LPS Spill Biang Kerok 14 BPR/BPRS Tutup, Ternyata Gara-Gara Bad Governance!
astakom.com, Jakarta - Sepanjang Januari sampai Oktober 2026, udah ada 14 Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPRS yang resmi tumbang alias dilikuidasi. Ini jadi red flag gede buat sektor keuangan RI.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, ngespill fakta kalau biang kerok di balik gulung tikarnya bank-bank ini bukan karena drama percintaan, tapi masalah tata kelola alias governance yang dinilai bobrok.
“Pada umumnya karena masalah tata kelola yang ada di BPR dan BPRS yang bersangkutan. Tentu banyak faktor lain, tapi itulah faktor yang kami pantau sebagai faktor utama yang memberikan dampak kepada penutupan BPR dan BPRS,” kata Anggito di konferensi pers hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Gedung Bank Indonesia, Selasa (03/11/2026).
Tata kelola yang kurang maksimal
Lemahnya tata kelola ini jadi wake-up call buat semuanya. Gara-gara manajemen yang zero effort dalam pengawasan dan aturan, bank-bank kecil ini jadi gampang banget goyah.
Makanya, LPS full support dan langkah ini diikuti dengan upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buat ngebut melakukan konsolidasi industri BPR dan BPRS biar enggak makin banyak yang ghosting nasabahnya. LPS sigap banget nge-handle nasabah dari 14 bank yang sudah gulung tikar tadi.
Dari catatan LPS, ada sekitar 62.971 rekening nasabah dengan total simpanan menyentuh angka Rp1,9 triliun yang masuk kategori layak bayar. Hebatnya, LPS gercep banget udah ngebayarin klaim penjaminan sebesar Rp643,94 miliar.
Standar pembayaran dari LPS
Anggito juga nambahin kalau LPS punya standar speed buat urusan bayar-membayar klaim ini. Jadi, pembayaran klaim yang memenuhi syarat digeber dalam lima hari kerja pertama aja, dengan realisasi pembayaran tembus angka sekitar 60%.
Langkah kilat ini sengaja diambil supaya para nasabah tetap tenang dan hak duit simpanannya secured, bank-bank tersebut resmi dicabut izin usahanya dan masuk ke fase likuidasi.
Ke depannya, penguatan tata kelola ini dinilai jadi kunci utama buat nge-glow up ketahanan industri perbankan rakyat. Kalau sistem manajemennya dibenerin dari akar, risiko bank kolaps gara-gara salah urus bisa ditekan sekecil mungkin. Jadi, enggak ada lagi drama nasabah yang kena mental gara-gara duit tabungan mendadak amblas. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
LPS mengungkap, sepanjang Januari–Oktober 2026 ada 14 BPR dan BPRS yang dilikuidasi akibat berbagai faktor, dengan masalah governance menjadi penyebab utama yang dipantau. Meski begitu, nasabah nggak perlu panik karena LPS telah menyiapkan perlindungan bagi 62.971 rekening dengan total simpanan layak bayar Rp1,9 triliun dan merealisasikan pembayaran klaim sebesar Rp643,94 miliar. Ke depan, pembenahan tata kelola dan konsolidasi industri jadi kunci agar bank lebih sehat, kepercayaan nasabah terjaga, dan kasus serupa nggak terus berulang.









