MBG kembali Jadi Topik Positif Internasional, Dibahas Mendalam di Markas Besar PBB Jenewa
astakom.com, Jakarta— Hari ini, salah satu Program unggulan Presiden ke-8 Prabowo Subianto yakni dapur gizi datau dikenal dengan Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat apresiasi positif dalam forum internasional di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jenewa.
Dalam rangkaian The Sixteenth Session of the United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD 16), Kementerian Bappenas yang mewakili perwakilan Pemerintah Indonesia mempresentasikan MBG sebagai contoh bagaimana kebijakan sosial dapat terintegrasi dengan strategi pembangunan ekonomi dan perdagangan yang inklusif.
Hubungan Perdagangan terhadap Pangan Bergizi
Pada acara sampingan bertajuk “From Trade to Table: Leveraging Integrated Trade-Development to Ensure Sustainable and Resilient Food System and Nutrition Programs” yang berlangsung 22 Oktober 2025, Indonesia menegaskan peran perdagangan sebagai motor stabilitas global sekaligus penjamin akses terhadap pangan bergizi, beragam, aman, dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
Wakil Menteri Bappenas Febrian Ruddyard menekankan bahwa MBG mencerminkan paradigma baru pembangunan Indonesia.
“Melalui MBG, Indonesia menunjukkan bahwa kebijakan sosial dapat berjalan seiring dengan strategi perdagangan dan investasi. Program ini memperkuat rantai pasok lokal, memberdayakan pelaku usaha kecil, dan memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya, Senin (27/10).
Febrian menambahkan, pengalaman Indonesia selaras dengan semangat UNCTAD 16 yang menekankan transformasi ekonomi yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan. “Pendekatan berbasis permintaan seperti MBG dapat menjadi model bagi negara berkembang lainnya untuk memastikan perdagangan berkontribusi terhadap kesejahteraan, bukan hanya pertumbuhan,” jelasnya.
Dampak Ke Ekonomi Lokal
Program MBG dinilai sebagai contoh konkret bagaimana perdagangan dapat menjadi instrumen menciptakan ketahanan pangan sekaligus memperkuat UMKM. Dengan pendekatan demand-driven, MBG membentuk permintaan terstruktur terhadap produk lokal—mulai dari petani, nelayan, peternak hingga pelaku UMKM. Permintaan yang stabil ini mendorong peningkatan produktivitas, transfer teknologi, serta terbentuknya rantai pasok tangguh di daerah.
Plt. Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, menegaskan potensi efek berganda program ini.
“Selain sektor pangan, MBG juga akan memberikan multiplier effect pada sektor ekonomi lain seperti industri pengolahan, konstruksi, keuangan, logistik, dan digital teknologi,” ujarnya.
Data KADIN Indonesia 2023 menunjukkan terdapat lebih dari 66 juta UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Melalui MBG, mereka kini memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke ekosistem pasokan pangan bergizi. Dampaknya tidak hanya meningkatkan gizi anak-anak sekolah dan kelompok rentan, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kesenjangan antarwilayah.
Meski diapresiasi, sejumlah narasumber menyoroti tantangan dalam penguatan ketahanan pangan domestik, seperti ketersediaan stok, stabilitas harga, serta kapasitas produksi dan organisasi petani, nelayan, peternak, hingga UMKM. Karena itu, kolaborasi lintas sektor serta sinergi pemerintah dan swasta dinilai krusial untuk mewujudkan sistem pangan yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan.
Acara yang diprakarsai Kementerian PPN/Bappenas bersama PTRI Jenewa ini juga menghadirkan sejumlah tokoh internasional: Ms. Luz Maria de la Mora (UNCTAD), Ms. Braulio Morera (World Economic Forum/WEF), Ms. Shannon Howard (World Food Programme/WFP), Ms. Afshan Khan (Scaling Up Nutrition/SUN) Movement, dan Sarwono dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Gen Z Takeaway
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) nggak cuma bikin anak sekolah kenyang, tapi juga bikin dunia kagum. Di forum PBB Jenewa, Indonesia nunjukin kalau kasih makan sehat ke rakyat bisa jalan bareng sama ekonomi & perdagangan. Dari petani sampai UMKM ikut naik kelas.
Intinya, MBG itu bukan sekadar bagi makanan gratis, tapi strategi keren buat bikin pangan berkelanjutan, ekonomi lokal tumbuh, dan Indonesia makin kuat.













