Jelang Revalidasi UNESCO, Menpar Tinjau Langsung Tata Kelola Raja Ampat
astakom.com, Jakarta - Pemerintah mulai mematangkan langkah menghadapi revalidasi UNESCO Global Geopark (UGGp) Raja Ampat yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Evaluasi internasional tersebut menjadi penentu apakah Raja Ampat tetap mempertahankan status geopark dunia yang selama ini melekat sebagai simbol kawasan wisata berbasis konservasi dan keberlanjutan.
Dilansir dari siaran pers Kemenpar pada Rabu, (13/05/2026), Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana meninjau langsung sejumlah lokasi di Raja Ampat, Papua Barat Daya, mulai dari Geosite Piaynemo, Desa Wisata Arborek, hingga kawasan konservasi hiu di Pulau Kri.
Peninjauan dilakukan untuk memastikan kesiapan kawasan menghadapi proses evaluasi UNESCO tahun ini.
Langkah tersebut juga menjadi kelanjutan dari agenda penguatan geopark nasional yang sebelumnya pernah diberitakan astakom.com dalam laporan sebelumnya, Menpar Widiyanti menegaskan pengembangan geopark sejalan dengan arah pembangunan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan dalam RPJMN 2025–2029.
Pemerintah bahkan menargetkan Indonesia memiliki 17 UNESCO Global Geopark pada 2029 untuk memperkuat daya saing pariwisata nasional di tingkat global.
Revalidasi jadi fokus
UNESCO melakukan revalidasi secara berkala untuk menilai konsistensi pengelolaan kawasan geopark, mulai dari konservasi, edukasi, hingga dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Raja Ampat sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan laut dengan biodiversitas tertinggi di dunia sekaligus destinasi unggulan wisata alam Indonesia.
Saat meninjau Geosite Piaynemo, kemarin (12/5/2026), Menpar kembali menegaskan bahwa status geopark dunia bukan hanya simbol pengakuan internasional semata.
“Status geopark dunia harus dijaga melalui tata kelola yang kuat, konservasi yang nyata, dan pelibatan masyarakat lokal,” kata Menpar Widiyanti.
Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan wisata dan perlindungan lingkungan agar manfaat ekonomi dapat terus dirasakan masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian alam.
Desa wisata disorot
Dalam kunjungan tersebut, Menpar juga mendatangi Desa Wisata Arborek yang sebelumnya meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Desa ini dinilai menjadi contoh pengembangan ekowisata berbasis masyarakat yang mampu berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan ekosistem laut.
“Desa Arborek adalah bukti nyata bahwa ekowisata bukan hanya konsep di atas kertas. Di sini kita melihat bagaimana masyarakat mampu berdaya secara ekonomi tanpa mengabaikan warisan leluhur dan kelestarian laut. Keberhasilan Arborek harus menjadi inspirasi bagi desa-desa wisata lain di Indonesia,” kata Menpar.
Konsep wisata berbasis komunitas seperti Arborek kini juga menjadi perhatian dalam pengembangan destinasi global, terutama ketika wisatawan mulai mencari pengalaman yang lebih autentik dan berkelanjutan.
Konservasi terus dijaga
Rangkaian kunjungan kerja Menpar ditutup di Pulau Kri, Distrik Meos Mansar, dengan meninjau program konservasi hiu di Sorido Bay Resort. Dalam kesempatan tersebut, Menpar memberikan nama “Putri” kepada salah satu telur hiu zebra yang sedang dalam masa inkubasi.
Pemberian nama itu disebut sebagai simbol harapan terhadap keberlanjutan ekosistem laut Raja Ampat sekaligus pengingat pentingnya konservasi untuk generasi mendatang.
“Tugas kita bersama untuk Raja Ampat adalah memastikan keindahan ini tetap hidup, lestari, dan memberi manfaat bagi generasi hari ini maupun masa depan,” kata Menpar. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Raja Ampat kali ini bukan cuma soal destinasi estetik yang sering lewat di FYP. Ada proses besar yang menentukan apakah kawasan ini tetap diakui dunia lewat standar UNESCO. Dari konservasi laut sampai keterlibatan warga lokal, semuanya jadi penilaian penting supaya wisata di Raja Ampat tetap keren tanpa kehilangan alam dan identitas aslinya.













