Mengejutkan! BRIN Ungkap Air Hujan Jakarta Tercemar Mikroplastik

Editor: Khoirudin
Minggu, 19 Oktober 2025 | 23:03 WIB
Mengejutkan! BRIN Ungkap Air Hujan Jakarta Tercemar Mikroplastik
Pengendara melintas saat hujan di Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta, Rabu (16/4). [astakom/Muhammad Syauqi Amrullah]

astakom.com, Jakarta – Langit Jakarta tak lagi hanya membawa hujan, tapi juga polusi plastik. Temuan terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik, hasil dari degradasi limbah plastik yang melayang di udara perkotaan.

Peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova menjelaskan bahwa riset yang dilakukan sejak tahun 2022 secara konsisten menemukan mikroplastik dalam setiap sampel air hujan di Jakarta. Partikel-partikel mikroskopis ini berasal dari aktivitas manusia, terutama di wilayah padat seperti Jakarta.

“Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka,” ujar Reza dalam keterangan tertulis, dikutip astakom.com dari laman resmi BRIN, Minggu (19/10).

Secara rata-rata, peneliti mencatat sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari pada sampel hujan di kawasan pesisir Jakarta. Partikel yang ditemukan umumnya berupa serat sintetis dan fragmen kecil dengan polimer seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena yang biasa berasal dari ban kendaraan.

Temuan ini menunjukkan bahwa siklus plastik kini telah mencapai atmosfer, melalui proses yang dikenal sebagai atmospheric microplastic deposition. Mikroplastik dapat terangkat ke udara lewat debu jalanan, asap pembakaran, dan kegiatan industri, kemudian terbawa angin dan akhirnya turun kembali bersama air hujan.

“Siklus plastik tidak berhenti di laut. Ia naik ke langit, berkeliling bersama angin, lalu turun lagi ke bumi lewat hujan,” tegas Reza.

Dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa dan sekitar 20 juta kendaraan bermotor, Jakarta disebut sebagai episentrum produksi limbah plastik. Reza menilai gaya hidup urban modern menjadi pemicu utama. Pengelolaan sampah yang belum ideal, termasuk pembakaran terbuka dan pembuangan plastik sekali pakai ke sungai, memperparah kondisi ini.

Bahaya Mikroplastik Bagi Kesehatan dan Lingkungan
Partikel mikroplastik berukuran sangat halus, sehingga berpotensi terhirup manusia atau masuk melalui air dan makanan. “Yang beracun bukan air hujannya, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain,” ujar Reza.

Plastik diketahui mengandung ftalat, bisfenol A (BPA), dan logam berat, yang dapat lepas ke lingkungan dan menimbulkan efek toksik. Selain itu, partikel di udara juga dapat mengikat polutan berbahaya seperti hidrokarbon aromatik dari asap kendaraan.

Paparan mikroplastik dapat menyebabkan stres oksidatif, gangguan hormon, hingga kerusakan jaringan tubuh. Sementara itu, dari aspek lingkungan, air hujan yang tercemar mikroplastik berisiko mencemari sumber air permukaan dan laut, memperpanjang siklus pencemaran di rantai makanan.

Atas adanya fenomena ini, BRIN menyerukan langkah konkret lintas sektor untuk menekan penyebaran mikroplastik di atmosfer, yang mencakup pemantauan rutin kualitas udara dan air hujan, perbaikan sistem pengelolaan limbah plastik dari hulu, serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Reza juga menyoroti pentingnya peran industri dalam mengatasi masalah ini. Ia menyarankan agar industri tekstil menerapkan sistem filtrasi pada mesin cuci untuk menahan pelepasan serat sintetis ke lingkungan. “Kesadaran masyarakat bisa menekan polusi mikroplastik secara signifikan,” ujarnya.

Reza menutup dengan pernyataan reflektif yang menggugah, bahwa krisis mikroplastik di atmosfer sejatinya merupakan cerminan dari perilaku manusia sendiri.

“Langit Jakarta sebenarnya sedang memantulkan perilaku manusia di bawahnya. Plastik yang kita buang sembarangan, asap yang kita biarkan mengepul, sampah yang kita bakar karena malas memilah semuanya kembali pada kita dalam bentuk yang lebih halus, lebih senyap, tapi jauh lebih berbahaya,” tutupnya.

Gen Z Takeaway

Ternyata langit Jakarta literally ngasih balik dosa plastik kita! Riset BRIN nemuin kalau air hujan di Jakarta udah tercemar mikroplastik — partikel mini dari baju, ban mobil, sampai asap pembakaran sampah. Artinya, plastik yang kita buang sembarangan sekarang turun lagi ke bumi lewat hujan.

BRIN DKI Jakarta Hujan Mikroplastik Muhammad Reza Cordova Pencemaran Lingkungan

Infografis

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB