Mencekam! Gempuran AS ke Iran Sebabkan 38 Orang Meninggal, 400 Orang Terluka

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 17 Juli 2026 | 18:02 WIB
Mencekam! Gempuran AS ke Iran Sebabkan 38 Orang Meninggal, 400 Orang Terluka
Mencekam! Gempuran AS ke Iran Sebabkan 38 Orang Meninggal, 400 Orang Terluka [Ilustrasi Gemini]

astakom.com,  Jakarta – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali pecah dan memakan korban jiwa.

Melansir dari AFP pada Jumat, (17/07/2026) bahwa Kementerian Kesehatan Iran melaporkan kalau setidaknya 38 orang tewas dan lebih dari 400 orang luka-luka sejak perang kedua negara ini pecah kembali pada 22 Juni lalu.

Korban berjatuhan

Situasi di lapangan benar-benar mengkhawatirkan. Pihak berwenang Iran membagikan data resmi mengenai para korban yang terdampak langsung oleh serangan militer ini.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, menyampaikan detail kondisi tersebut secara langsung melalui akun media sosial resminya:

"Jumlah korban luka akibat serangan AS telah melebihi 400, dan 38 warga negara telah gugur sejak 22 Juni," tutur juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour pada postingan di media sosial X, dilansir dari AFP, Jumat (17/07/2026).

"Di antara mereka ada 22 wanita yang terluka, tiga wanita yang gugur, sembilan orang yang terluka di bawah usia 18 tahun, dan satu orang yang gugur di bawah usia 18 tahun," lanjut juru bicara tersebut.

Gencatan senjata batal

Kawasan Timur Tengah saat ini balik lagi memanas dan bikin ketar-ketir global. Gencatan senjata yang sempat ditandatangani oleh pemimpin kedua negara pada bulan Juni lalu kini terancam batal total akibat aksi saling serang yang kembali terjadi.

Belakangan ini, militer AS gencar meluncurkan serangan udara ke berbagai target strategis Iran, baik di darat maupun di wilayah perairan. Washington berdalih bahwa langkah agresif ini diambil demi melemahkan kemampuan Teheran yang dianggap mengancam keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Rebutan Selat Hormuz

Selat Hormuz mendadak jadi arena perebutan kekuasaan yang sengit. Kedua negara saling klaim dan adu kekuatan untuk mengontrol jalur perairan super penting yang menjadi urat nadi pasokan minyak dan gas dunia ini.

Melihat situasi yang belum mereda, Presiden Donald Trump langsung memberikan peringatan keras. Trump menegaskan kalau AS tidak ragu untuk memperluas target serangannya ke fasilitas sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan jika Teheran menolak diajak kompromi.

Celah diplomasi

Meski tensinya lagi era saling serang, pihak Gedung Putih menyatakan kalau Donald Trump sebenarnya masih membuka pintu lebar-lebar untuk menyelesaikan konflik ini lewat jalur diplomasi.

"Presiden akan meminta pertanggungjawaban mereka ketika mereka mengingkari kata-kata yang mereka sampaikan kepada Amerika Serikat," ucap Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada sesi berbincang kepada wartawan di Gedung Putih pada Kamis (16/7/2026).

"Tetapi pada saat yang sama, beliau selalu terbuka untuk diplomasi," lanjut Leavitt pada ungkapannya.

Kemudian, Leavitt menyatakan kalau Iran sesungguhnya memiliki keinginan untuk bernegosiasi kesepakatan bersama AS.

"Mereka telah menyatakan keinginan untuk mencapai kesepakatan kepada Presiden. Kami sedang berkomunikasi dengan mereka, namun sekali lagi, Presiden tidak akan membiarkan mereka menembaki kapal-kapal di Selat tersebut tanpa menanggung konsekuensinya," jelasnya, mengacu pada gempuran di Selat Hormuz. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway 

Gencatan senjata AS-Iran resmi ambyar! Serangan udara AS di Selat Hormuz bikin Timur Tengah kembali mencekam hingga memakan ratusan korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak. Donald Trump ngasih ultimatum bakal nargetin fasilitas sipil kalau Iran gak mau kompromi, tapi di sisi lain Gedung Putih ngaku masih open buat jalur damai asalkan Iran stop ganggu jalur pelayaran minyak global.

Iran AS AS Serang Iran eskalasi timur tengah iran

Infografis

Terkini