Klaim 'Patahan Raksasa' di Sulawesi Viral, BMKG Ungkap Bukan Temuan Baru
astakom.com, Jakarta — Klaim soal adanya “patahan raksasa” di bawah laut Sulawesi yang disebut berpotensi memicu tsunami besar ramai beredar di media sosial dalam beberapa waktu terakhir. Informasi ini memicu kekhawatiran publik, terutama karena dikaitkan dengan risiko gempa dan tsunami di kawasan tersebut.
Sejumlah pemberitaan sebelumnya memang mengangkat hasil riset tentang struktur bawah laut di sekitar Sulawesi. Namun dalam peredarannya, informasi itu kerap disederhanakan dan ditarik menjadi kesimpulan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan isi penelitian, sehingga terkesan sebagai penemuan ancaman baru.
Menanggapi hal tersebut, BMKG memberikan klarifikasi bahwa riset yang dimaksud bukanlah penemuan patahan baru, melainkan kajian lanjutan terhadap sistem sesar yang telah lama dikenal dalam studi geologi.
BMKG luruskan isu patahan baru
BMKG menegaskan bahwa narasi yang berkembang di masyarakat telah keluar dari konteks penelitian aslinya.
“Penelitian tersebut tidak membahas tentang penemuan sesar baru, melainkan Sesar Palu-Koro yang memanjang ke laut dengan variasi ketebalan.”
Sesar yang dimaksud adalah Sesar Palu-Koro, yang selama ini telah dikenal sebagai salah satu struktur geologi aktif di Sulawesi.
Identitas peneliti dan riset dikoreksi
BMKG juga meluruskan informasi terkait peneliti yang disebut dalam narasi.
“Referensi yang digunakan dari Tang Tingwei dari Institute of Geology and Geophysics di Chinese Academy of Science. Bisa dikoreksi adalah Yang Tingwei, dkk. (2026) yang berjudul Offshore crustal thickness variation along the Palu-Koro Strike-slip fault in the Sulawesi region from OBS receiver function analysis.” jelas BKG dikutip Minggu, (03/05/2026).
Penelitian tersebut mengkaji variasi ketebalan kerak bumi di wilayah Sulawesi, termasuk perbedaan karakteristik antara wilayah laut dan daratan.
Temuan fokus pada struktur bawah permukaan
Dalam kajian tersebut, peneliti menemukan sejumlah karakteristik geofisika yang menggambarkan kondisi bawah permukaan di sepanjang jalur sesar.
Dilansir dari BMKG pada Minggu, (03/05/2026) penelitian juga mengungkapkan rasio Vp/Vs yang tinggi di wilayah lepas pantai, yang mencerminkan keberadaan sedimen jenuh air atau komposisi mafik, serta ditemukannya zona kecepatan rendah (low-velocity zone) di sepanjang jalur sesar.
Temuan tersebut menggambarkan kondisi material dan struktur kerak bumi di wilayah tersebut, serta memperkuat pemahaman ilmiah mengenai sistem Sesar Palu-Koro.
Jadi bahan evaluasi risiko bencana
BMKG juga menjelaskan bahwa sesar tersebut memiliki peran penting dalam dinamika tektonik kawasan.
“Sesar Palu-Koro diidentifikasi sebagai batas struktural utama yang memisahkan dua blok kerak yang berbeda secara kontras dan berperan penting dalam mengakomodasi deformasi lateral maupun vertikal akibat interaksi kompleks lempeng tektonik regional.” jelas BMKG.
Kajian ini turut membantu menjelaskan dinamika kejadian seperti Gempa Palu 2018, sekaligus menjadi dasar dalam penyusunan analisis risiko gempa di masa mendatang. (deA/aNs)













