian tersebut menunjukkan bahwa sektor manufaktur Indonesia terus berada dalam fase ekspansi. Bahkan, level ekspansi pada Oktober menjadi yang terkuat sejak Maret 2024.

"Indeks Purchasing Manager Index Indonesia di sektor manufaktur sudah masuk ke level ekspansi di 54, itu meningkat dari bulan yang lalu 52,4, dan ini menandakan penguatan ekspansi sektor manufaktur," ungkapnya.

Airlangga ngespill kalau neraca perdagangan pada September 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS.

Surplus tersebut ditopang oleh perdagangan nonmigas yang membukukan surplus sebesar 5,67 miliar dolar AS, sementara sektor migas masih mengalami defisit sebesar 2,31 miliar dolar AS.

Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga September 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar 10,61 miliar dolar AS.

Surplus perdagangan

Capaian tersebut ditopang surplus nonmigas sebesar 34,21 miliar dolar AS, meskipun perdagangan migas mengalami defisit sebesar 23,60 miliar dolar AS.

Dari sisi ekspor, Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,58 persen secara tahunan. Total ekspor sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 221,23 miliar dolar AS, dengan kontribusi ekspor nonmigas sebesar 212,27 miliar dolar AS.

Sementara itu, impor mengalami kenaikan sebesar 19,67 persen menjadi 210,63 miliar dolar AS, dibandingkan sekitar 176 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan impor terutama berasal dari kebutuhan bahan baku, bahan penolong, dan barang modal atau capital goods.

Kenaikan impor

Kenaikan impor pada kelompok tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan input produksi dan investasi, meskipun pertumbuhannya yang lebih tinggi dibandingkan ekspor tetap menjadi perhatian dalam menjaga keseimbangan perdagangan.

Adapun impor nonmigas mencapai 178,06 miliar dolar AS, dengan kenaikan nilai sebesar 16,92 miliar dolar AS.

Pemerintah akan terus mendorong perdagangan internasional agar dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

"Ya tentu kita tetap mendorong sektor ekspor-impor, jadi ekspor-impor tetap kita akan dorong," ujarnya.

Di tengah perkembangan ekonomi tersebut, pemerintah juga menaruh perhatian pada upaya menjaga daya beli masyarakat, terutama menjelang perayaan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru).

Jaga daya beli masyarakat

Airlangga mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah stimulus, termasuk program diskon khusus pada periode Nataru serta bantuan sosial dengan nilai sekitar Rp30 triliun.

"Kemudian daya beli dalam negeri dengan ada program Nataru, ada special discount di sana, dan juga ada program-program bantuan sosial yang senilai dengan angka sekitar Rp30 triliun. Jadi kita menggelontorkan bantuan agar daya tahan bisa terjaga," jelasnya.

Pemerintah juga berencana memberikan diskon pada sektor transportasi untuk mengimbangi potensi kenaikan harga tiket menjelang musim libur akhir tahun.

"Namun kita punya program untuk discount menjelang Nataru. Jadi kenaikan itu nanti kita akan kompensasi dengan discount," kata Airlangga.

Selain stimulus konsumsi, pemerintah siapin bantuan pangan berupa beras sebanyak 30 kilogram per keluarga sebagai bagian dari langkah menjaga ketahanan pangan rumah tangga dan membantu mengendalikan tekanan inflasi.

"Kemudian juga untuk inflasi tentu dengan adanya bantuan beras yang sebesar 30 kg per keluarga, itu juga bisa membantu menekan inflasi," ujarnya. (Usm/Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Fundamental ekonomi Indonesia menjelang akhir 2026 masih terjaga dan menunjukkan tren positif. Inflasi Oktober tercatat 3,23% secara tahunan, PMI manufaktur naik ke level 54, dan neraca perdagangan September kembali surplus USD3,36 miliar. Meski impor tumbuh lebih tinggi dibandingkan ekspor, pemerintah optimistis aktivitas ekonomi tetap ekspansif hingga akhir tahun. Untuk menjaga momentum tersebut, pemerintah juga menyiapkan stimulus Nataru, bantuan sosial sekitar Rp30 triliun, diskon transportasi, hingga bantuan beras 30 kg per keluarga demi menjaga daya beli masyarakat.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto Inflasi Presiden Prabowo insentif kuartal IV Kuartal IV

Infografis

Terkini