Indonesia Siap Sambut Era 6G, BRIN Kembangkan Antena Mini untuk Internet Super Ngebut
astakom.com, Jakarta - Indonesia mulai menyiapkan fondasi teknologi internet generasi berikutnya. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan teknologi antena yang dirancang untuk mendukung jaringan 6G, generasi komunikasi yang diprediksi jauh lebih cepat dari 5G.
Riset ini berfokus pada pembuatan antena mikrostrip berukuran sangat kecil yang nantinya dapat ditanam langsung di perangkat seperti ponsel, perangkat IoT, hingga berbagai perangkat pintar lainnya.
Tak hanya itu, para peneliti juga mengembangkan antena satelit berbasis phased array yang memungkinkan sinyal diarahkan secara elektronik, sehingga komunikasi dengan satelit orbit rendah bisa tetap stabil tanpa perlu menggerakkan antena secara fisik.
Antena super mini jadi Kunci perangkat 6G
Peneliti dari Pusat Riset Telekomunikasi BRIN, Yohanes Galih Adhiyoga, menjelaskan bahwa ukuran antena menjadi tantangan utama dalam pengembangan perangkat komunikasi generasi berikutnya.
"Kita tidak mungkin memiliki antena yang dimensinya melebihi ukuran telepon seluler itu sendiri. Oleh karena itu, antena harus dirancang sekecil mungkin agar dapat ditempatkan di dalam perangkat," ujar Yohanes dikutip dari media pada Kamis, (11/3/2026).
Karena itu, tim peneliti mengembangkan antena mikrostrip single layer dan multilayer yang memiliki struktur tipis, ringan, dan mudah diintegrasikan dengan rangkaian elektronik.
Teknologi ini diuji pada frekuensi tinggi hingga 110 GHz, yang termasuk dalam spektrum gelombang milimeter (millimeter wave) spektrum yang diprediksi menjadi fondasi komunikasi 6G.
Antena Phased Array untuk komunikasi satelit orbit rendah
Selain antena untuk perangkat seluler, BRIN juga mengembangkan sistem antena satellite communication (SATCOM) berbasis phased array.
Teknologi ini memungkinkan arah pancaran sinyal dikendalikan secara elektronik tanpa perlu memutar antena secara mekanis.
"Antena secara fisik tetap diam, namun dari sudut pandang elektromagnetik, arah pancaran sinyalnya dapat bergerak. Hal ini penting karena satelit orbit rendah memiliki pergerakan yang cepat, sehingga antena juga harus mampu mengikuti pergerakan satelit tersebut," kata Yohanes.
Sistem ini dinilai penting untuk mendukung konektivitas berbasis satelit orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO) yang kini mulai banyak digunakan untuk layanan internet global.
Didukung laboratorium telekomunikasi berteknologi tinggi
Riset antena 6G di BRIN juga didukung berbagai fasilitas laboratorium canggih, seperti Communication and Signal Processing Laboratory, RF Microwave Acoustic and Photonic Laboratory, hingga Antenna and Propagation Laboratory.
Selain itu, tersedia juga near-field anechoic chamber untuk pengujian antena secara presisi serta network analyzer hingga 110 GHz guna memastikan performa antena pada frekuensi tinggi.
Fasilitas tersebut memungkinkan penelitian dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahap simulasi desain, optimasi performa, hingga pembuatan prototipe antena.
Dunia mulai berlomba mengembangkan 6G
Secara global, teknologi 6G masih dalam tahap riset dan pengembangan. Generasi jaringan ini diproyeksikan mampu menghadirkan kecepatan hingga sekitar 100 Gbps, jauh melampaui jaringan 5G yang saat ini masih terus diperluas.
Sejumlah negara seperti China, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang telah memulai berbagai program riset 6G yang ditargetkan mulai hadir secara komersial sekitar 2030.
Melalui riset ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional berupaya memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi masa depan, tetapi juga ikut berperan dalam pengembangannya.













