Momen Presiden Prabowo Bikin Putin Tersenyum Lewat Peribahasa Rusia dalam Pidatonya
astakom.com, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mendadak bikin heboh saat hadir sebagai tamu utama di Eastern Economic Forum (EEF) yang digelar di Vladivostok, Rusia, pada (03/09/2026).
Momen pidatonya mendadak terasa makin out of the box waktu melempar sebuah peribahasa lokal Rusia yang bikin Presiden Vladimir Putin tersenyum santai.
Bukan cuma nostalgia
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo sempat flashback ke masa-masa awal berdirinya Indonesia yang dapat support penuh dari Uni Soviet. Tapi, ia meyakinkan kalau kita nggak boleh cuma jalan di tempat atau sekadar romantis dengan masa lalu.
“Indonesia mengenang dukungan dari Uni Soviet pada masa-masa awal republik kami yang masih muda. Kami mengingat sejarah itu dan tidak pernah melupakan sahabat-sahabat kami. Namun, persahabatan tidak bisa hanya hidup dalam sejarah,” tutur Presiden Prabowo, dilansir dari Viory pada Jumat (04/09/2026).
“Generasi kita harus memiliki keberanian untuk menulis babak baru,” tegas Presiden.
Mari kita berdiri sederajat, mari kita berdikari, mari kita berkolaborasi buat manfaat kedua negara, dan mari kita dievaluasi menurut apa yang dapat diproduksi oleh usaha buat rakyat kita. Perdamaian gak terpisahkan dari pembangunan.
Akar konflik dunia
Menurut Presiden Prabowo, konflik yang timbul di dunia ini nggak lepas dari masalah dasarnya manusia sehari-hari. Kelaparan, pengangguran, ketidakadilan, dan penghinaan adalah benih-benih konflik.
Kawasan Timur Jauh yang menyiapkan kesempatan, negara-negara yang bisa memberi makan anak-anaknya, dan Asia-Pasifik yang melaksanakan perdagangan secara transparan ialah partisipasi konkret dan langgeng bagi perdamaian.
Kedaulatan menjadi fondasi utama lahirnya perdamaian, yang kemudian membuka jalan bagi pembangunan. Ketika pembangunan tersebut berhasil menyejahterakan masyarakat, maka perdamaian akan terjaga dalam jangka panjang. Oleh karena itu, tema forum ini bukanlah slogan ekonomi belaka, melainkan sebuah doktrin keamanan yang nyata.
Pepatah Rusia
Masuk ke highlight pidato, Presiden Prabowo menjembatani kultur kedua negara dengan pepatah yang bikin suasana makin hangat. Ia menyamakan prinsip kerja sama Rusia dengan budaya khas Indonesia.
“Saya memahami bahwa rakyat Rusia memiliki sebuah pepatah. ‘Tidak ada kemenangan jika kita berjuang sendirian’. Di Indonesia, kami memiliki pepatah yang sama. Kami menyebutnya Gotong Royong,” ucap Presiden disaat membacakan peribahasa tersebut.
Presiden Prabowo menegaskan segala tantangan berat akan menjadi lebih ringan jika dihadapi secara bergotong-royong. Meskipun masyarakat Indonesia memiliki keberagaman bahasa, pada hakikatnya semua disatukan oleh nilai-nilai kearifan leluhur yang serupa.
Ia menegaskan kalau seluruh topik yang dibahas hari ini mulai dari pos tarif FTA, koridor transportasi, sistem pembayaran, sampai proyek industri pada hakikatnya bermuara pada satu tujuan yang sama.
Dampak nyata diplomasi
Di penghujung pidato, Presiden Prabowo menekankan kalau semua diplomasi, proyek, dan urusan agreements teknis ini ujung-ujungnya dibuat demi masa depan bersama yang real.
"Agar seorang nelayan di Indonesia dan seorang pembuat kapal di Rusia sama-sama dapat menatap anak-anak mereka dan meyakini bahwa hari esok akan lebih baik daripada hari ini,” ungkap Presiden.
Presiden menyatakan kalau generasi muda di kedua negara tidak lagi memedulikan kubu politik atau aliansi global yang diikuti negara mereka. Hal yang benar-benar menjadi perhatian mereka adalah kontribusi nyata apa yang telah dibangun untuk menjamin masa depan mereka. (naD/RaM/aNs)
Gen Z Takeaway
Diplomasi itu nggak cuma soal urusan politik antarnegera yang terkesan kaku, tapi soal impact nyata buat kehidupan sehari-hari anak muda. Momen Prabowo bawa nilai gotong royong lewat peribahasa Rusia di forum global ngasih bukti kalau kolaborasi internasional ujung-ujungnya harus bikin masa depan generasi muda—mulai dari lapangan kerja sampai stabilitas ekonomi—jadi jauh lebih terjamin dan realistis.








