Efek Domino Isu Blokade Total Selat Hormuz: Seketika Selat Malaka Jadi Alternatif Komoditas Global

Editor: AR Purba
Sabtu, 25 April 2026 | 12:02 WIB
Efek Domino Isu Blokade Total Selat Hormuz: Seketika Selat Malaka Jadi Alternatif Komoditas Global
Peta selat hormuz dan selat Malaka. (Kolase foto: ist/astakom.com)

astakom.com, Jakarta – Seiring dengan gagalnya perpanjangan gencatan senjata Amerika-Iran yang di mediasi Pakistan dan beberapa negara Teluk. Eskalasi Timur Tengah kembali ‘menyala’ hingga memicu ketegangan geopolitik global.

Kemarin pagi Jumat (24/04/2026), Iran kembali mengumumkan blokade ketat pada Selat Hormuz yang menjadi teritori kawasan perairan mereka. 

Entah bagaiman awal mulanya, isu peristiwa blokade Selat Hormuz total oleh Iran dan Amerika seketika memicu perbincangan publik dunia yang menyoroti Selat Malaka sebagai jalur strategis perdagangan terbesar di kawasan perairan Asia.

Situasi ini lantas memicu respon pemimpin dunia dan negara kawasan Asia termasuk Indonesia hingga pakar maritim mengeluarkan pernyataan hingga peringatan keras mengenai potensi gangguan sistemik pada beberapa jalur alternatif perdagangan global, diantaranya Selat Malaka

​Eskalasi militer di Hormuz 

Laporan terbaru yang dikutip dari Reuters dan BBC hari ini (25/04/2026) waktu Indonesia mengonfirmasi, sejak berakhirnya gencatan senjata pada 22 April lalu, ketegangan militer antara Iran dan koalisi pimpinan AS telah menyebabkan blokade total Selat Hormuz.

Pada laporan lainya dari laman pemberitaan media internasional, kembali dilaporkan keberadaan kapal-kapal tanker yang tertahan di perairan Persia itu hingga berpotensi menyebabkan distribusi sekitar 21 juta barel minyak dunia tertahan/ terhambat pasokanya.

Analisis dari Lloyd’s List Intelligence yang berpusat di Hongkong, dalam laporanya  kemarin (24/04/2026) mengungkapkan

​"Dunia sedang menyaksikan penghentian aliran energi terbesar dalam sejarah modern. Jika Hormuz tetap tertutup selama tujuh hari ke depan, stok minyak di Asia Timur akan masuk ke zona merah."

Perlu diketahui, Lloyd’s List Intelligence adalah lembaga yang selama ini dikenal sebagai penyedia data dan analisis intelejen maritim dunia.

​Antrean Selat Malaka dan risiko keamanan

​Kebuntuan di selat Hormuz, memicu spekulasi beban logistik global yang akan bergeser drastis dari negara-negara kawasan  Selat Malaka, yang meliputi ASEAN, Laut China dan sebagian perairan kawasan Asia Timur.

Masih berdasarkan laporan Lloyd’s List Intelligence, sebagai 'pintu gerbang' energi menuju Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan, kepadatan di Selat Malaka sudah mulai meningkat hingga 15% dalam 48 jam terakhir.

Indonesia setia pada UNCLOS

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono menyatakan kalau Indonesia gak akan mengenakan tarif pada kapal yang melewati Selat Malaka, hal ini menjawab spekulasi perbincangan publik terkait rencana  penerapan biaya melintas jalur perdagangan paling strategis di Asia.

Menlu Sugiono menyatakan kalau kebijakan tersebut bertentangan dengan komitmen Indonesia dalam hukum maritim internasional, terutama Konvensi Hukum Laut PBB atau UNCLOS.

Ia menekankan kalau Indonesia mengakui prinsip kebebasan navigasi sebagai bagian dari komitmen global untuk menjaga rute perdagangan internasional tetap terbuka.

Menlu Sugiono menegaskan Indonesia tidak dalam posisi untuk menerapkan tarif tersebut. (aRsp)

Gen Z Takeaway

Geopolitik lagi memanas parah! Blokade Selat Hormuz bikin pasokan 21 juta barel minyak dunia stuck, efeknya Selat Malaka langsung kena spillover kepadatan hingga 15%. Di tengah isu tarif melintas yang bikin heboh, Indonesia tetap lowkey tapi tegas buat stick to the rules (UNCLOS), mastiin navigasi tetap aman tanpa biaya tambahan demi stabilitas ekonomi global yang lagi di fase red flag.

selat hormuz Selat Malaka laut cina selatan Komoditas global Transportasi laut eskalasi timur tengah Menlu Sugiono

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB