Blok Masela Akhirnya Groundbreaking Usai Kena 'Ghosting' Tiga Dekade

Pewarta: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 16 Juli 2026 | 15:30 WIB
Blok Masela Akhirnya Groundbreaking Usai Kena 'Ghosting' Tiga Dekade
Blok Masela akhirnya resmi groundbreaking usai hampir 30 tahun tertunda. Proyek gas Rp300-355 triliun ini ditargetkan mulai produksi pada 2029-2030. [Pexe])

astakom.com, Jakarta - Proyek gas raksasa yang sudah dinanti sejak zaman Presiden BJ Habibie akhirnya resmi memulai babak baru. Blok Masela adalah lapangan gas dengan jumlah yang sangat besar di Laut Arafura, Maluku akhirnya di-groundbreaking pada hari ini, Kamis, 16 Juli 2026. 

Momen bersejarah ini diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Jakarta via sambungan video daring bersama pihak-pihak terkait yang ada di Maluku. 

Groundbreaking ini menjadi bukti nyata dimulainya konstruksi proyek mega-bintang bernilai sekitar Rp300 triliun hingga Rp355 triliun (setara 20-22 miliar dolar AS). Angka fantastis ini sukses menjadikan Blok Masela sebagai salah satu investasi hulu migas paling elite dan terbesar yang pernah digelontorkan di Indonesia.

Dana jumbo tersebut nantinya dialokasikan untuk membangun fasilitas produksi, kilang LNG di darat (onshore), serta infrastruktur pendukung seperti pelabuhan, jalan, jaringan listrik, hingga telekomunikasi di kawasan Maluku Barat Daya dan Kepulauan Tanimbar.

Plot twist 30 tahun: Dari Era Habibie sampe ganti spek

Perjalanan Blok Masela ini bener-bener punya plot twist yang panjang. Kontrak bagi hasil atau Production Sharing Contract (PSC) proyek ini pertama kali diteken pada 16 November 1998 di era Presiden BJ Habibie, dan masa kontraknya telah diperpanjang hingga tahun 2055. Uniknya, cadangan gas raksasa di Lapangan Abadi baru ditemukan pada tahun 2000, dua tahun setelah kontrak ditandatangani.

Proyek ini sempat kena hambatan waktu karena prosesnya yang dinilai lambat akibat drama perubahan skema pengembangan. Awalnya direncanakan menggunakan kilang LNG terapung di lepas pantai (offshore), lalu diubah total menjadi kilang di darat (onshore).

Belum lagi proses negosiasi ulang yang memakan waktu bertahun-tahun. Alhasil, hampir 26–30 tahun berlalu sejak kontrak ditandatangani, proyek ini belum juga memasuki tahap produksi komersial, menjadikannya salah satu proyek migas dengan masa tunggu terlama dalam sejarah industri hulu migas Indonesia.

Ganti pengelola

Setelah sempat diterpa isu kurang sedap karena Shell Upstream Overseas Services memutuskan hengkang dan melepas 35% hak partisipasinya (participating interest/PI), Blok Masela akhirnya menemukan circle baru yang solid.

Sejak Juli 2023, saham milik Shell tersebut resmi diambil alih oleh dua perusahaan raksasa. Perjanjian jual beli ini ditandatangani pada 25 Juli 2023 dan mendapat persetujuan resmi dari Menteri ESDM pada 4 Oktober 2023. 

Komposisi kepemilikan

Komposisi kepemilikan Blok Masela saat ini diisi oleh, Inpex Masela Ltd: 65 persen (sebagai operator utama). PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Masela 20 persen. Petronas Masela Sdn. Bhd: 15 persen.

Masuknya Pertamina dan Petronas sebagai mitra baru dinilai memperkuat posisi Indonesia dalam pengelolaan sumber daya migas strategis di dalam negeri. Setelah groundbreaking rampung, tahap konstruksi fisik ditargetkan mulai pada 2027, sedangkan produksi perdana atau on-stream diperkirakan baru berlangsung pada 2029 hingga 2030. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Setelah hampir 30 tahun cuma jadi bahan waiting list, Blok Masela akhirnya resmi groundbreaking bareng Presiden Prabowo. Mega proyek gas senilai Rp300-355 triliun ini siap ngebut bangun fasilitas LNG dan infrastruktur di Maluku. Next step, konstruksi dimulai 2027 dan target produksi gas perdana sekitar 2029-2030.

Groundbreaking Blok Masela Blok Masela LNG Proyek Strategis Nasional

Infografis

Terkini