Banjir Bandang di Tibet, 100 Warga Nepal Dikabarkan Hilang

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 4 September 2026 | 19:33 WIB
Banjir Bandang di Tibet, 100 Warga Nepal Dikabarkan Hilang
Banjir Bandang di Tibet, 100 Warga Nepal Dikabarkan Hilang [Ilustrasi banjir bandang Nepal/Gemini AI]

astakom.com, Jakarta – Peristiwa memilukan menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tiongkok. Sebanyak 100 warga negara Nepal masuk dalam daftar 261 warga asing yang dinyatakan hilang di area Tibet, Tiongkok, akibat banjir bandang dan tanah longsor dahsyat.

Awal mula bencana

Tragedi ini bermula pada 26 Agustus pada saat gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, pecah dalam ketinggian 5.200 meter. Kejadian tersebut bermula runtuhan es dan batu raksasa yang berubah menjadi aliran puing masif, menerjang distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavre, hingga Lembah Kathmandu. Aliran material ini juga menimbun pos lintas batas Gyirong di Daerah Otonom Xizang (Tibet).

Kementerian Luar Negeri Nepal membenarkan skala bencana ini di tengah usaha penyelamatan yang terus berjalan. Pemerintah Tiongkok mencatat ada 541 orang hilang di wilayah mereka, termasuk 261 warga asing.

"Sekitar seratus warga negara Nepal masih dinyatakan hilang di sisi perbatasan Tiongkok," tutue juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Lok B. Chhetri, dilansir dari Anadolu Ajansi pada Jumat (04/09/2026).

Chhetri menambahkan kalau ada sekitar 1.400 warga Nepal yang saat ini tertahan di Gyirong atau Kerung. Pemerintah Kathmandu terus berkomunikasi bersama pihak Tiongkok buat mereka yang ingin kembali lebih awal.

Ribuan korban jiwa

Secara keseluruhan, Nepal menyatakan ada 1.259 korban jiwa dan 5.083 orang hilang. Sementara itu, Tiongkok mengungkapkan 21 korban meninggal dunia dan 541 orang masih dalam pencarian.

Jika digabungkan, total korban meninggal mencapai 1.280 orang dan 5.624 orang hilang salah satunya 844 warga asing. Di sisi lain, sekitar 100 warga negara Tiongkok dilaporkan hilang di area Nepal.

Pencarian skala besar

Untuk menangani krisis ini, Nepal menerjunkan lebih dari 21.400 personel keamanan, termasuk 9.200 tentara. Penyelamatan fokus pada titik-titik krusial seperti terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), tempat sekitar 900 pekerja masih belum ditemukan.

Tim ahli analisis DNA dan pencarian dari Tiongkok, India, dan Korea Selatan turut diterjunkan.

"Prioritas kami tetap melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan yang sedang berlangsung dengan fokus pada penyelamatan di dalam terowongan, menemukan mereka yang masih hilang, dan memberikan dukungan berkelanjutan kepada semua pihak yang terdampak," ucap Chhetri.

Otoritas juga mulai melakukan pemakaman sementara bagi jenazah yang ditemukan setelah melalui proses forensik.

"Proses ini dirancang untuk memfasilitasi identifikasi di tahap selanjutnya dan memungkinkan keluarga menerima jenazah orang-orang terkasih mereka untuk upacara pemakaman terakhir setelah identification dipastikan," sambung Chhetri.

Desakan keadilan iklim

Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, telah memberikan pengarahan kepada korps diplomatik di Kathmandu. Bencana ini memunculkan desakan kuat terkait keadilan iklim bagi negara-negara rentan di kawasan pegunungan.

Khanal menyoroti soal risiko iklim yang tidak proporsional yang dihadapi oleh negara-negara rentan dan negara pegunungan seperti Nepal, dan menegaskan urgensi tindakan iklim, pembangunan ketahanan, keadilan iklim, dan mobilisasi sumber daya yang lebih besar untuk adaptasi, mitigasi, dan rekonstruksi yang tangguh.

Menanggapi situasi di perbatasan dan sorotan soal kompensasi iklim, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menyatakan kalau pihaknya bakal terus berkomunikasi dan berkoordinasi bersama pihak-pihak terkait buaf mengklarifikasi identitas mereka secara akurat dan menangani langkah-langkah selanjutnya.

Mengenai respons terhadap perubahan iklim global, Guo menegaskan.

"Perubahan iklim adalah tantangan global yang memerlukan upaya bersama dari semua pihak. Kami melakukan upaya aktif dan tepat menuju target puncak emisi karbon dan netralitas karbon, serta diperkirakan akan melakukan pengurangan intensitas emisi karbon terbesar di dunia." tegasnya.

Guo mendata kalau Tiongkok turut terdampak soal bencana lintas batas ini, sambil memberi tambahan,

"Kami siap memperkuat kerja sama dengan Nepal dan komunitas internasional lainnya untuk bersama-sama mencegah dan memitigasi dampak negatif perubahan iklim." jelasnya. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Bencana di perbatasan Nepal-Tibet ini bukan sekadar musibah biasa, melainkan pengingat keras kalau krisis iklim nyata dan dampaknya makin membahayakan. Pecahnya gletser yang menelan ribuan korban jiwa membuktikan kalau negara-negara rentan kerap menanggung akibat paling parah dari perubahan iklim. Saatnya anak muda makin vokal menyuarakan climate justice dan menuntut aksi nyata dari global sebelum semuanya terlambat.

Nepal Banjir Banjir bandang Bencana Alam

Infografis

Terkini