Tradisi Blangikhan, Dari Ritual Penyucian Diri Menuju Panggung Pariwisata Nasional

Editor: Dhea Vallerina Riyon
Rabu, 18 Februari 2026 | 19:41 WIB
Tradisi Blangikhan, Dari Ritual Penyucian Diri Menuju Panggung Pariwisata Nasional
Tradisi Blangikhan, Dari Ritual Penyucian Diri Menuju Panggung Pariwisata Nasional (astakom/Pemprov Lampung)

astakom.com, Jakarta — Tradisi turun mandi khas masyarakat Lampung, Blangikhan, kembali digelar menjelang Ramadan 1447 Hijriah di Sesat Agung Nuwo Balak, Gunung Sugih, Rabu (18/2/2026).

Namun tahun ini, pesannya tak hanya soal kesiapan spiritual, melainkan juga langkah strategis menjadikan budaya sebagai kekuatan identitas dan pariwisata daerah.

Arak-arakan adat bergerak dari Rumah Dinas Bupati menuju Sesat Agung Nuwo Balak, diikuti tokoh adat, pejabat daerah, dan masyarakat dalam balutan busana tradisional.

Prosesi ini menjadi simbol kesiapan lahir dan batin menyambut bulan suci. Kegiatan digelar oleh Pemerintah Provinsi Lampung bersama DPP Lampung Sai dan Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL).

Adat dan Ramadan: Momentum Bersih Hati dan Perkuat Identitas

Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menegaskan bahwa Blangikhan bukan sekadar seremoni tahunan.

Tradisi Blangikhan hadir sebagai pengingat bahwa Ramadhan disambut dengan kesiapan hati, kesadaran diri, dan kebersamaan. Tradisi ini hidup karena dijalankan, dirasakan, dan diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa melalui tradisi ini masyarakat diajak membersihkan diri, menata niat, serta meluruskan kembali hubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam sekitar.

Menurut Jihan, budaya yang dijaga dengan baik akan melahirkan identitas daerah yang kuat, menumbuhkan rasa percaya diri, persatuan, serta semangat membangun daerah dengan tetap berakar pada kearifan lokal.

Menutup sambutannya, ia menyampaikan pesan Ramadan kepada masyarakat Lampung:

“Selamat menyambut bulan suci Ramadhan. Semoga kita dapat mengoptimalkan kebaikan di bulan suci ini dengan penuh hikmat. Mohon maaf lahir dan batin,” tutupnya.

Sudah warisan budaya, kini didorong masuk kalender nasional

Blangikhan bukan tradisi baru. Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, mengingatkan bahwa tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Tradisi ini dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadhan sebagai simbol penyucian diri, baik lahir maupun batin, serta wujud persiapan spiritual dalam menyambut ibadah puasa,” ujarnya.

Ia menilai Blangikhan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis budaya.

“Kita perlu mengemas tradisi ini secara lebih optimal agar semakin dikenal luas dan mampu menarik wisatawan dari luar daerah. Tradisi ini sangat potensial menjadi bagian dari pengembangan pariwisata berbasis budaya di Lampung,” ujarnya.

Wagub Jihan bahkan mendorong agar Blangikhan masuk dalam kalender nasional Kharisma Event Nusantara. Ia mencontohkan tradisi Melukat di Bali yang telah dikenal luas.

“Di Bali ada tradisi Melukat, mandi untuk membersihkan diri, dan itu sudah dikenal luas. Mengapa tidak kita angkat tradisi Blangikhan ini? Saya kira ini salah satu yang bisa dikenal secara nasional bahkan mancanegara,” ujarnya.

Harmoni adat, agama, dan ekonomi lokal

Ketua Umum MPAL, Rycko Menoza SZP, menegaskan bahwa Blangikhan merupakan bentuk harmonisasi adat dan nilai keagamaan.

“Acara ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan tradisi budaya adat yang berjalan beriringan dengan tradisi keagamaan. Semoga melalui kegiatan seperti ini, Lampung semakin maju, dikenal luas, dan semakin banyak dikunjungi masyarakat dari luar daerah,” ujarnya.

Plt. Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri, menyebut Blangikhan sebagai simbol doa keselamatan dan harapan masa depan yang lebih baik.

“Tradisi Blangikhan merupakan warisan budaya yang mengatur nilai kearifan lokal, etika, serta filosofi kehidupan masyarakat Lampung. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melestarikan, menjaga, dan mewariskan adat istiadat ini kepada generasi muda,” ujarnya.

Kemeriahan acara juga melibatkan pelaku UMKM dengan sajian kuliner khas Lampung, menegaskan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Prosesi ditutup dengan pemandian muli mekhanai yang dipimpin oleh Wakil Gubernur Lampung, Wakil Menteri Pariwisata, Ketua MPAL, dan Plt. Bupati Lampung Tengah, ditandai dengan pemecahan kendi sebagai simbol dimulainya ritual Blangikhan.

Angle Baru: dari lokal ke nasional

Blangikhan 1447 H menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya berfungsi sebagai ritual penyucian diri menjelang Ramadan, tetapi juga sebagai strategi kebudayaan dan promosi daerah.

Dengan status Warisan Budaya Takbenda dan dorongan masuk kalender nasional, Blangikhan kini berada di persimpangan penting: menjaga nilai sakralnya sekaligus membuka peluang sebagai ikon budaya Lampung di tingkat nasional bahkan internasional.

Gen Z Takeaway
Blangikhan ngajarin kita satu hal penting: sebelum upgrade hidup di Ramadan, upgrade dulu hati dan niatnya.Tradisi ini buktiin kalau budaya lokal bukan cuma soal masa lalu, tapi bisa jadi identitas keren yang bikin Lampung makin dikenal nasional bahkan global. Jadi, jadi generasi muda itu bukan cuma ikut tren—tapi juga jaga warisan. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?

Blangikhan Lampung Panggung Pariwisata Nasional Ramadan 1447 H Ramadan 1447 Hijriah Tradisi Blangikhan Wakil Gubernur Lampung

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB