Tegas! 12 Negara Batasi Perdagangan dari Permukiman Israel, Palestina Respons Baik

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 9 September 2026 | 20:00 WIB
Tegas! 12 Negara Batasi Perdagangan dari Permukiman Israel, Palestina Respons Baik
Tegas! 12 Negara Batasi Perdagangan dari Permukiman Israel, Palestina Respons Baik [Wakil Presiden Palestina Huseein Al-Sheikh/Ilustrasi Gemini AI]

astakom.com, Jakarta – Otoritas Palestina menerima secara baik keputusan tegas dari 12 negara yang resmi menerapkan penyekatan perdagangan atas barang-barang dari permukiman Israel di Tepi Barat.

Meski begitu, pihak Palestina tetap menekan masyarakat internasional agar tidak berhenti di situ saja. Mereka menuntut adanya langkah hukum yang lebih mengikat demi menghentikan ekspansi permukiman Israel dan praktik aneksasi de facto di wilayah Tepi Barat.

Wakil Presiden Palestina Huseein Al Sheikh, menilai deklarasi bersama ke-12 negara tersebut memang sudah menjadi tindakan ke jalur yang tepat. Tapi, baginya, sekadar kecaman dan narasi politik di media sama sekali tidak cukup untuk mengerem kebijakan tegas Israel di lapangan.

"Masyarakat internasional harus bergerak melampaui kecaman dan pernyataan politik menuju langkah-langkah yang mengikat dan tegas untuk menghentikan perluasan permukiman ilegal dan aneksasi," tegas Al-Sheikh, dilansir dari Anadolu, Rabu (09/09/2026).

12 Negara ambil sikap

Deklarasi bersama ini sendiri diumumkan secara kolektif oleh para Menteri Luar Negeri dari Kanada, Denmark, Finlandia, Prancis, Islandia, Irlandia, Norwegia, Polandia, Portugal, Spanyol, Swedia, hingga Inggris.

Selain menekankan kembali janji mereka atas penyelesaian solusi 2 negara, ke-12 negara ini secara resmi membatasi masuknya komoditas barang yang diproduksi di area permukiman Israel, kawasan pendudukan di Palestina.

Ancaman proyek E1

Dalam kesempatan yang sama, Al-Sheikh turut memberikan peringatan keras terkait rencana pembangunan permukiman Israel, terutama proyek E1. Ia menilai proyek tersebut sangat problematis karena berpotensi memotong kesinambungan kawasan Palestina dengan memecah Tepi Barat bagian utara dan selatan

Sebagai informasi, proyek E1 ini berlokasi di area strategis antara Yerusalem dan permukiman Maale Adumim yang berada di sebelah timur kota tersebut.

Bukan cuma Palestina, berbagai pihak internasional juga sudah mewanti-wanti kalau pembentukan di kawasan E1 bakal bikin wilayah Tepi Barat makin terisolasi dan terpecah-pecah. Hal ini dinilai secara langsung bakal menghambat impian terbentuknya negara Palestina yang utuh dan saling terhubung.

"Melindungi solusi dua negara tidak cukup hanya dengan menegaskan kembali komitmen politik terhadapnya," jelas Al-Sheikh.

Ia menuntut adanya penghormatan nyata atas hukum internasional serta resolusi Dewan Keamanan PBB. Selain itu, al-Sheikh menegaskan pentingnya menuntut pertanggungjawaban dari seluruh pihak yang berpartisipasi pada aksi kekerasan pemukim maupun ekspansi permukiman ilegal tersebut.

Kondisi Tepi Barat

Langkah pembatasan dagang oleh 12 negara ini muncul di tengah eskalasi operasi militer Israel dan meningkatnya aksi kekerasan pemukim di Tepi Barat yang kian intensif sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023.

Pihak Palestina memberi kabar deretan aksi kekerasan dan pembatasan ketat yang terus menimpa warga sipil. Mulai dari insiden pembunuhan, penangkapan paksa, pembongkaran rumah, serangan ke rumah ibadah dan kendaraan, pengerusakan lahan pertanian, penutupan akses warga ke tanah mereka sendiri, hingga aksi pengusiran paksa.

Masa depan Palestina

Berdasarkan data resmi Palestina, saat ini diperkirakan ada sekitar 750.000 pemukim Israel yang menduduki 156 permukiman serta 360 pos permukiman di Tepi Barat, terkhusus Yerusalem Timur.

Palestina mengevaluasi, jika kegiatan permukiman ini terus dibiarkan meluas, prospek pencapaian Solusi Dua Negara akan makin terancam. Oleh karena itu, dunia internasional didesak untuk segera mengambil action nyata yang jauh lebih konkret atas peraturan Israel di kawasan pendudukan. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Pernyataan dan condemn doang di medsos udah nggak mempan; 12 negara akhirnya mulai nge-boikot produk dari permukiman ilegal Israel. Tapi buat Palestina, ini baru first step—kalau dunia internasional cuma gertak tanpa sanksi hukum nyata, proyek ekspansi kayak proyek E1 bakal tetap ngebuat wilayah Palestina makin terpisah dan ngerusak prospek negara yang berdaulat.

Palestina Update israel Israel Gaza Update palestina

Infografis

Terkini