DIY–Shanghai Gaspol Perkuat Kerja Sama Sister Province
astakom.com, Jakarta — Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mempertegas arah kerja sama internasionalnya dengan Shanghai, Tiongkok.
Sektor pariwisata menjadi salah satu fokus utama dalam penguatan kemitraan ini, menyusul pertemuan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dengan Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok Ye Su di Gedung Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Kamis (26/2/2026).
Pertemuan tersebut menandai langkah lanjutan kerja sama DIY–Shanghai yang telah terjalin melalui skema sister province sejak 2016 dan diperbarui pada 2023.
Kini, kedua pihak sepakat memperdalam implementasinya, terutama pada sektor ekonomi, perdagangan, pariwisata, dan kebudayaan.
Kepala DPMPTSP DIY Ghofar Ismail menegaskan adanya dorongan kuat dari kedua belah pihak untuk mempercepat realisasi kolaborasi tersebut.
"Bapak Gubernur berkeinginan memperdalam kerja sama DIY dan Shanghai. Dan saat pertemuan tadi, Ngarsa Dalem juga mengungkapkan kepada Konjen RRT, mohon untuk difasilitasi. Dan gayung bersambut, dari pihak RRT sendiri memang menginginkan hal yang sama," ujar Ghofar, Kamis (26/2/2026).
Pariwisata jadi pintu masuk strategis
Dalam konteks kerja sama ini, pariwisata tidak berdiri sendiri.
Shanghai yang dikenal sebagai pusat perdagangan, bisnis, investasi, dan pariwisata global dengan populasi sekitar 25 juta jiwa dinilai memiliki kekuatan ekonomi yang strategis untuk mendorong pertumbuhan sektor serupa di DIY.
Bagi Yogyakarta, positioning sebagai pusat kebudayaan justru menjadi nilai jual utama dalam kemitraan ini.
"Kalau bidang yang dikembangkan, sesuai dengan MOU adalah ekonomi, perdagangan, pariwisata, dan kebudayaan. Dari pihak Tiongkok memang memotret DIY sebagai pusat kebudayaan. Jadi itulah yang menjadi kekuatan kita dan jadi titik penting dalam kerja sama bilateral ini," kata Ghofar.
Sister province bukan sekadar MoU
Kerja sama DIY–Shanghai sejatinya sudah berjalan hampir satu dekade.
Namun pertemuan terbaru ini menekankan realisasi konkret dalam waktu dekat. Fokusnya tidak hanya promosi wisata, tetapi juga pertukaran budaya, pelatihan ASN, pendidikan, teknologi, hingga promosi investasi berkala.
DIY juga mengandalkan peran Rumah Persahabatan Yogyakarta–Shanghai di Kampung Ketandan sebagai simpul koordinasi dan pertukaran informasi kedua wilayah.
"Rencana realisasi pengembangan kerja sama ini akan segera dilakukan di bulan-bulan ke depan. Selanjutnya, dimungkinkan adanya kunjungan dari pemerintah RRT ke DIY dan kunjungan dari DIY ke Shanghai," imbuhnya.
Dengan rencana kunjungan timbal balik tersebut, peluang peningkatan promosi pariwisata dan eksposur internasional makin terbuka.
Kenapa Shanghai penting untuk pariwisata Jogja?
Sebagai kota global dengan puluhan juta penduduk dan mobilitas tinggi, Shanghai merupakan pasar potensial bagi sektor wisata internasional.
Jika promosi dan konektivitas diperkuat, DIY berpeluang memperluas pangsa pasar wisatawan mancanegara, khususnya dari Tiongkok.
Yogyakarta sendiri selama ini dikenal sebagai destinasi berbasis budaya dan pendidikan, dengan kekuatan pada warisan sejarah, seni tradisi, serta ekowisata.
Kolaborasi ini dapat menjadi pintu masuk strategis untuk memperluas jejaring promosi wisata berbasis budaya ke pasar yang lebih besar.













