ASEAN dan Uni Eropa Bersatu: Perkuat Kerja Sama Hadapi Krisis Energi Global!

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Sabtu, 9 Mei 2026 | 10:25 WIB
ASEAN dan Uni Eropa Bersatu: Perkuat Kerja Sama Hadapi Krisis Energi Global!
ASEAN dan Uni Eropa Bersatu: Perkuat Kerjasma Hadapi Krisis Energi Global! (Kemlu RI)

astakom.com, Jakarta - ​Di tengah ancaman krisis energi dan gangguan rantai pasokan global, para pemimpin ASEAN dan Uni Eropa sepakat mempererat kerja sama regional pada Kamis lalu (07/05/2026).

Dalam pertemuan tersebut, ASEAN-Uni Eropa menekankan langkah konkret dalam mengatasi kemiskinan, mempercepat transisi energi, serta menjaga stabilitas ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

Sinergi kawasan di tengah ketidakpastian global

Pertemuan perdana KTT Keberlanjutan ASEAN-UE di Cebu tahun 2026 menjadi momentum bagi pemerintah dan pemimpin bisnis untuk menekankan pentingnya sinergi kawasan.

Mereka sepakat kalau aspek keberlanjutan harus menjadi inti dalam membangun ketahanan ekonomi dan daya saing global. Sebanyak 200 lebih delegasi yang terdiri dari pejabat pemerintah, diplomat, dan pemimpin industri lintas kawasan berkumpul dalam rangkaian KTT Pemimpin ASEAN.

Fokus diskusi mereka berpusat pada langkah-langkah nyata untuk memperkuat kerja sama di sektor iklim, perdagangan, hingga pembangunan rantai pasok dan ketahanan pangan yang lebih tangguh.

Target perdagangan bebas Filipina-UE 2026

Dalam pernyataannya, Menteri Keuangan Frederick Go menggarisbawahi peran krusial dari kolaborasi ekonomi yang lebih erat antara Filipina dan Uni Eropa untuk mendukung pertumbuhan kawasan.

"Eropa dan Filipina memiliki kemitraan yang stabil dan terus berkembang, yang dibangun di atas perdagangan, investasi, dan kerja sama pembangunan,” ucap Go pada pidato utamanya dilansir dari Philippine News Agency pada Sabtu, (09/05/2026).

“Saat ini, fokusnya juga pada kekeringan, iklim, dan pertumbuhan inklusif, dan kami tetap berkomitmen untuk memperdalam kolaborasi kami dengan Uni Eropa dan memajukan prioritas bersama kami.” sambungnya.

Menyoroti pentingnya kerja sama tersebut, Go menyebutkan kalau kesepakatan perdagangan bebas dengan Uni Eropa akan menjadi tonggak ekonomi terpenting bagi Manila di tahun ini. Ia optimistis perjanjian tersebut dapat ditandatangani secara resmi pada kuartal ketiga 2026.

Situasi dunia yang penuh tantangan

Paulo Duarte, Presiden ECCP, menilai pelaksanaan KTT ini sangat tepat waktu di tengah situasi dunia yang penuh tantangan.Menurutnya, ketidakpastian global saat ini dipicu oleh volatilitas sektor energi, gangguan logistik, serta beban biaya yang terus meningkat.

"Di tengah global yang ditandai dengan volatilitas energi, gangguan rantai pasokan, dan kenaikan biaya, KTT ini adalah waktu yang sangat tepat,” ucap Paulo Duarte, Presiden Kamar Dagang Eropa di Filipina (ECCP) dan anggota dewan eksekutif Dewan Bisnis Uni Eropa-ASEAN.

"Hal ini mencerminkan pengakuan bersama di seluruh wilayah bahwa keinginan bukan lagi pilihan. Ini merupakan hal yang sangat penting bagi ketahanan ekonomi, daya saing, dan pertumbuhan jangka panjang,” imbuh Duarte.

Sinkronisasi ambisi hijau dan pendanaan riil

Massimo Santoro, Duta Besar Uni Eropa untuk Filipina, menekankan bahwa komitmen terhadap isu iklim tidak akan maksimal tanpa sokongan pendanaan yang cukup dan sistem pelaksanaan yang tepat.

Ia mendesak agar ambisi hijau tersebut sejalan dengan langkah-langkah praktis di lapangan.

"Meskipun kita memiliki ambisi besar dalam menetapkan target aksi iklim dan lingkungan, kita tidak selalu menyinkronkan sumber daya finansial yang dibutuhkan untuk mewujudkan ambisi tersebut," lanjut Santoro.

"Memperkuat hubungan antara ambisi dan pendanaan sangat penting untuk mengubah kebijakan menjadi dampak nyata di lapangan," tuturnya.

Selain itu, Santoro menggarisbawahi pentingnya integrasi antarwilayah dalam menyusun strategi keberlanjutan agar kawasan mampu menghadapi berbagai tantangan dengan lebih tangguh.

"Tidak boleh ada sekat antara kerja sama perdagangan, iklim, dan pengurangan risiko bencana karena semuanya saling berkaitan," tuturnya.

Menurut pandangannya, krisis energi yang terjadi justru menjadi peluang besar untuk mendorong integrasi kebijakan, khususnya dalam memacu transisi ke energi bersih dan membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh.

Integrasi Keberlanjutan dalam Pembangunan ASEAN

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia, Leonardo Teguh Sambodo, menyatakan kalau pemerintah di negara-negara ASEAN perlu menyelaraskan target pertumbuhan ekonomi dengan upaya pemangkasan emisi.

Menurutnya, keseimbangan ini sangat krusial demi menjaga keberlanjutan kawasan dalam jangka panjang.

"Satu-satunya jalan yang layak ke depan adalah perencanaan yang kohesif yang mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam setiap aspek pembangunan," paparnya. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

​Dunia lagi nggak stabil karena krisis energi dan perubahan iklim, tapi kabar baiknya, ASEAN dan Uni Eropa mutusin buat "collab" besar-besaran! Intinya, mereka nggak cuma bahas teori, tapi fokus ke langkah nyata kayak perdagangan bebas dan pendanaan proyek hijau. Buat kita, ini sinyal kuat kalau ekonomi masa depan bakal lebih fokus ke keberlanjutan (sustainability) daripada sekadar profit, biar bumi tetap aman dan ekonomi tetap stabil pas kita nanti megang kendali

KTT ASEAN Filipina Uni Eropa (UE) Asia Tenggara

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB