Terjadi Lagi Kekerasan di Dunia Pendidikan: Mahasiswa Undip Disiksa 30 Rekan Kampus, Dugaan Pelecehan Seksual?
astakom.com, Jakarta – Kasus dugaan pengeroyokan terhadap mahasiswa Program Studi Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip) kembali menjadi sorotan. Korban berinisial A (20) diduga mengalami penyiksaan oleh sekitar 30 mahasiswa satu jurusan pada 15 November 2025.
Peristiwa ini kembali ramai setelah video kondisi korban babak belur viral di media sosial, Rabu (4/3/2026). Video tersebut diunggah akun Instagram @zainalpetir_, memicu gelombang reaksi publik.
Kuasa hukum korban, Zainal, membeberkan kronologi lengkap kejadian yang disebut berlangsung sejak malam hingga menjelang Subuh.
Diajak bahas event, berujung tuduhan pelecehan
Menurut Zainal, peristiwa bermula ketika korban diajak teman satu angkatan bernama Adyan untuk datang ke sebuah kamar kos dengan alasan membahas event collective atau acara musik kampus.
“Pukul 22.03 WIB korban berangkat menuju tempat yang sebelumnya sudah disepakati. Namun setelah sampai di sana, korban melihat banyak orang di halaman kos tersebut,” jelas Zainal dikutip dari medai pada Rabu, (4/3/2026).
Alih-alih membahas acara, korban justru didesak untuk mengakui tuduhan pelecehan terhadap seorang mahasiswi Undip. Korban menolak tuduhan tersebut.
Zainal menyebut, peristiwa yang dipersoalkan sebenarnya hanya candaan menarik tangan mahasiswi tersebut untuk mengajaknya makan bersama tim sukses pemilihan ketua himpunan.
“Saat itu korban bercanda dengan menarik tangan (mahasiswi) dengan tujuan mengajak dia menuju ke warung makan dalam rangka mengumpulkan tim sukses pemilihan ketua himpunan program studi antropologi sosial. Jadi sebenarnya itu bukan pelecehan tapi diperkirakan salah satu pelaku suka dengan mahasiswi itu,” jelas dia.
Perdebatan disebut berlangsung sekitar satu jam sebelum akhirnya memicu kekerasan.
Pengeroyokan dimulai pukul 23.00 WIB
Sekitar pukul 23.00 WIB, salah satu senior korban diduga mulai memukuli korban. Setelah itu, mahasiswa lain yang berada di lokasi ikut mengeroyok.
“Setelah itu, mahasiswa yang ada di sana yang jumlahnya sekitar 30 orang mulai mengelilingi korban, mencekam pokoknya. Mereka menendang, memukul, secara bergantian. Baju dilepas, jaket, celana jeans, dan sabuk juga dilepas,” imbuh Zainal.
Korban disebut mengalami berbagai bentuk kekerasan, termasuk diludahi, disundut rokok, diolesi hot cream di area kemaluan, hingga dicukur rambut dan alisnya secara paksa.
“Mereka juga menggunakan alat-alat seperti hanger baju, batang kayu, dan menyabet kepala korban menggunakan besi dari ikat pinggang. Sekitar pukul 03.00 WIB leher korban juga diikat menggunakan ikat pinggang dan diperlakukan seperti anjing di depan mereka semua sambil tertawa,” ungkap Zainal.
Penganiayaan disebut baru berhenti setelah terdengar azan Subuh sekitar pukul 04.15 WIB. Korban kemudian diantar kembali ke kos oleh salah satu pelaku dan seorang temannya.
Patah Hidung, gegar otak, trauma berat
Korban menjalani perawatan di RS Banyumanik 2 dan RS Bina Kasih Ambarawa sejak 16 November hingga 21 November 2025.
“Diagnosis dari dokter adalah korban mengalami patah tulang hidung dan geger otak, serta gangguan syaraf mata. Selain itu Arnendo semester 4 berstatus cuti karena trauma apalagi pelaku satu jurusan Antropologi Sosial, Fak Ilmu Budaya Undip belum ditangkap,” kata Zainal dikutip dari media pada Rabu, (4/3/2026).
Kasus ini telah dilaporkan ke Polrestabes Semarang dan masih dalam proses penyelidikan.













