Harga LNG Proyek Blok Masela Masih Tahap Negosiasi: Buat Pupuk Dibidik Kisaran USD6-7 per MMBTU

Pewarta: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 17 Juli 2026 | 21:08 WIB
Harga LNG Proyek Blok Masela Masih Tahap Negosiasi: Buat Pupuk Dibidik Kisaran USD6-7 per MMBTU
Harga LNG Proyek Blok Masela Masih Tahap Negosiasi: Buat Pupuk Dibidik Kisaran USD6-7 per MMBTU [Ilustras/AI]

astakom.com, Jakarta - Mega proyek Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi di Blok Masela yang baru aja digroundbreaking oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (16/7/2026) ternyata punya nilai ekonomis yang tinggi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, ngespill Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan harga gas dari Blok Masela tetap kompetitif dan affordable buat industri lokal, terutama sektor pupuk. 

Pemerintah menargetkan harga gas untuk sektor pupuk berada di kisaran USD6-7 per MMBTU agar industri pangan nasional tetap kuat.

"Kalau untuk Pupuk, kemarin kita sudah dapat kisaran sekitar 6 sampai 7 dolar AS per MMBTU," kata Bahlil setelah menghadiri groundbreaking Proyek LNG Abadi Blok Masela, dikutip oleh astakom.com pada Jumat (17/07/2026).

Jadi sekarang pemerintah masih terus menegosiasikan harga final, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Penentuan harga ini dinilai cukup kompleks karena harus menghitung berbagai komponen biaya infrastruktur yang tidak murah. 

Masih negosiasi

Salah satunya pembangunan pipa gas bawah laut sepanjang 180 kilometer yang menghubungkan lapangan lepas pantai (offshore) ke fasilitas pengolahan LNG di darat (onshore).

"Harga gasnya masih dinegosiasikan. Kalau menggunakan pipa, panjangnya sekitar 180 kilometer. Nantinya dengan fasilitas LNG dan storage, sebagian gas akan ditarik dari laut sehingga bisa dilakukan blending," kata Bahlil.

Sedangkan untuk pasar internasional dan sektor industri umum, skema harganya akan disesuaikan secara dinamis menggunakan formulasi yang mengacu pada Indonesian Crude Price (ICP).

Kejar multiplier effect

Pemerintah menegaskan tidak mau sekadar menjual bahan mentah. Blok Masela diharapkan bisa memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, seluruh proses pengolahan diupayakan tetap berada di dalam negeri demi menekan biaya operasional sekaligus menciptakan nilai tambah.

"LNG-nya memang akan memakai formulasi ICP. Tetapi yang saya inginkan adalah proses bahan bakunya dari sini sehingga biayanya lebih rendah, sementara multiplier effect dan nilai tambahnya terjadi di Indonesia," kata Bahlil.

Jatah domestik diutamakan

Lebih lanjut Bahlil bilang kalau Blok Masela diestimasi mampu menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun dan gas pipa sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari. Tak hanya itu, produksi kondensatnya juga diperkirakan tembus hingga 35.000 barel per hari.

Dari total produksi yang melimpah tersebut, pemerintah berkomitmen untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri demi menjaga ketahanan energi dan menyokong industri nasional. Alokasi gas domestik ini nantinya akan disalurkan ke PT Pupuk Indonesia, PT Perusahaan Gas Negara (PGN), PT PLN (Persero), serta industri strategis lainnya.

Masih melihat prospek pasar ke depan

Meskipun begitu, pembagian angka ini belum fix karena pemerintah masih melihat dinamika pasar ke depan.

"Hasil gas yang kita produksi dalam perencanaannya sekitar 1.200 MMBTU. Dari jumlah itu, minimal 60 persen akan dialokasikan untuk kebutuhan domestik, sementara maksimal 40 persen bisa diekspor, sambil melihat perkembangan negosiasi ke depan," kata Bahlil. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Harga LNG Blok Masela masih dinego biar tetap worth it buat pasar domestik dan ekspor. Pemerintah ngebidik harga gas buat industri pupuk di kisaran USD6-7 per MMBTU, sambil prioritasin minimal 60% produksi buat kebutuhan dalam negeri. Goal-nya jelas: ketahanan energi makin strong dan ekonomi lokal ikut naik level.

LNG Abadi Masela LNG Groundbreaking Blok Masela Menteri ESDM Bahlil Lahadalia

Infografis

Terkini