Minggu, 15 Mar 2026
Minggu, 15 Maret 2026

Naik Level! RI Gaspol Kemandirian Alutsista: Dari Senapan hingga Kapal Patroli, Minim Impor  

astakom.com, Jakarta – Industri pertahanan Indonesia tidak lagi sekadar bicara wacana kemandirian. Di tengah dinamika geopolitik global dan risiko gangguan rantai pasok, arah kebijakan mulai bergeser, dari ketergantungan impor menuju penguatan produksi dan penguasaan teknologi dalam negeri.

Fokusnya bukan hanya menambah jumlah alutsista, tetapi memastikan belanja pertahanan berdampak langsung pada penguatan industri nasional.

Isunya kini lebih strategis: bukan sekadar siapa yang menjual sistem pertahanan, tetapi siapa yang menguasai desain, rekayasa, dan kapasitas produksinya.

Prioritaskan produk dalam negeri

Arah ini bukan tanpa dasar. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan secara tegas menyebut pemenuhan alutsista wajib mengutamakan produksi nasional. Aturan ini diperkuat lewat berbagai kebijakan turunan, termasuk Peraturan Presiden terkait kebijakan umum pertahanan negara dan penguatan ekosistem industri pertahanan.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menegaskan konsistensi implementasi menjadi kunci utama.

“Dibutuhkan kebijakan strategis untuk meningkatkan industri pertahanan dalam negeri, antara lain konsistensi implementasi UU Nomor 16 Tahun 2012, khususnya terkait kewajiban penggunaan produk dalam negeri,” ujar Dave Laksono di Jakarta, dilansir dari Antara, Rabu, 11 Februari 2026.

Menurutnya, optimalisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), roadmap jangka panjang, serta integrasi antara Kementerian Pertahanan, BUMN, swasta, dan lembaga riset harus berjalan simultan agar kemandirian tidak berhenti di atas kertas.

Bertahap dan realistis: kuasai yang feasible dulu

Pendekatan pemerintah dinilai tidak instan, melainkan bertahap sesuai kapasitas teknologi yang sudah dikuasai.

“Untuk pengadaan tanpa impor, kita sudah mulai dari alutsista yang kita kuasai penuh teknologinya. Contohnya senapan, amunisi, kapal patroli, dan kendaraan taktis seperti Maung atau Anoa. Itu sudah mayoritas buatan kita sendiri,” jelas pengamat intelijen Ridlwan Habib.

Artinya, strategi yang ditempuh bukan lompat jauh ke sistem kompleks yang belum sepenuhnya dikuasai, tetapi memperkuat sektor yang feasible lebih dulu sebelum melakukan scale up ke teknologi yang lebih advanced.

Senjata ringan & amunisi: produksi lokal nge-gas

Sektor senjata ringan menjadi bukti konkret penguatan industri dalam negeri. PT Pindad (Persero) telah lama memproduksi pistol seri G2 dan MAGNUM, serta senapan serbu SS1, SS2 hingga SS3 yang digunakan luas oleh TNI dan Polri.

Kebijakan Kementerian Pertahanan dan Polri juga menekankan prioritas penggunaan produk dalam negeri selama spesifikasi teknis terpenuhi. Dampaknya, pengadaan senjata ringan standar kini tidak lagi bergantung pada impor.

Di lini amunisi, peningkatan kapasitas produksi bahkan lebih signifikan. Untuk kaliber kecil seperti 5,56 mm, 7,62 mm, dan 9 mm, kapasitas produksi Pindad pada 2020 mencapai 400 juta butir per tahun, naik dari 225 juta butir pada tahun sebelumnya. Modernisasi mesin terus dilakukan dengan target kapasitas menembus 600 juta butir per tahun.

Langkah ini menjadi krusial mengingat kebutuhan amunisi nasional diperkirakan mencapai 5 miliar butir per tahun. Artinya, satu fasilitas produksi saja belum cukup — kolaborasi lintas industri menjadi keniscayaan dalam membangun kemandirian penuh.

Bukan cuma produksi, tapi kuasai desain

Meski penguatan di sektor senjata ringan dan amunisi sudah terlihat, tantangan terbesar tetap ada pada komponen berteknologi tinggi. Di sinilah transfer teknologi (ToT) memainkan peran penting.

Dave menegaskan bahwa alih teknologi tidak boleh berhenti pada tahap perakitan.

“ToT bukan sekadar perakitan, tetapi harus sampai pada penguasaan desain dan rekayasa,” ujarnya.

Kemandirian pertahanan, dengan demikian, diukur dari kemampuan menguasai desain, produksi, perawatan, hingga pengembangan lanjutan sistem secara mandiri.

Gen Z Takeaway
Kalau dulu mindset-nya beli, sekarang arahnya bikin sendiri — minimal yang sudah kita kuasai dulu. Senapan, amunisi, kendaraan taktis? Sudah on track. Tapi game sebenarnya ada di penguasaan desain dan teknologi inti. Kalau cuma produksi tanpa kuasai engineering-nya, kita tetap jadi user.

Feed Update

Transformasi Digital Harus Ngebut, Meutya Hafid Minta Pejabat Komdigi Gerak Cepat

astakom.com, Techno — Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, meminta jajaran pejabat baru di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) untuk mempercepat pelaksanaan program...

Kemkomdigi Buka Akses Informasi PP Tunas Lewat Situs tunasdigital.id

astakom.com, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) membuka akses informasi terkait kebijakan perlindungan anak di ruang digital melalui situs tunasdigital.id. Platform ini disiapkan sebagai...

Google Maps Hadirkan Navigasi 3D dan AI Gemini, Pengguna Kini Bisa ‘Ngobrol’ dengan Peta

astakom.com, Jakarta – Google kembali menghadirkan inovasi pada layanan navigasinya. Melalui pembaruan terbaru, Google Maps kini dilengkapi tampilan navigasi 3D imersif serta integrasi kecerdasan...

Disepakati 7 Kementrian! AI Resmi Masuk Dunia Pendidikan Indonesia

astakom.com, Techno– Pemerintah resmi menetapkan pedoman pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tujuh menteri. Kebijakan lintas...

Indonesia Siap Sambut Era 6G, BRIN Kembangkan Antena Mini untuk Internet Super Ngebut

astakom.com, Jakarta - Indonesia mulai menyiapkan fondasi teknologi internet generasi berikutnya. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan teknologi antena yang dirancang untuk...

Mudik Lebaran 2026 Makin Canggih, Korlantas Polri Kerahkan Drone dan Sistem Informasi Real-Time

astakom.com, Jakarta - Lonjakan mobilitas masyarakat saat mudik Lebaran 2026 mendorong Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri memperkuat pengawasan lalu lintas dengan teknologi digital. Salah...