Tok Jalan! Blok Masela Dipush Bisa Produksi di 2029, Berpotensi Hasilkan 9,5 Juta Ton LNG per Tahun

Pewarta: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 17 Juli 2026 | 19:02 WIB
Tok Jalan! Blok Masela Dipush Bisa Produksi di 2029, Berpotensi Hasilkan 9,5 Juta Ton LNG per Tahun
Tok Jalan! Blok Masela Dipush Bisa Produksi di 2029, Berpotensi Hasilkan 9,5 Juta Ton LNG per tahun [Tim Media Presiden]

astakom.com, Jakarta - Proyek Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi di Blok Masela resmi berjalan setelah diresmiin sama Presiden Prabowo Subianto kemarin, Kamis (16/7/2026). Mega proyek migas ini ditargetkan berproduksi pada 2029 pasca proses konstruksi beres.

Bahlil Lahadalia selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) spill kalau produksi gas dari Blok Masela ditaksir 9,5 juta ton LNG per tahun. 

Ditambah lagi proyek ini diestimasikan mangakomodasi gas pipa sebanyak 150 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd). Untuk produksi kondensatnya diperkirakan mencapai 35.000 barel per hari.

Dari total produksi itu, minimal 60 persen bakal dialokasiin buat kebutuhan domestik atau dalam negeri. Sedangkan maksimal 40 persen bisa diekspor ke luar negeri. 

Minimal 60 persen untuk kebutuhan dalam negeri

Tapi keputusan itu masih belum final dan masih tergantung pada hasil negosiasi dan kebutuhan di dalam negeri nanti ke depannya.

"Hasil gas yang kita produksi dalam perencanaannya sekitar 1.200 MMBTU. Dari jumlah itu, minimal 60 persen akan dialokasikan untuk kebutuhan domestik, sementara maksimal 40 persen bisa diekspor, sambil melihat perkembangan negosiasi ke depan," kata Bahlil setelah menghadiri groundbreaking Proyek LNG Abadi Blok Masela, dikutip oleh astakom.com pada Jumat (17/07/2026).

Fokus buat ketahanan energi

Bahlil juga bilang kalau saat ini pemerintah memprioritaskan pemanfaatan gas Masela buat support ketahanan energi dan kebutuhan industri nasional. Alokasi gas domestik itu bakal disalurkan ke PT Pupuk Indonesia, PT Perusahaan Gas Negara (PGN), PT PLN (Persero) dan industri lain yang membutuhkan pasokan gas.

Khusus buat sektor pupuk, pemerintah punya target harga gas ada di kisaran USD6-7 per MMBTU supaya tetep kompetitif dan bisa support industri pupuk nasional.

"Kalau untuk Pupuk, kemarin kita sudah dapat kisaran sekitar 6 sampai 7 dolar AS per MMBTU," katanya.

Negosiasi harga

Sekarang pemerintah masih negosiasi harga dari Blok Masela, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Penetapan harga bakal mempertimbangkan beberapa komponen biaya, termasuk pembangunan pipa gas yang panjangnya sekitar 180 kilometer yang menghubungkan lapangan lepas pantai dengan fasilitas pengolahan LNG di darat.

"Harga gasnya masih dinegosiasikan. Kalau menggunakan pipa, panjangnya sekitar 180 kilometer. Nantinya dengan fasilitas LNG dan storage, sebagian gas akan ditarik dari laut sehingga bisa dilakukan blending," ujar Bahlil.

Bocoran harganya mengacu pada ICP

Sementara itu, untuk penjualan LNG ke pasar internasional maupun industri, Bahlil spill harganya bakal pakai formulasi yang mengacu pada Indonesian Crude Price (ICP).

Meski begitu, pemerintah pengen proses pengolahan dilakukan di Indonesia supaya bisa ngasih nilai tambah buat perekonomian nasional, juga pemerintah membisik proses bahan bakunya dari dalam negeri supaya lebih hemat biaya.

"LNG-nya memang akan memakai formulasi ICP. Tetapi yang saya inginkan adalah proses bahan bakunya dari sini sehingga biayanya lebih rendah, sementara multiplier effect dan nilai tambahnya terjadi di Indonesia," kata Bahlil. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Mega proyek LNG Abadi Masela resmi gaspol dan ditargetkan mulai produksi pada 2029 dengan kapasitas 9,5 juta ton LNG per tahun. Yang bikin menarik, minimal 60% gasnya bakal diprioritaskan buat kebutuhan dalam negeri, dari pupuk sampai listrik. Goal-nya jelas: bikin ketahanan energi RI makin strong sekaligus ngasih multiplier effect ke ekonomi nasional.

Blok Masela Groundbreaking Blok Masela LNG Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Presiden Prabowo

Infografis

Terkini