Musim Kemarau Bukan Cuma Bikin Gerah, Ini Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 18 September 2026 | 04:08 WIB
Musim Kemarau Bukan Cuma Bikin Gerah, Ini Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Musim Kemarau Bukan Cuma Bikin Gerah, Ini Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai [Ilustrasi / Pexels]

astakom.com, Jakarta - Musim kemarau bukan cuma identik dengan cuaca panas dan langit yang lebih kering. Ketika suhu meningkat dan hujan belum juga turun, kondisi tersebut juga bisa ikut memengaruhi kesehatan, terutama saat kekeringan disertai kebakaran hutan dan lahan yang membuat kualitas udara memburuk.

Melansir dari keterangan tertulis Reuters pada Kamis, (16/09/2026) menunjukkan dampak kondisi tersebut di sejumlah wilayah Indonesia. Kekeringan yang dipicu kondisi cuaca ekstrem membuat kebakaran meluas di wilayah Borneo dan Sumatera, sementara kabut asap menurunkan kualitas udara hingga memicu peningkatan gangguan pernapasan di sejumlah daerah.

Udara kotor bisa ganggu pernapasan

Dampak kesehatan yang terlihat jelas dalam situasi kemarau dan kebakaran saat ini adalah meningkatnya keluhan pada sistem pernapasan. Reuters melaporkan, kondisi kabut asap di Kalimantan Barat membuat warga mengalami berbagai keluhan, mulai dari batuk, sakit tenggorokan hingga kesulitan bernapas.

Melansir dari data Kementerian Kesehatan yang menunjukkan kasus gangguan pernapasan terkait kebakaran di tujuh provinsi terdampak meningkat lebih dari dua kali lipat. Jumlahnya tercatat 50.891 kasus pada 1 September dan naik menjadi 113.336 kasus hingga 9 September 2026. Lebih dari 12,5 juta orang juga disebut telah terpapar kabut asap akibat kebakaran di tujuh provinsi di Sumatera dan Borneo.

Kondisi tersebut membuat kualitas udara menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan ketika kabut asap sedang pekat.

Panas juga bikin tubuh lebih terbebani

Selain persoalan kualitas udara, suhu panas yang berlangsung dalam periode panjang juga dapat memberi tekanan tambahan pada tubuh. WHO menjelaskan bahwa paparan panas dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan dan kematian, terutama ketika suhu tinggi berlangsung dalam waktu lama.

Paparan panas juga dapat memicu kelelahan akibat panas dan heatstroke. WHO mencatat cuaca panas dapat memperburuk kondisi tertentu, termasuk gangguan kardiovaskular, pernapasan, dan ginjal.

Karena itu, rasa gerah saat kemarau sebaiknya tidak dianggap sekadar persoalan kenyamanan. Tubuh tetap membutuhkan perlindungan dari paparan panas, terutama bagi kelompok yang lebih rentan terhadap dampak suhu tinggi.

Jangan abaikan kebutuhan cairan

Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika cuaca panas adalah kecukupan cairan. WHO memasukkan dehidrasi sebagai salah satu risiko yang berkaitan dengan paparan panas dan merekomendasikan masyarakat menjaga hidrasi ketika menghadapi suhu tinggi.

Di sisi lain, ketika kemarau juga dibarengi kabut asap, menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan memperhatikan suhu tubuh. Kondisi udara di sekitar juga perlu diperhatikan karena paparan asap dapat berkaitan dengan munculnya gangguan pernapasan, seperti yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia saat ini.

Dengan begitu, kemarau perlu dihadapi dengan perhatian pada dua hal sekaligus: tubuh yang harus beradaptasi dengan panas serta kualitas udara yang dapat memburuk ketika kebakaran terjadi. (deA/aNs)

Gen Z takeaway

Kemarau bukan cuma soal cuaca yang bikin gerah. Kalau panas berlangsung lama dan kualitas udara ikut turun karena asap, tubuh bisa mendapat beban tambahan. Jadi, tetap jaga cairan tubuh, perhatikan kondisi udara, dan jangan abaikan keluhan seperti pusing, lemas, batuk, atau sulit bernapas.

Lifestyle Tips Kesehatan Tips menjaga kesehatan Kesehatan Musim Kemarau Musim Kemarau 2026

Infografis

Terkini