Green Shipping Jadi Bagian Transformasi Industri Pelayaran, Kemenhub Siapkan SDM Adaptif
astakom.com, Jakarta – Ada satu isu yang kembali mengemuka di tengah perkembangan industri pelayaran global, yakni green shipping. Di saat aktivitas pelayaran terus berkembang untuk menjawab kebutuhan perdagangan dunia, perhatian kini juga tertuju pada bagaimana sektor tersebut dapat berjalan lebih efisien sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Perubahan itu membuat industri pelayaran tidak lagi hanya berbicara soal kapasitas kapal atau kecepatan distribusi. Digitalisasi, teknologi rendah emisi, efisiensi energi, hingga target dekarbonisasi kini menjadi bagian dari transformasi yang mendorong dunia maritim beradaptasi dengan tantangan baru.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menilai perubahan tersebut turut mengubah kebutuhan sumber daya manusia (SDM) di sektor maritim. Hal itu disampaikan dalam siaran pers yang diterima astakom.com pada Kamis (16/07/2026), bertepatan dengan pelepasan 1.735 lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Indonesia yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan industri pelayaran nasional maupun internasional.
Green shipping jadi bagian transformasi industri maritim
Green shipping bukan merupakan istilah baru di sektor pelayaran. Dalam keterangan resmi Kementerian Perhubungan sebelumnya, konsep ini dijelaskan sebagai upaya menurunkan penggunaan energi guna menghasilkan emisi yang lebih rendah. Penerapannya bertujuan mengurangi pencemaran lingkungan laut akibat tingginya penggunaan bahan bakar fosil pada sektor transportasi laut sekaligus mendorong pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan.
Kementerian Perhubungan juga menyatakan Indonesia mendukung penerapan green shipping melalui sejumlah langkah, di antaranya penggunaan bahan bakar rendah sulfur, pemanfaatan teknologi yang lebih ramah lingkungan, serta berbagai upaya dekarbonisasi sektor pelayaran. Dalam siaran pers terbarunya, Kemenhub menyebut transformasi industri pelayaran global kini ditandai dengan digitalisasi kapal, otomatisasi sistem navigasi, penerapan teknologi rendah emisi, hingga target dekarbonisasi.
Mewakili Menteri Perhubungan, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Muhammad Masyhud mengatakan perubahan tersebut menuntut sektor maritim terus beradaptasi agar mampu menjawab perkembangan industri global.
"Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi maritim yang sangat besar. Di tengah pesatnya transformasi industri pelayaran global, mulai dari digitalisasi, pemanfaatan teknologi cerdas, peningkatan standar keselamatan, hingga penerapan efisiensi energi dan perlindungan lingkungan, sektor maritim dituntut untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Karena itu, lulusan STIP harus mampu menjadi insan maritim yang profesional, adaptif, dan memiliki daya saing global," ujar Muhammad Masyhud dalam keterangan tertulis yang diterima astakom.com, Kamis (16/07/2026).
Kemenhub perkuat SDM hadapi industri pelayaran masa depan
Menurut Masyhud, penguatan kualitas SDM menjadi faktor strategis untuk mendukung terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia. Untuk itu, pemerintah terus mendorong pengembangan pendidikan dan pelatihan maritim yang selaras dengan kebutuhan industri melalui pembaruan kurikulum, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri.
Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan (BPSDMP) Suharto mengatakan transformasi sektor transportasi hanya dapat diwujudkan apabila didukung SDM yang unggul, inovatif, dan siap menghadapi perubahan.
"BPSDMP terus melakukan transformasi pendidikan vokasi transportasi agar semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Kami ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang mendorong keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan sektor transportasi. Penguatan kompetensi, karakter, serta kolaborasi dengan mitra industri dan institusi internasional akan terus menjadi prioritas kami dalam membangun SDM transportasi Indonesia yang berdaya saing global," imbuh Suharto.
STIP lepas 1.735 lulusan
Pada kesempatan tersebut, STIP Indonesia melepas 1.735 SDM maritim yang terdiri atas 361 lulusan Program Diploma IV dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), serta 1.374 peserta Program Diklat Peningkatan Ahli Nautika dan Ahli Teknika Tingkat I sampai V. Para lulusan dipersiapkan untuk mengisi kebutuhan industri pelayaran nasional maupun internasional yang terus berkembang.
Sebagai perguruan tinggi vokasi di bawah Kementerian Perhubungan, STIP menerapkan sistem pendidikan berbasis Outcome-Based Education (OBE). Taruna tidak hanya mengikuti pembelajaran di kelas, tetapi juga menjalani praktik menggunakan simulator, laboratorium, praktik berlayar di kapal niaga, hingga magang di perusahaan pelayaran dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).
STIP juga aktif menjalin kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan maritim dunia, termasuk dalam program pertukaran mahasiswa dan dosen, pelatihan internasional, serta pengembangan kompetensi di bidang dekarbonisasi pelayaran. Pada 2026, STIP juga memperoleh Akreditasi Internasional Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE) untuk bidang Engineering Technology and Similarity Named Programs.
Ketua STIP Indonesia Tri Cahyadi mengatakan perubahan kebutuhan industri menjadi dasar penguatan sistem pembelajaran di kampus tersebut.
"Industri pelayaran membutuhkan SDM yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memahami standar internasional, sekaligus memiliki karakter dan integritas yang kuat. Karena itu, STIP terus memperkuat proses pembelajaran melalui pendekatan Outcome-Based Education, peningkatan kualitas praktik, serta memperluas kerja sama internasional agar lulusan memiliki pengalaman dan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja," ujar Ketua STIP Indonesia Tri Cahyadi . (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Di balik istilah green shipping, ada perubahan besar yang sedang berlangsung di industri pelayaran dunia. Bukan hanya soal kapal yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga bagaimana teknologi, efisiensi energi, dan target pengurangan emisi mulai menjadi bagian dari standar industri. Karena itu, SDM maritim masa depan dituntut tak hanya andal mengoperasikan kapal, tetapi juga siap beradaptasi dengan transformasi menuju pelayaran yang lebih berkelanjutan.









