Bukan Cuma Geopolitik, Penerima Beasiswa Luar Negeri Juga Perlu Bekal Agama dan Budaya dari Menag dan MUI
astakom.com, Jakarta – Di Rapat Pimpinan Dewan Pertimbangan MUI yang digelar di Kantor MUI, Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka empat topik besar yaitu, menyiapkan generasi masa depan, membekali penerima beasiswa sebelum kuliah ke luar negeri, memperkuat komunikasi ulama dan umara, serta posisi MUI di berbagai bidang pemerintahan.
Dakwah beda generasi
Menag bilang, zaman bergerak cepat banget, jadi cara berdakwah juga harus menyesuaikan karakter tiap generasi. Dalam perjalanan bangsa, ia membagi generasi jadi empat yaitu perintis, pembangun, penikmat, dan penghancur. Generasi yang tumbuh di kondisi sekarang, menurutnya, perlu perhatian ekstra karena merekalah yang kelak jadi pengelola bangsa.
“Jadi tentu pendekatan dakwah kita kepada generasi perintis, pembangun, penikmat dan penghancur ini kamusnya berbeda. Jadi hari disesuaikan bahasa dakwah apa yang kita harus gunakan kepada generasi penikmat tentu berbeda. Material dakwah yang kita tunjukkan kepada generasi pembangun juga berbeda,” tutur Menag, dikutip oleh astakom pada Kamis (08/10/2026).
Bekal sebelum kuliah luar negeri
Topik berikutnya menyasar anak-anak Indonesia yang bakal lanjut studi di luar negeri. Menag menilai MUI dan para tokoh agama perlu ikut turun tangan memberi pembekalan sebelum keberangkatan, termasuk untuk para penerima beasiswa LPDP, supaya sisi budaya dan agama ikut kebagian porsi.
“Pembekalan itu bukan hanya dari tentara, bukan hanya dari Kementerian Dalam Negeri yang membicarakan tentang persoalan-persoalan geopolitik Indonesia, tapi yang paling penting juga adalah budaya dan agama ini. Jadi sepatutnya nanti mereka itu mendapatkan pembekalan. Bagaimana itu mohon kita semuanya memberikan perhatian khusus kepada generasi ini,” ungkap Menag.
Ulama dan umara harus rutin ngobrol
Menag juga menekankan pentingnya komunikasi yang lebih rutin antara ulama dan umara, supaya berbagai persoalan yang berkembang bisa dibahas bareng-bareng. Soal frekuensi, ia kasih patokan minimal, tapi lebih sering tentu lebih baik, menyesuaikan masalah yang dihadapi.
“Minimum sekali setahun. Tapi kalau bisa frekuensinya lebih dipersering tergantung permasalahan yang kita hadapi. Karena di istana sekarang ini kan banyak sekali kesibukan. Kalau kita tidak proaktif untuk minta waktu atau memperdengarkan apa yang kita anggap perlu untuk kita perdengarkan ke Presiden, maka itu juga nanti ada masalah,” ucapnya.
Ketahanan bangsa tak cuma fisik
Terakhir, Menag berharap MUI bisa kasih masukan keagamaan di berbagai sektor pemerintahan. Menurutnya, ketahanan bangsa bukan cuma soal kekuatan fisik, tapi juga mental dan spiritual. Di bidang ekonomi pun, arah yang ditawarkan adalah ekonomi halal dan ekonomi syariah, dan ia merasa Kemenag tidak bisa jalan sendirian.
“Daya tahan bangsa ini harus jangan hanya dilihat dari persenjataan fisik dan sebagainya, tapi juga ketahanan mental, spiritual juga bagiannya terpisahkan dalam ketahanan bangsa. Nah mengko ekonomi juga, apa yang kita lakukan itu menawarkan ekonomi halal, ekonomi syariah. Tidak cukup hanya Kementerian Agama yang menyuarakan itu, kami butuh backup dari MUI,” tutup Menag. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Buat kamu yang lagi ngejar beasiswa luar negeri kayak LPDP, siap-siap ya: pembekalannya nggak bakal cuma soal geopolitik dan wawasan kebangsaan, tapi juga soal agama dan budaya. Jadi pas jauh dari rumah, kamu punya pegangan buat jaga identitas dan nggak kaget sama culture shock. Di sisi lain, dakwah juga lagi diminta menyesuaikan gaya tiap generasi, jadi ke depan pendekatannya bisa makin relate sama cara hidup anak muda.









