Menlu Sugiono Ingatkan Keamanan Global Kian Rapuh! Apa Dampaknya Buat Kita?
astakom.com, Jakarta - Menteri Luar Negeri Sugiono me remind bahwa kondisi keamanan di dunia saat ini semakin memburuk dan membahayakan, ditunjukkan oleh kemunduran dalam usaha menghapuskkan senjata serta meningkatnya retorika dan pengembangan senjata nuklir.
Peringatan itu diberikan dalam sesi tingkat tinggi (HLS) Konferensi Pelucutan Senjata PBB di Jenewa, Swiss, pada Senin, (23/2/2026).
"Ketika saya berbicara di konferensi ini tahun lalu, situasi global sudah rapuh. Hari ini, situasinya lebih tidak pasti, lebih terpolarisasi, dan lebih berbahaya,” ucap Menlu Sugiono dikutip oleh astakom pada Jumat, (27/2/2026).Mode Bertahan Hidup vs Ancaman Nuklir
Ia memandang saat ini banyak negara yang bergerak ke mode bertahan hidup, sementara hukum internasional sedang dihadapkan pada tekanan dan lembaga multilateral mengalami kesulitan yang cukup besar.Pada situasi tersebut, Indonesia menyatakan komitmennya atas pelucutan senjata secara bersama-sama sebagai bagian dari perdamaian dan keamanan di tingkat internasional.
"Komitmen ini bukan idealisme. Ini adalah kebutuhan,” ucap Menlu Sugiono.
12.000 Hulu Ledak: Saat Bom Nuklir Jadi 'Trend' Modernisasi
Menlu Sugiono mengatakan bahwa situasi perlucutan senjata di tingkat global tidak hanya tidak berubah, tetapi justru semakin mundur.Lebih dari 12.000 bom ledak nuklir masih tersimpan di berbagai belahan dunia.
Program modernisasi dan peningkatan kapasitas arsenal masih berlangsung, sementara retorika terkait nuklir semakin sering muncul dan membuat orang khawatir.
Berakhirnya New START & Risiko Salah Perhitungan
Ia juga menghighlight berakhirnya perjanjian New START, yang ternyata jadi satu satunya batasan hukum bagi dua senjata nuklir terbesar di dunia.Menurutnya, kondisi ini mengurangi kemampuan untuk memprediksi dan transparansi, serta meningkatkan risiko kesalahan perhitungan dan persaingan senjata yang lebih besar.
"Ini bukan isu bilateral. Dampaknya bersifat global,” ucap Menlu Sugiono.
Menlu Sugiono mengatakan bahwa logika yang menyebutkan bahwa deterrence atau penangkaran bisa memastikan keamanan itu tidak tepat. Menurutnya, logika itu justru membuat perasaan tidak aman semakin dalam dan memperkuat keyakinan bahwa ada ancaman antar negara.
Ancaman AI, Siber, hingga Perang Antariksa!
Selain ancaman nuklir yang biasa, ia juga membahas bahaya dari teknologi baru seperti kecerdasan buatan, kemampuan siber, dan teknologi antariksa.Tanpa aturan dan batasan yang jelas, teknologi ini bisa meningkatkan ketidakpastian serta risiko terjadinya konflik yang tidak terduga.
Menlu Sugiono menegaskan bahwa usaha untuk mengurangi senjata secara bersama-sama harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan perubahan politik antar negara yang semakin cepat.
"Upaya pelucutan senjata multilateral harus sejalan dengan realitas-realitas ini," sambung Menlu Sugiono.













