Badan Geologi Beberkan Penyebab Longsor di Cisarua, Lengkap dengan Peta Geologi Regionalnya
astakom.com, Jakarta — Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah melakukan pemantauan serta kajian di lokasi pergerakan tanah di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, guna mengidentifikasi penyebab terjadinya longsor.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa longsor dipicu oleh curah hujan yang tinggi, yang memengaruhi material pada bagian mahkota atau titik awal longsoran di kawasan pegunungan vulkanik tua Gunung Burangrang.
"Curah hujan ekstrem lebih dari 220 milimeter per hari membuat terjadinya peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, dan terjadinya kegagalan lereng," ujar Plh Kepala PVMBG Edi Slameto di Gedung Badan Geologi, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (30/1/2026).
Titik awal longsoran Cisarua
Edi melanjutkan, secara morfologi, lokasi longsoran Cisarua berada di pegunungan vulkanik tua Gunung Burangrang.
Mahkota longsoran atau titik awal longsoran berada pada lereng bagian atas dengan kecuraman lebih dari 35 derajat dan di beberapa lokasi longsoran juga memiliki tingkat kecuraman lebih dari 55 derajat.
Morfologi ini merupakan hasil proses vulkanisme Gunung Burangrang masa lalu yang kemudian mengalami proses eksogen oleh pelapukan, erosi, dan denudasi yang intensif.
Beberapa tempat di lereng sekitar longsoran terlihat juga bentukan morfologi lereng bekas longsoran lama terutama pada lereng bagian tengah dan bawah.
Peta geologi regional longsoran
Lokasi bencana longsor berdasarkan Peta Geologi Regional Lembar Bandung oleh Silitonga, dkk (1973) berada di Endapan Gunungapi Tua Tidak Terpisahkan (QVu).
"Satuan ini terdiri atas breksi vulkanik, tuf, lava andesit–basalt, serta material piroklastik yang telah mengalami pelapukan lanjut," tuturnya.
Kemudian, lokasi longsor di hulu merupakan endapan piroklastika dari Gunung Burangrang yang tidak terkonsolidasi yang tersusun oleh lapisan endapan piroklastika dan lava. Lapukan endapan piroklastik terlihat berwarna coklat tua dengan ketebalan lebih dari 10 meter.
"Orientasi perlapisan antara batuan piroklatik dan lava yang mengalami pelapukan terlihat pada lereng yang tersingkap karena gerusan longsoran. Kondisi tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut menyebabkan tanah menjadi gembur, urai dan mudah lepas atau patah," jelasnya.
"Secara regional, daerah ini dipengaruhi oleh sistem struktur geologi berupa patahan dan rekahan yang berarah dominan baratlaut–tengara dan baratdaya–timurlaut yang ditemukan sepanjang lereng bagian atas," pungkasnya.













