Rupiah Kena Efek Domino Global, Ini Langkah Taktis Bank Indonesia Biar Ekonomi Tetap Tahan Banting
astakom.com, Jakarta - Tantangan ekonomi global makin berasa dan bikin nilai tukar rupiah harus ekstra tahan banting. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, memberikan tanggapannya terkait potensi tekanan terhadap rupiah yang dipicu oleh makin perkasanya dolar Amerika Serikat (AS), melambungnya imbal hasil aset AS, serta pergeseran arus modal dari negara berkembang (emerging markets) menuju negara maju.
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin (28/09/2026), Destry menyampaikan bahwa pengetatan kebijakan moneter global dan fenomena higher for longer menjadi pemicu utama yang menekan stabilitas nilai tukar hingga memengaruhi neraca pembayaran Indonesia.
"Kita akan menghadapi situasi atau fenomena yang dinamakan higher for longer, yang pada akhirnya memberikan tekanan kepada negara emerging market, khususnya terkait aliran modal yang masuk ke negara emerging market, termasuk Indonesia," ujar Destry.
Kondisi tersebut membuat aset AS terlihat jauh lebih menarik bagi investor, sehingga memicu risiko capital outflow (keluarnya modal asing) dari pasar negara berkembang dan memberi tekanan ekstra pada mata uang lokal. Per 22 September 2026, BI mencatat rupiah berada di level Rp17.855 per US$, alias melemah 0,78% dibanding akhir Agustus.
Tekanan ini pun makin terasa akibat melonjaknya harga minyak dunia yang menyentuh US$125,53 per barel pada 24 September 2026. Padahal, rupiah sempat menunjukkan tren menguat sepanjang Agustus hingga pertengahan September 2026 sebelum ketidakpastian global kembali memuncak.
Menghadapi situasi yang kurang kondusif ini, BI mengambil langkah tegas dengan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% demi menjaga stabilitas sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi.
"Bank Indonesia akan merespons tantangan tersebut melalui bauran kebijakan yang adaptif dan terintegrasi," tegas Destry.
Guna membentengi nilai tukar rupiah, BI memperkuat langkah intervensi valuta asing lewat transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta transaksi NDF di pasar offshore. Tak hanya itu, BI juga memperluas insentif lindung nilai (hedging) untuk menarik modal asing, serta memicu penggunaan transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra demi mengikis ketergantungan pada dolar AS lewat penambahan likuiditas mata uang lokal seperti yuan dan yen. (RaM)
Gen Z Takeaway
Merespons tekanan global dan melonjaknya dolar AS yang bikin nilai tukar rupiah sempat melemah ke Rp17.855 per US$, Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan pihaknya siap pasang badan lewat bauran kebijakan yang adaptif dan terintegrasi. Selain menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75%, BI juga tancap gas mengintervensi pasar valas, memperluas insentif hedging, hingga memaksimalkan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction) demi membentengi stabilitas ekonomi nasional dari gejolak higher for longer.








