Dikira Idap Tumor, Perempuan di Texas Melahirkan Tanpa Tahu Dirinya Hamil
astakom.com, Jakarta - Aubrie Morris tak pernah menyangka akan menjadi seorang ibu di usia 21 tahun. Ia bahkan tidak tahu bahwa dirinya sedang hamil hingga akhirnya mendadak melahirkan seorang bayi perempuan di apartemennya.
Saat berusia 19 tahun, Aubrie kuliah di Texas dan bertemu dengan pacarnya, Preston. Kala itu, ia sudah memiliki rencana untuk menyelesaikan gelar di bidang peradilan pidana sebelum melanjutkan ke sekolah hukum.
Menikah dan memiliki anak juga belum masuk dalam rencananya. Terlebih, sang ibu sejak awal telah menanamkan rasa takut mengenai kehamilan di usia muda. Aubrie pun mengonsumsi pil KB dan berhati-hati menggunakan alat kontrasepsi.
Pada Mei 2025, Aubrie pergi ke London dan kembali ke kampus pada Agustus setelah liburan musim panas. Dikutip astakom dari The Guardian, Jumat (04/09/2026) beberapa bulan kemudian, ia mulai menyadari berat badannya bertambah. Hingga Januari, berat badannya naik sekitar 10 pon. Namun, Aubrie mengira hal itu hanya akibat kebiasaan makan camilan larut malam dan kurang berolahraga.
Tidak ada tanda lain yang membuatnya curiga. Ia tetap mengonsumsi pil KB dan mengalami menstruasi setiap bulan. Ia juga tidak mengalami mual di pagi hari, keinginan makan tertentu, perut kembung, maupun rasa lelah.
Hingga akhirnya, pada 20 Februari, semuanya berubah. Sepulang dari kelas pagi, Aubrie merasakan kram di bagian bawah perut. Sekitar pukul 13.00, ia mengonsumsi ibuprofen. Beberapa jam kemudian, tepatnya sekitar pukul 18.20, ia tiba-tiba merasa ingin ke toilet.
Setelah duduk beberapa saat tetapi tidak terjadi apa-apa, Aubrie berdiri karena mengira dirinya mengalami sembelit.
Namun, ia kemudian merasakan sesuatu yang aneh di antara kedua kakinya. Saat melihat ke bawah, ia melihat sesuatu menonjol keluar dari tubuhnya.
Aubrie membeku. Ia mengira sesuatu yang serius sedang terjadi. Bahkan, ia sempat berpikir bahwa yang keluar adalah tumor dan dirinya akan meninggal.
Namun, tak lama kemudian, ia merasakan dorongan untuk mengejan. Saat itulah kepala bayi muncul di antara kedua pahanya. Dalam kondisi panik, naluri alami mengambil alih. Aubrie berjalan tertatih menuju kamar tidur untuk mengambil handuk bersih. Ia kemudian mengambil posisi bertumpu pada tangan dan lutut.
Tiga kali mengejan dengan cepat, Aubrie akhirnya berhasil meraih bayinya.
Bayi tersebut kemudian dibaringkan di lantai. Aubrie mengusap dadanya untuk membantunya menangis. Semua dilakukan tanpa banyak berpikir.
Setelah itu, ia menelepon 911 dan menjelaskan bahwa dirinya baru saja melahirkan bayi yang tidak pernah ia ketahui sedang dikandungnya. Operator kemudian bertanya apakah bayi tersebut perempuan atau laki-laki. Aubrie bahkan belum menyadari bahwa dirinya baru saja melahirkan seorang anak perempuan.
Operator tetap berada di sambungan telepon selama sekitar tiga menit hingga paramedis tiba. Dalam waktu tersebut, Aubrie sempat mengambil foto bayinya dan mengirimkannya kepada Preston.
Ia memberi tahu Preston bahwa dirinya baru saja melahirkan dan meminta kekasihnya segera datang ke rumah sakit. Ketika ambulans tiba, satu hal yang terus memenuhi pikirannya adalah bagaimana cara memberi tahu ibunya.
Dokter Sebut Cryptic Pregnancy
Di rumah sakit, Aubrie dan bayinya menjalani pemeriksaan. Ketika Preston tiba, ia juga dalam kondisi terkejut. Keduanya kemudian berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Seorang dokter menjelaskan bahwa Aubrie mengalami cryptic pregnancy, yakni kondisi ketika seorang perempuan tidak mengetahui bahwa dirinya sedang hamil.
Posisi plasenta yang berada di bagian depan disebut membuat Aubrie lebih sulit merasakan gerakan bayi. Aubrie kemudian menyadari bahwa kemungkinan besar bayi tersebut mulai dikandung tepat sebelum dirinya pergi ke London. Melihat usia dan kondisi keuangan mereka, Aubrie dan Preston sempat berpikir bahwa adopsi merupakan pilihan terbaik.
Namun, keesokan harinya, Preston datang ke kamar Aubrie sambil membawa boneka. Ia terlihat jelas baru saja menangis.
Preston ingin mempertahankan bayi tersebut. Aubrie merasa lega karena ternyata ia juga memiliki perasaan yang sama. Mereka kemudian memberi nama bayi perempuan itu Navie.
Empat hari setelah melahirkan, Aubrie dan Navie diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Mereka kemudian tinggal bersama Preston di apartemennya. Keduanya baru memberi tahu orang tua mereka ketika Navie berusia delapan hari.
Awalnya, ibu Aubrie tidak percaya. Bahkan setelah Aubrie menunjukkan Navie melalui FaceTime, sang ibu masih belum yakin.
Baru ketika Aubrie memperlihatkan gelang rumah sakit, ibunya menyadari bahwa semuanya benar-benar terjadi. Ia pun menangis bahagia.
Sempat Alami Depresi Pascapersalinan
Dua minggu setelah melahirkan, Aubrie mengalami depresi pascapersalinan yang cukup berat. Ia dan Navie kemudian tinggal bersama ibunya selama beberapa pekan.
Setelah itu, hubungan Aubrie dengan Navie semakin dekat. Ia mengaku senang merawat putrinya, meski menjadi seorang ibu merupakan proses belajar yang tidak mudah.
Kehadiran Navie juga membuat Aubrie harus menunda kuliahnya. Namun, ia berencana kembali ke kampus pada musim gugur ini untuk menyelesaikan studinya dan lulus pada Desember.
Kini, setiap melihat Navie, Aubrie masih sulit percaya dengan apa yang telah terjadi. “Saya tidak percaya telah mengandungmu selama sembilan bulan dan tidak mengetahuinya,” ujar Aubrie.
Menjadi ibu di usia 21 tahun memang tidak pernah ada dalam rencananya. Namun bagi Aubrie, kejutan terbesar dalam hidupnya justru berubah menjadi berkah terbesar. (RaM)
Gen Z Takeaway
Aubrie Morris, 21 tahun, tak pernah menyadari dirinya sedang hamil hingga tiba-tiba melahirkan bayi perempuan di apartemennya. Selama sembilan bulan, ia tetap mengonsumsi pil KB dan mengalami menstruasi setiap bulan tanpa mual, ngidam, kembung, atau kelelahan.








