Puasa Syawal Usai Lebaran, Ini Keutamaan, Prioritas Qadha, dan Penjelasan Lengkapnya!
astakom.com, Jakarta - Pasca Idulfitri, pembahasan soal Puasa Syawal kembali ramai di berbagai media nasional. Mulai dari niat, tata cara, hingga perdebatan soal prioritas antara puasa qadha Ramadan dan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal jadi topik yang paling banyak dicari.
Sejumlah media menyoroti bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami aturan dasar Puasa Syawal, terutama terkait hukum pelaksanaannya dan kapan waktu terbaik untuk memulainya.
Di sisi lain, keutamaan Puasa Syawal yang disebut memiliki pahala setara puasa satu tahun penuh membuat ibadah ini semakin diminati, khususnya oleh umat Muslim yang ingin menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan.
Prioritas Qadha jadi sorotan
Perdebatan utama yang muncul adalah soal mana yang harus didahulukan: puasa qadha atau Puasa Syawal. Dalam berbagai kajian yang dilansir media nasional, para ulama sepakat bahwa puasa qadha memiliki status wajib.
Mengutip penjelasan dari para ahli fikih yang juga dirujuk dalam publikasi internasional seperti Islamic Relief, disebutkan
“Missed fasts from Ramadan must be made up before voluntary fasts.”
Artinya, utang puasa Ramadan tetap menjadi prioritas utama sebelum menjalankan ibadah sunnah seperti Puasa Syawal.
Keutamaan puasa syawal setara setahun
Keutamaan Puasa Syawal didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang juga banyak dikutip media, termasuk sumber internasional seperti Sahih Muslim:
“Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian diikuti enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun.”
Konsep ini berkaitan dengan pahala yang dilipatgandakan, di mana satu kebaikan dihitung sepuluh kali lipat, sehingga totalnya setara satu tahun penuh.
Bacaan niat puasa syawal dan waktu pelaksanaannya
Dilansir dari laman Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) pada Selasa, (31/3/2026), niat puasa Syawal menjadi bagian penting yang perlu dipahami sebelum menjalankan ibadah ini. Sebagai puasa sunnah, niat dapat diucapkan secara lisan maupun cukup di dalam hati, namun mayoritas ulama menganjurkan untuk melafalkannya sebagai bentuk kesungguhan.
Adapun bacaan niat puasa Syawal adalah sebagai berikut:
“Nawaitu shauma ghadin 'an sittatin min Syawwaal sunnatan lillaahi ta'aala.” Artinya: Saya niat puasa besok dari enam hari di bulan Syawal, sunnah karena Allah Ta'ala.
Baznas juga menjelaskan bahwa waktu melafalkan niat dimulai sejak setelah maghrib hingga sebelum tergelincirnya matahari (zuhur), selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Hal ini berbeda dengan puasa wajib Ramadan yang harus diniatkan pada malam hari. Selain itu, para ulama sepakat bahwa pelaksanaan puasa Syawal tidak harus berurutan, selama masih dalam bulan Syawal.
Tata cara dan waktu pelaksanaan
Secara praktik, Puasa Syawal dilakukan selama enam hari di bulan Syawal, dan tidak harus berurutan. Namun, banyak ulama menganjurkan untuk melaksanakannya segera setelah Idulfitri.
Merujuk pada penjelasan platform keislaman global seperti Islamic Finder:
“The six days of Shawwal can be observed consecutively or separately throughout the month.”
Fleksibilitas ini menjadi kemudahan bagi umat Muslim untuk tetap menjalankan ibadah di tengah aktivitas sehari-hari.
Apa itu Puasa Syawal?
Puasa Syawal adalah puasa sunnah yang dilakukan selama enam hari di bulan Syawal, yaitu bulan setelah Ramadan dalam kalender Hijriah. Ibadah ini menjadi salah satu amalan yang dianjurkan karena dinilai sebagai bentuk penyempurna dari ibadah puasa Ramadan.
Selain itu, Puasa Syawal juga dianggap sebagai indikator konsistensi ibadah seseorang setelah melewati bulan Ramadan, sekaligus menjadi momentum untuk menjaga kebiasaan baik yang sudah terbentuk.













