Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat: Insiden Tanker dan Eskalasi AS-Iran Bayangi Pasar Minyak Global

Editor: Henni Rachma Sari
Jumat, 23 Oktober 2026 | 15:03 WIB
Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat: Insiden Tanker dan Eskalasi AS-Iran Bayangi Pasar Minyak Global
Usai Deal sama AS, Iran Open Akses Selat Hormuz! (Astakom / GoogleMap)

astakom.com, Jakarta - Jalur perairan vital dunia, Selat Hormuz, kembali membara. Sebanyak tujuh kapal tanker minyak dilaporkan terbakar hingga mengalami kerusakan parah sejak Rabu (21/10/2026) malam hingga Kamis. Insiden ini diduga akibat serangan dari militer Iran atau hantaman ranjau laut yang tersebar di wilayah perairan tersebut.

Situasi makin tense lantaran ketegangan politik global ikut memuncak jelang momen penting. Israel bersiap menggelar pemilu yang berpotensi menentukan nasib politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada 27 Oktober. Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) juga bakal menggelar pemilu paruh waktu bulan depan di tengah isu lonjakan harga energi yang memicu keresahan publik.

Peneliti dari Institute for National Security Studies Israel, Danny Citrinowicz dikutip Associated Press (AP), menilai kawasan ini sedang menuju next level eskalasi konflik. Menurutnya, potensi serangan balasan terhadap Iran tergolong sangat tinggi, terutama jika Netanyahu kembali menang dalam pemilu mendatang.

Trik dark shuttle demi amankan pasokan minyak dunia

Di tengah situasi geopolitik yang makin chaos, pasokan minyak global ternyata terus dipaksakan mengalir.Berdasarkan data Lloyd's List Intelligence, para operator kapal tanker nekat menempuh risiko tinggi dengan mengangkut minyak dari kawasan Teluk pada malam hari.

Mereka menerapkan taktik khusus bernama dark shuttle, yakni mematikan sistem pelacak posisi kapal serta ponsel para kru, lalu bergerak di bawah pengawalan ketat militer AS (CENTCOM) di dekat pantai Oman.Sesampainya di Teluk Oman, muatan minyak bakal dipindahkan ke tanker lain untuk dikirim ke pembeli di Asia.

Meskipun cara ini terbukti manjur menjaga ketersediaan pasokan, konsekuensinya gak main-main. Biaya sewa kapal (spot rate) melonjak drastis hingga ratusan ribu Dolar AS per hari, belum lagi risiko keselamatan bagi para pelaut di atas kapal.

PBB desak diplomasi, Iran isyaratkan perluas target

Menanggapi konflik yang makin meruncing, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) lewat Juru Bicaranya,Stephane Dujarric, menegaskan agar kapal-kapal dagang tidak dijadikan sasaran empuk pertempuran. PBB mendesak Washington dan Teheran untuk segera kembali duduk di meja perundingan demi memulihkan ketenangan di Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan pihaknya masih membuka pintu diplomasi, namun tetap dalam posisi siap tempur jika diserang. Bahkan, Teheran memberi sinyal berani untuk memperluas sasaran serangan ke berbagai infrastruktur vital lainnya, seperti pusat data hingga kabel komunikasi bawah laut.

Sementara itu, AS merespons ancaman tersebut dengan memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah.Pengiriman kapal induk ketiga dan ribuan personel tambahan menjadikan armada tempur AS di kawasan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Efek domino ke jalur pasokan energi global

Jika perang terbuka sampai pecah kembali, imbasnya dipastikan bakal menjalar ke mana-mana. Gangguan tak hanya mengancam pasokan minyak mentah dan gas alam, tetapi juga komoditas pendukung seperti pupuk yang memicu gelombang lonjakan harga baru di pasar internasional.

Konflik yang meluas ini turut menyeret kelompok Houthi di Yaman yang makin intensif menggempur fasilitas di Arab Saudi. Situasi ini memicu ancaman baru bagi keamanan pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, jalur krusial yang menghubungkan perdagangan menuju Laut Merah.

Menghadapi situasi riskan di Selat Hormuz, CEO Aramco Amin Nasser mengungkapkan bahwa pihak perusahaan telah meningkatkan kapasitas penyaluran minyak via pipa darat (East-West pipeline) hingga tiga kali lipat, dari dua juta menjadi tujuh juta barel per hari, demi menjaga stabilitas distribusi energi global. (RaM)

Gen Z Takeaway

Fix no debat, situasi di Selat Hormuz ini bener-bener jadi pengingat betapa krisis geopolitik bisa berdampak langsung ke ekonomi global hingga isi dompet kita sehari-hari. Mulai dari insiden kapal tanker, taktik pelayaran dark shuttle, sampai eskalasi militer AS-Iran, semuanya berpotensi memicu lonjakan harga BBM dan barang kebutuhan kalau jalur perairan vital ini sampai tertutup total. Semoga aja jalur diplomasi segera tembus biar tensi global makin melandai dan pasokan energi dunia tetap aman.

selat hormuz Iran AS Konflik Timur Tengah Update Konflik Timur Tengah 2026. Amerika Serikat Benjamin Netanyahu Israel

Infografis

Terkini