AS Makin Keras Tekan Iran, 36 Sanksi Baru Bidik Sektor Penerbangan
astakom.com, Jakarta – Amerika Serikat (AS) kembali memperketat cengkeraman ekonominya terhadap Iran. Kali ini, sasaran utamanya adalah sektor penerbangan Teheran lewat paket sanksi baru yang dirancang cukup masif.
Langkah agresif ini merupakan bagian dari strategi pemerintahan Presiden Donald Trump untuk bikin Iran makin terisolasi sekaligus memangkas finansial yang menyokong pemerintahannya.
Operation Economic Outcast
Pada Selasa (08/09/2026), Departemen Keuangan AS resmi mengumumkan 36 sanksi baru soal Iran. Sanksi yang dinamai "Operation Economic Outcast" ini menyasar maskapai komersial hingga penerbangan swasta.
Tindakan tegas ini memutakhirkan sanksi terhadap Mahan Air, serta menargetkan maskapai penerbangan Iran lainnya dan perusahaan pendukung yang memfasilitasi layanan bagi industri aviasi di negara tersebut.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan kalau Washington tidak main-main dalam mengeksekusi kebijakan ini.
"Di bawah Operation Economic Outcast, kami menjanjikan konsekuensi berat bagi mereka yang menyediakan jalur finansial bagi rezim Iran," ucap Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dilansir dari Al Jazeera Rabu, (9/9/2026).
"Hari ini, kami menepati janji tersebut dengan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan yang terus mendukung Mahan Air. Ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang melakukan bisnis dengan maskapai Iran lainnya: Anda berisiko terputus dari sistem keuangan global," ungkapnya.
Sebenarnya, Iran sudah kenyang berhadapan dengan sanksi ekonomi yang berat selama bertahun-tahun. Mahan Air sendiri sudah kena banned alias sanksi dari Amerika Serikat sejak 2011 atas tuduhan mendukung Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Tekanan Awal Rezim Trump
Namun, tensi terhadap Teheran mendadak melonjak parah sejak Trump kembali menduduki kursi presiden pada 2025. Hubungan kedua negara makin memanas ketika AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Perang yang berkepanjangan itu pun berbuntut pada rentetan kebijakan baru Washington dalam mencekik ekonomi Iran.
Trump sendiri mendeskripsikan gelombang sanksi terbaru ini sebagai "Economic D-Day," sementara Bessent melabelinya sebagai sanksi paling keras sepanjang sejarah. Meski tekanan ekonomi dipacu maksimal, bentrokan militer antara kedua belah pihak di lapangan masih terus berlanjut.
Sindiran Pedas Teheran
Langkah keras Washington tersebut langsung memicu reaksi pedas dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam keras kebijakan baru AS dan mempertanyakan efektivitas sanksi yang terus-menerus diulang padahal sudah terbukti gagal.
“Mengapa setelah gagal mencapai tujuannya melalui sanksi atau perang, solusi ‘baru’ Washington adalah... lebih banyak sanksi. Serius?” tulis Araghchi pada postingan di media sosial.
Targetkan Jaringan Global
Paket sanksi baru ini rupanya tidak hanya menyasar entitas domestik Iran. AS juga membidik perusahaan-perusahaan asing di Turki, Uni Emirat Arab (UEA), Kazakhstan, hingga Malaysia yang dituduh ikut menyokong suku cadang maupun layanan logistik bagi maskapai Iran. Implikasinya, seluruh aset milik pihak-pihak terhukum yang berada di bawah yurisdiksi AS resmi dibekukan.
Langkah drastis Washington ini menjadi bagian dari upaya menyeluruh untuk memutus urat nadi ekonomi Iran, di tengah krisis dan perselisihan yang masih memanas di Selat Hormuz jalur lalu lintas penting bagi perdagangan energi dunia. (naD/RaM)
Gen Z Takeaway
Drama AS vs Iran makin panas setelah Trump rilis sanksi penerbangan masif bertajuk Operation Economic Outcast buat bikin Iran mati angin secara finansial. Nggak cuma ngincer entitas lokal kayak Mahan Air, AS juga bakal nge-blacklisted perusahaan asing—mulai dari Turki, UEA, sampe Malaysia—yang nekat bantu nyediain suku cadang atau logistik penerbangan buat Iran. Singkatnya, kalau nekat main-main sama bisnis aviasi Iran, siap-siap aset dibekukan dan terputus total dari sistem keuangan global.








