Riset Ilmiah: Siklus Iklim 'Badai Matahari' Bisa Picu Gangguan Kesehatan Berikut ini
astakom.com, Jakarta - Aktivitas Matahari yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir kembali menyoroti fenomena badai matahari atau solar storm. Selain berdampak pada teknologi seperti satelit dan komunikasi, sejumlah penelitian internasional mulai mengaitkannya dengan kondisi kesehatan manusia yang kerap disebut sebagai “penyakit iklim”.
Lembaga seperti NASA menjelaskan bahwa badai matahari terjadi saat Matahari melepaskan energi besar berupa radiasi dan partikel bermuatan. Ketika mencapai Bumi, energi ini memicu gangguan medan magnet yang dikenal sebagai badai geomagnetik.
Pemantauan fenomena ini dilakukan secara global oleh NOAA melalui Space Weather Prediction Center. Dalam fase aktif siklus Matahari, badai dapat terjadi berulang dalam hitungan jam hingga hari.
Apa itu badai matahari dan kapan terjadi
Badai matahari merupakan gangguan pada magnetosfer Bumi akibat interaksi dengan partikel dari Matahari, terutama dari fenomena coronal mass ejection (CME). Intensitasnya meningkat saat Matahari memasuki fase maksimum dalam siklus 11 tahunan.
Dalam periode ini, badai geomagnetik bisa terjadi lebih sering dan berdampak pada sistem navigasi, komunikasi radio, hingga jaringan satelit di berbagai belahan dunia.
Risiko kesehatan mulai diteliti
Sejumlah studi internasional menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas geomagnetik dengan kondisi kesehatan tertentu, terutama pada sistem kardiovaskular.
Penelitian dalam jurnal kesehatan mencatat bahwa peningkatan aktivitas Matahari berkaitan dengan naiknya risiko gangguan jantung, termasuk tekanan darah tidak stabil hingga serangan jantung.
Selain itu, ditemukan pula kaitan dengan peningkatan kematian akibat penyakit jantung dan pernapasan.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hubungan ini masih bersifat korelatif dan belum menjadi kesimpulan ilmiah final.
Penyakit jantung dan stroke paling disorot
Sejumlah laporan media kesehatan internasional mengangkat temuan bahwa badai matahari dapat menjadi faktor pemicu serangan jantung.
Salah satu studi yang dilansir media luar negeri menyebut adanya peningkatan kasus serangan jantung saat aktivitas Matahari tinggi, terutama pada kelompok usia tertentu dan individu dengan kondisi kesehatan sebelumnya.
Selain itu, badai geomagnetik juga dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke serta gangguan pembuluh darah lainnya, meski skalanya relatif kecil.
Gangguan saraf hingga pernapasan ikut terdampak
Tidak hanya jantung, badai matahari juga dikaitkan dengan gangguan neurologis dan pernapasan.
Beberapa penelitian menemukan hubungan dengan gejala seperti sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, hingga penurunan konsentrasi. Aktivitas Matahari yang tinggi juga disebut dapat memperburuk kondisi pernapasan pada individu yang sudah memiliki penyakit paru.
Kelompok yang sensitif terhadap perubahan lingkungan atau weather-sensitive disebut lebih rentan mengalami gejala-gejala ini.
Tidak langsung menyebabkan penyakit
Di sisi lain, NASA menegaskan bahwa badai matahari tidak secara langsung membahayakan manusia di permukaan Bumi. Atmosfer dan medan magnet Bumi masih menjadi pelindung utama dari radiasi berbahaya.
Karena itu, dampak kesehatan yang muncul lebih tepat disebut sebagai efek tidak langsung atau faktor pemicu tambahan terhadap kondisi yang sudah ada.













