Welcome 1 Muharram 1448H: Sosok Umar bin Khattab Sejarah Di balik Lahirnya Kalender Hijriah
astakom.com, Jakarta – Hingga saat ini, umat Muslim global tetap aktif menggunakan Kalender Hijriah sebagai acuan. Namun, kapankah sistem ini mulai diberlakukan secara resmi, dan seperti apa sejarah serta proses penetapannya kala itu?
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menjelaskan, penetapan Kalender Hijriah bermula dari diskusi bersama para sahabat Nabi pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab.
Menurutnya, sistem waktu ini sengaja dirancang guna menjawab tantangan administrasi pemerintahan yang perkembangannya kian pesat.
Bermula dari protes arsip tanpa tanggal
Gagasan menyusun kalender Islam resmi dikirim usai Gubernur Kufah, Abu Musa Al-Asy'ari, menyurati Umar bin Khattab terkait persoalan arsip negara. Saat itu, korespondensi dan surat keputusan pemerintah kerap tidak bertanggal, sebuah kondisi yang menyulitkan penentuan urutan pelaksanaan kebijakan di lapangan.
"Wahai Khalifah, kami menerima beberapa surat dari Anda, tetapi kami tidak tahu mana yang lebih dulu karena tidak ada tanggalnya," ucap Menag dikutip dari isi surat Abu Musa Al-Asy'ari.
Pernyataan itu dilontarkan Menag dalam peringatan Malam Tahun Baru 1 Muharram 1448 Hijriah yang menjadi bagian dari agenda "Peaceful Muharram" di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Merespons urgensi ketersediaan sistem penanggalan yang baku, Umar bin Khattab segera mengumpulkan para sahabat serta kepala daerah guna merumuskan awal mula kalender Islam. Diskusi ini berlangsung dinamis dengan munculnya berbagai gagasan dan usulan dari para tokoh yang hadir.
Mengapa kelahiran Nabi Muhammad SAW ditolak?
Dalam forum tersebut, sebagian pihak menyarankan agar kalender Islam dihitung sejak tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sementara itu, opsi lain yang turut mengajukan adalah menggunakan momen turunnya Al-Qur'an (Nuzulul Qur'an) atau peristiwa penjelajahan spiritual Isra Mikraj sebagai tonggak awal penanggalan.
Walaupun demikian, seluruh gagasan tersebut pada akhirnya ditolak. Menag menjelaskan, para sahabat mengkhawatirkan jika momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW dijadikan acuan utama kalender, hal itu berpotensi memicu pengkultusan atau pengagungan yang berlebihan terhadap sosok Rasulullah SAW.
"Rasulullah adalah utusan Allah Swt. Beliau harus dimuliakan, tetapi tidak boleh disakralkan secara berlebihan," tegas Menag.
Titik balik sejarah di Madinah
Pada akhirnya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib melontarkan gagasan untuk menjadikan momen hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah sebagai tolok ukur awal kalender Islam. Opsi inilah yang kemudian disetujui dan disepakati secara bulat oleh para sahabat yang hadir.
"Kalau begitu, saya usulkan hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah yang dijadikan sebagai titik tolak kalender Islam. Akhirnya disepakati. Maka kalender Islam kita kenal sebagai Kalender Hijriah," ucap Menag.
Ia menambahkan kalau penetapan momen hijrah sebagai permulaan penanggalan didasari oleh alasan yang kuat. Peristiwa tersebut merupakan titik balik krusial dalam sejarah Islam karena menjadi simbol berdirinya struktur masyarakat baru yang jauh lebih kokoh dan tersistem di Madinah.
Beda hitungan Hijriah dan Masehi
Dalam kesempatan tersebut, Menag menjabarkan komparasi antara sistem penanggalan Islam dan barat. Perbedaan mencolok terletak pada basis perhitungannya: Kalender Hijriah menggunakan rotasi bulan (kamariyah), sedangkan Kalender Masehi mengandalkan revolusi bumi terhadap matahari (syamsiyah). Perbedaan matematis ini mengakibatkan akumulasi waktu Kalender Hijriah menyusut sekitar 11 hari setiap tahunnya dari Kalender Masehi.
Menurut Menag, pemahaman terhadap sejarah Kalender Hijriah sangat krusial agar umat Muslim tidak sekadar terjebak dalam ritualitas tahunan saat menyambut tahun baru. Ia menekankan pentingnya meresapi esensi perjuangan, transformasi, serta semangat pembaruan yang melekat pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW.
"Karena itu, Tahun Baru Hijriah hendaknya menjadi momentum untuk meneladani semangat hijrah Rasulullah dalam membangun peradaban, memperkuat persatuan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat," tutupnya. (nAD/aRsp)
Gen Z Takeaway
Kalender Hijriah itu bukti kalau Islam sejak dulu sudah melek management system. Berawal dari keresahan pejabat daerah soal arsip surat yang berantakan tanpa tanggal (no timestamping!), Umar bin Khattab langsung gerak cepat bikin sistem penanggalan baru. Jadi, momen Tahun Baru Hijriah ini bukan cuma soal perayaan religius, tapi pengingat buat kita biar makin organized, adaptif terhadap perubahan, dan punya semangat self-improvement (hijrah) dalam membangun peradaban yang lebih tertata.







