Alek Nagari 2026 Resmi Digelar, Yota Balad: Panggungnya Gen Z Unjuk Budaya
astakom.com, Jakarta - Wali Kota Pariaman, Yota Balad, resmi membuka Festival Indang dan Alek Nagari Tahun 2026 di Desa Koto Marapak, Kecamatan Pariaman Timur, Kamis, 26 Maret 2026.
Event ini bukan sekadar agenda tahunan biasa, tapi jadi momen penting buat “menghidupkan lagi” budaya lokal di tengah gempuran tren global dan dunia digital. Di saat Gen Z makin dekat sama budaya luar, Alek Nagari hadir sebagai ruang buat balik kenal dan bangga sama akar sendiri.
Yota Balad menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, melainkan upaya nyata menjaga budaya Minangkabau tetap relevan.
"Kegiatan ini sangat baik dilaksanakan, karena kita tidak ingin seni budaya ini hanya menjadi catatan sejarah. Festival ini adalah panggung bagi generasi milenial dan Gen Z untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pewaris sah kekayaan budaya Pariaman," kata Yota Balad dikutip dari media pada Jumat, (27/3/2026).
Festival budaya jadi ruang Gen Z reconnect ke akar tradisi
Alek Nagari bukan cuma soal hiburan atau seremonial. Lebih dari itu, event ini jadi “ruang hidup” bagi generasi muda untuk tetap dekat dengan tradisi mulai dari musik, seni pertunjukan, sampai nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun.
Di tengah derasnya arus teknologi dan budaya luar, masyarakat ingin anak muda tetap bangga memegang rebana, fasih membawakan dendang indang, dan tetap menjunjung adat Sandi Syarak, Syarak Sandi Kitabullah.
Budaya Pariaman naik level jadi daya tarik wisata
Selama ini, Kota Pariaman dikenal sebagai salah satu daerah dengan kekayaan budaya Minangkabau yang kuat. Tradisi seperti indang dan tambua tasa bukan cuma warisan, tapi juga punya potensi besar sebagai daya tarik wisata.
Pemerintah Kota Pariaman pun mendorong budaya sebagai motor ekonomi di mana event seperti Alek Nagari bisa menarik wisatawan, menggerakkan UMKM, hingga membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat lokal.
"Hari ini, kita kembali menghidupkan marwah tersebut melalui Festival Indang dan Alek Nagari. Kepada seluruh peserta festival, tampilkanlah kemampuan terbaik kalian dengan semangat sportivitas dan kegembiraan. Kepada seluruh masyarakat, mari kita menjadi tuan rumah yang ramah dan menjaga kebersihan serta ketertiban selama acara berlangsung," harapnya.
6 hari penuh tradisi, dari tambua tasa sampai indang tiap malam
Sementara itu, Pj Kepala Desa Koto Marapak, Ahmad Hadi Fachrudin, menyebut Alek Nagari berlangsung selama enam hari dengan berbagai perlombaan tradisional yang terbuka untuk umum.
Mulai dari lomba cabur, tambua tasa, hingga pertunjukan indang setiap malam yang diikuti peserta dari kota maupun kabupaten semuanya jadi bukti kalau tradisi masih hidup dan terus dijaga.
"Festival ini bukan sekadar acara hura-hura, melainkan bukti nyata bahwa pepatah "Saciok bak ayam, sadantiak bak basi" masih hidup kuat di desa kita. Adapun perlombaan yang kita gelar pada alek nagari ini adalah lomba cabur, lomba tambua tasa tradisi dan setiap malamnya akan kita tampilkan indang dari peserta baik dari kota maupun kabupaten," ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa esensi utama dari kegiatan ini bukan soal menang atau kalah, tapi bagaimana menjaga warisan budaya tetap hidup.
"Kepada Pemerintah Kota Pariaman, kami mengucapkan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan dan kepada para peserta, selamat berlomba. Ingatlah bahwa kemenangan utama adalah kemampuan kita menjaga warisan budaya ini agar tidak hilang ditelan zaman," tutupnya.













