El Nino vs La Nina: Apa Bedanya dan Dampaknya buat Indonesia?

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 4 September 2026 | 05:08 WIB
El Nino vs La Nina: Apa Bedanya dan Dampaknya buat Indonesia?
El Nino vs La Nina: Apa Bedanya dan Dampaknya buat Indonesia? [Ilustrasi/AI]

astakom.com, Jakarta - Pernah dengar El Nino bikin Indonesia lebih kering, sementara La Nina sering dikaitkan dengan hujan yang lebih banyak? Dua istilah ini cukup sering muncul ketika kondisi cuaca dan iklim sedang berubah, tetapi ternyata keduanya bukan sekadar soal panas atau hujan.

El Nino dan La Nina merupakan bagian dari fenomena ENSO yang berkaitan dengan perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur. Perubahan ini kemudian dapat memengaruhi pola atmosfer dan curah hujan, termasuk di Indonesia.

Melansir keterangan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dampak El Nino dan La Nina terhadap Indonesia dapat berbeda berdasarkan musim dan wilayah. Lantas, apa sebenarnya perbedaan kedua fenomena tersebut?

Apa itu El Nino?

El Nino merupakan kondisi ketika suhu permukaan laut (SPL) atau sea surface temperature (SST) di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur lebih panas dibandingkan kondisi normalnya.

BMKG mengelompokkan El Nino berdasarkan nilai Oceanic Niño Index (ONI). Kategorinya meliputi:

  • Lemah: 0,5 hingga 0,9°C
  • Moderat: 1,0 hingga 1,4°C
  • Kuat: 1,5 hingga 1,9°C
  • Sangat kuat: sama dengan atau lebih dari 2,0°C

Sementara itu, kondisi netral berada ketika nilai ONI berada di antara -0,5 hingga 0,5°C.

Di Indonesia, El Nino umumnya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan. BMKG menjelaskan, penurunan curah hujan terutama terlihat pada periode Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON). Pada Desember-Januari-Februari (DJF), pengaruh El Nino umumnya berupa penurunan curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur, sedangkan pada Maret-April-Mei (MAM) pengaruhnya dapat beragam menurut wilayah.

Namun, El Nino bukan berarti Indonesia tidak akan mengalami hujan sama sekali. BMKG menjelaskan bahwa pada periode tertentu masih terdapat wilayah yang mengalami peningkatan curah hujan meskipun fenomena El Nino berlangsung.

La Nina, kebalikannya?

Jika El Nino ditandai kondisi laut yang lebih hangat, La Nina justru terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur lebih dingin dibandingkan normalnya. Fenomena ini juga dapat mengubah pola sirkulasi atmosfer dan memengaruhi pola iklim serta cuaca global.

Berdasarkan kriteria BMKG, La Nina terbagi menjadi:

  • Lemah: -0,5 hingga -0,9°C
  • Moderat: -1,0 hingga -1,4°C
  • Kuat: -1,5 hingga -1,9°C

Kriteria tersebut menunjukkan bahwa semakin negatif nilai ONI, semakin kuat kategori La Nina yang terjadi.

Di Indonesia, La Nina umumnya berkaitan dengan peningkatan curah hujan. BMKG mencatat peningkatan tersebut umumnya berkisar 20-40 persen dibandingkan curah hujan pada tahun netral, meski beberapa wilayah dapat mengalami peningkatan lebih dari 40 persen.

Meski begitu, La Nina juga bukan berarti seluruh Indonesia bakal hujan terus. Dampaknya berbeda berdasarkan musim dan wilayah. Pada periode tertentu, peningkatan curah hujan saat musim kemarau bahkan dapat membuat kondisi tersebut dikenal sebagai kemarau basah.

Apa bedanya?

Biar lebih gampang dibedakan, berikut poin utama El Nino dan La Nina berdasarkan penjelasan BMKG:

El Nino

  • Suhu permukaan laut di Pasifik tropis bagian tengah dan timur lebih panas dari normal.
  • Cenderung menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia.
  • Dampaknya lebih terlihat pada periode tertentu, terutama JJA dan SON.
  • Dapat meningkatkan risiko kekeringan.
  • Berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
  • Kategorinya meliputi lemah, moderat, kuat dan sangat kuat.

La Nina

  • Suhu permukaan laut di Pasifik tropis bagian tengah dan timur lebih dingin dari normal.
  • Cenderung menyebabkan peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
  • Peningkatan curah hujan umumnya sekitar 20-40 persen dibandingkan tahun netral.
  • Dapat meningkatkan risiko banjir, banjir bandang dan tanah longsor.
  • Dapat disertai risiko angin kencang, puting beliung hingga badai tropis.
  • Kategorinya meliputi lemah, moderat dan kuat.

Bukan berarti ekstrem

El Nino sering dianggap sebagai kondisi ketika Indonesia tidak akan mengalami hujan sama sekali. Padahal, BMKG menjelaskan bahwa fenomena ini memang dapat menurunkan curah hujan, tetapi pengaruhnya tidak otomatis membuat seluruh wilayah Indonesia kering sepanjang waktu.

Begitu pula dengan La Nina. Peningkatan curah hujan tidak berarti Indonesia bebas dari musim kemarau. Pengaruh La Nina dapat berbeda antarwilayah dan musim, termasuk karena adanya interaksi dengan sistem monsun.

BMKG juga menjelaskan bahwa dampak ENSO tidak seragam di seluruh Indonesia. Saat La Nina, misalnya, peningkatan curah hujan dapat terjadi di sebagian besar wilayah pada periode JJA, sementara pada periode DJF pengaruhnya tidak selalu sama di wilayah tengah dan barat Indonesia.

Karena itu, El Nino dan La Nina sebaiknya tidak dipahami sebagai “tombol” yang otomatis membuat seluruh Indonesia panas, kering, atau hujan. Kondisinya tetap bergantung pada wilayah, musim, dan interaksi dengan faktor iklim lainnya. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Jadi, jangan cuma hafal El Nino = panas dan La Nina = hujan. Yang lebih tepat, El Nino adalah kondisi ketika suhu permukaan laut Pasifik tropis bagian tengah dan timur lebih hangat dari normal, sedangkan La Nina lebih dingin dari normal. Dampaknya ke Indonesia memang cenderung berlawanan, tetapi tidak selalu sama di setiap wilayah dan musim.

El Nino El ñino 2026 Fenomena El Nino La Nina Fenomena La Nina Fenomena Alam Fenomena Iklim

Infografis

Terkini