Kolaborasi Sains Indonesia-Belanda: Dari Tukar Ilmu ke Dampak Nyata
astakom.com, Jakarta – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arief Satria, menegaskan kalau ekosistem inovasi perlu diperkokoh lewat kerjasama Indonesia dan Belanda di sektor pendidikan, penelitian, teknologi, dan inovasi. Ia berpendapat kalau kerja sama ini krusial buat menghadapi peningkatan teknologi, transformasi ekonomi, perubahan iklim, sampai berbagai tantangan global lainnya.
Pondasi Kolaborasi Lintas Sektor
“Ekosistem inovasi tidak dapat dibangun oleh satu institusi. Universitas, organisasi penelitian, pemerintah, industri, dan masyarakat perlu saling terhubung agar pengetahuan dapat diwujudkan menjadi teknologi, layanan, kebijakan, ataupun solusi yang berdampak nyata,” tutur Arief pada pembukaan pemaparan dalam Pekan Pendidikan dan Penelitian Indonesia-Belanda (Week of Indonesia Netherlands Education and Research/WINNER) 2026. Acara bertema "Masyarakat yang Kompetitif dan Tangguh: Sumber Daya Manusia, Inovasi, dan Keberlanjutan" ini digelar di Jakarta, dikutip oleh astakom pada Kamis (08/10/2026).
Arief memandang pendidikan, penelitian, dan inovasi adalah landasan pertama buat membangun masyarakat yang kompetitif dan kuat. Ia berpendapat, daya saing nggak cukup dilihat dari kekuatan ekonomi dan teknologi saja, tapi juga harus meliputi ketangguhan, inklusivitas, inovasi, dan keberlanjutan.
4 Pilar Utama Penguatan Riset
Dari situ, Arief memaparkan 4 elemen utama yang penting, yaitu penguatan sumber daya manusia, kolaborasi, hilirisasi pengetahuan menjadi inovasi, dan keberlanjutan dan inklusi. BRIN bakalan terus mendorong peningkatan talenta lewat mobilitas talenta, degree by research, dan pendanaan riset bareng.
Peringatan Keras Etika Akademik
Di sisi lain, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Ahmad Najib Burhani, menekankan krusialnya dalam meningkatkan ekosistem sains beserta teknologi yang melibatkan pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat sipil.
Ia berpendapat, pengokohan ekosistem itu harus dibarengi sama integritas akademik. Ia menghighlight beberapa masalah, mulai dari fabrikasi data, plagiarisme, kartel sitasi, publikasi ganda, jurnal predator, sampai pemakaian kutipan dengan sistem kecerdasan artifisial yang asal aslinya nggak bisa ditemukan.
Dari pihak Belanda, Deputy Director of International Policy, Lenny Verloop, menekankan krusialnya dalam memperkokoh partnership Indonesia-Belanda biar nggak stuck di pertukaran pengetahuan, tapi benar-benar membawa dampak real buat masyarakat
Ia mengatakan kalau adanya peralihan iklim, tingginya permukaan laut, penyakit menular, ketahanan pangan, dan transisi energi ialah permasalahan lintas negara yang butuh kerjasama pengetahuan dan inovasi.
Lebih dari Sekadar Tukar Ilmu
Lenny turut menegaskan soal krusialnya investasi pada manusia dan pengetahuan. Ia menyerukan para mahasiswa, peneliti, dan inovator Indonesia-Belanda buat tetep aktif memberi ide dan rekomendasi buat mendirikan ekosistem kerjasama kedua pihak negara.
Ia juga berpendapat kalau pemerintah, komunitas sains, wirausahawan, dan mahasiswa punya posisi masing-masing buat menukar pengetahuan dan inovasi menghasilkan real action demi masa depan selanjutnya. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Kerja sama RI-Belanda di WINNER 2026 ini ngebuktiin kalau riset dan inovasi tuh bukan cuma teori kaku di atas kertas, tapi kunci utama buat nyelesein masalah nyata kayak krisis iklim dan transisi energi. Buat anak muda, pesannya jelas: saatnya kolaborasi lintas negara digaspol, tapi tetep junjung tinggi integritas akademik dan hindari jalan pintas (kayak plagiat atau AI asal-asalan) biar inovasi yang dibikin bener-bener berdampak buat masa depan!









