Apa itu Varian BA.3.2 'Cicada': Sudah Terdeteksi Global, Ini yang Perlu Kamu Tahu
astakom.com, Jakarta – Varian baru COVID-19 dengan kode BA.3.2 yang dijuluki “Cicada” mulai ramai dibahas setelah terdeteksi di puluhan negara dan masuk dalam pemantauan global.
Meski belum dikategorikan berbahaya, varian ini tetap jadi perhatian karena memiliki sejumlah mutasi yang berpotensi memengaruhi penyebaran virus.
Sudah terdeteksi di banyak negara
Dilansir dari New York Post pada Selasa, (31/3/2026), varian “Cicada” dilaporkan telah ditemukan di berbagai negara dan menunjukkan tren penyebaran di sejumlah wilayah.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa varian ini memiliki banyak mutasi pada spike protein, yang diduga dapat meningkatkan kemampuan penularan.
Sementara itu, dikutip dari Times of India, keberadaan varian ini juga terdeteksi melalui pemantauan air limbah, yang menjadi salah satu indikator penyebaran di tingkat komunitas.
Indonesia mulai diminta waspada
Di Indonesia, isu ini juga mulai disorot. Dilansir dari Media Indonesia, para pakar kesehatan mengingatkan pentingnya memperkuat sistem surveilans.
“Indonesia perlu memperkuat surveilans untuk memantau kemungkinan masuknya varian baru,” demikian imbauan dalam laporan tersebut.
Langkah ini dinilai penting agar potensi penyebaran bisa terdeteksi lebih cepat.
Gejalanya mirip, tapi ada yang beda
Dilansir dari Times of India, gejala varian “Cicada” umumnya masih serupa dengan COVID-19 sebelumnya, seperti demam, batuk, kelelahan, dan sakit kepala.
Namun, beberapa laporan menyebutkan adanya sakit tenggorokan yang terasa lebih dominan pada sebagian kasus.
Meski begitu, hingga saat ini belum ada bukti bahwa varian ini menyebabkan kondisi yang lebih parah.
Statusnya masih dipantau global
Varian BA.3.2 saat ini masuk kategori Variant Under Monitoring (VUM) oleh WHO, yaitu varian yang sedang diamati karena memiliki mutasi tertentu, tetapi belum dianggap sebagai ancaman serius.













