Investor Australia Siap Gelontorkan Rp6,2 Triliun Buat Lengkapi Ekosistem Baterai EV Indonesia

Pewarta: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 3 Juli 2026 | 09:01 WIB
Investor Australia Siap Gelontorkan Rp6,2 Triliun Buat Lengkapi Ekosistem Baterai EV Indonesia
Investor Australia Siap Gelontorkan Rp6,2 Triliun Buat Lengkapi Ekosistem Baterai EV Indonesia(astakom/Pexels)

astakom.com, Jakarta - Ekosistem industri baterai kendaraan listrik (EV) Indonesia makin gacor. Investor asal Australia, Pure Battery Technologies (PBT), punya rencana buat menggelontorkan investasi senilai USD350 juta atau sekitar Rp6,2 triliun buat membangun fasilitas produksi precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia.

Investasi ini tentu disambut excited sama pemerintah dan ini jadi movement yang positif karena diyakini bisa memperkuat agenda hilirisasi nikel sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas strategis Indonesia.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu bilang kalau Indonesia sebenarnya punya fondasi yang kuat di industri baterai, mulai dari fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) buat mengolah bijih nikel sampe proyek manufaktur sel baterai yang segera beroperasi.

Namun, masih ada satu mata rantai penting yang belum berkembang, yakni produksi precursor Cathode Active Material (pCAM) dan material katoda.

Lengkapi ekosistem baterai 

"Indonesia sudah memiliki HPAL dan akan segera memiliki manufaktur sel baterai. Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda. Di sinilah investasi seperti Pure Battery Technologies menjadi krusial untuk melengkapi ekosistem baterai yang terintegrasi penuh," kata Todotua dalam keterangan resmi, dikutip oleh astakom.com pada Kamis, (02/07/2026).

Keberadaan pCAM sendiri punya peran vital karena merupakan bahan utama dalam pembuatan katoda, komponen yang menyumbang porsi terbesar terhadap performa sekaligus biaya produksi baterai kendaraan listrik dan rantai industri nikel.

Selama ini, sebagian besar hasil pengolahan nikel Indonesia masih berhenti pada produk antara seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) maupun nikel matte. Sementara proses lanjutan untuk menghasilkan precursor baterai bernilai tinggi masih banyak dilakukan di luar negeri.

Perkuat hilirisasi nikel

Makanya, masuknya PBT dinilai dapat mempercepat transformasi Indonesia dari sekadar eksportir bahan baku menjadi negara yang mampu menghasilkan material baterai berteknologi tinggi.

Todotua menilai pembangunan industri pCAM akan memperkuat hilirisasi nikel sekaligus menciptakan nilai ekonomi yang jauh lebih besar di dalam negeri.

Dengan hadirnya industri tersebut, Indonesia diharapkan nggak cuma menjadi pemasok nikel dunia, tetapi juga mampu mengolah sumber daya mineral hingga menjadi material strategis yang dibutuhkan industri kendaraan listrik global.

Rencana investasi PBT juga related sama strategi pemerintah yang dalam beberapa tahun terakhir yang terus ngepush pembangunan rantai pasok baterai EV secara terintegrasi, mulai dari sektor pertambangan, smelter, pengolahan kimia, precursor, katoda, sel baterai, hingga perakitan kendaraan listrik.

Rencana pendirian badan hukum PBT

Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC), Sydney Leidy Surianingrat bilang pihaknya akan terus mendampingi dan menjembatani proses realisasi investasi tersebut agar berjalan sesuai target.

Menurutnya, antara perusahaan dengan pemangku kepentingan pemerintah serta calon mitra strategis di Indonesia akan dihubungkan supaya proses proyek PBT dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kementerian terkait maupun calon mitra strategis di sektor pertambangan dan pengolahan nikel berjalan sebagaimana mestinya.

Selain pembangunan fasilitas produksi, pembahasan juga mencakup pendirian badan hukum PBT di Indonesia, pemilihan lokasi investasi, skema pembiayaan proyek, hingga peluang kolaborasi dengan pelaku industri nasional.

Berpotensi punya posisi kuat di transisi energi global

Langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu destinasi investasi yang standout di tengah kompetisi global dalam membangun industri kendaraan listrik.

Apalagi, Indonesia punya cadangan nikel terbesar di dunia yang menjadi salah satu bahan baku utama baterai EV. Keunggulan itu terus dimanfaatkan pemerintah lewat kebijakan hilirisasi supaya nilai tambah tidak lagi dinikmati negara lain.

Masuknya investasi PBT pun diharapkan menjadi katalis baru yang membuat rantai pasok baterai nasional semakin solid dari hulu ke hilir. Kalau semua mata rantai industri berhasil terbangun di dalam negeri, Indonesia punya peluang besar memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat produksi baterai kendaraan listrik dunia sekaligus menjadi pemain penting dalam transisi energi global. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Investor Australia, Pure Battery Technologies, siap invest Rp6,2 triliun buat bangun pabrik pCAM, mata rantai baterai EV yang selama ini masih missing di Indonesia. Move ini bikin ekosistem baterai nasional makin lengkap dan value tambah nikel nggak lagi lari ke luar negeri. Kalau deal terealisasi, peluang Indonesia jadi global player baterai EV makin real.

Baterai EV Industri Baterai Hirilisasi Nikel

Infografis

Terkini