Apa Itu Ubi Bombing, Apakah Jadi Solusi Karhutla atau Cuma Gimmick?

Penulis: Hapsari
Editor: ⁠Henni Rachma Sari
Jumat, 4 September 2026 | 09:08 WIB
Apa Itu Ubi Bombing, Apakah Jadi Solusi Karhutla atau Cuma Gimmick?
ilustrasi tepung singkong yang digadang jadi ubi bombing (Gemini AI - astakom.com)

astakom.com, Jakarta - Metode memadamkan kebakaran hutan menggunakan tepung singkong sempat jadi perbincangan hangat masyarakat usai Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan hal tersebut.

Padahal, yang dimaksud bukan menaburkan tepung yang masih berbentuk bubuk. Tetapi tepung singkong yang sudah diolah menjadi pati dan diberi senyawa kimia sehingga diharapkan bisa memadamkan api, istilah ini dinamai "ubi bombing".

Presiden Prabowo Subianto kemudian memperkenalkan istilah ubi bombing ini sebagai salah satu alternatif buat menangani kebakaran hutan dan lahan alias karhutla.

Ubi bombing merupakan inovasi bahan pemadam berbahan baku singkong. Ide ini muncul saat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memaparkan inovasi itu saat rapat penanganan karhutla di Palembang pada 24 Agustus 2026 lalu.

Setelah mendengar penjelasan itu, Prabowo meminta agar inovasi itu dikembangkan dan diuji dalam skala yang lebih besar. Bahkan, ia membuka kemungkinan bahan berbasis singkong itu digunakan dengan konsep seperti water bombing, yaitu dijatuhkan dari udara menggunakan helikopter.

Berawal dari temuan Babinsa di Lubuklinggau

Kapolri Listyo Sigit menyebut bahwa temuan ini berasal dari anggota Babinsa di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis juga menjelaskan bahwa inovasi tersebut sebelumnya telah dipaparkan ketika Kapolri dan Menko Polkam berkunjung ke wilayah itu.

Menyoal bahan baku singkong, Indonesia punya pemasok yang cukup besar yakni Lampung. Provinsi tersebut merupakan salah satu sentra terbesar produksi singkong di Indonesia. Data Kementerian Pertanian mencatat produksi ubi kayu Lampung mencapai sekitar 7,53 juta ton pada 2025.

Singkong bukan sekadar bahan makanan atau bahan baku tapioka. Tanaman ini punya kandungan pati yang dapat diolah menjadi material dengan karakteristik tertentu, termasuk kemampuan meningkatkan kekentalan dan mempertahankan air.

Menurut BRIN dari laman resminya, pati singkong berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari material fire retardant. Dalam formulasi yang sedang dikaji, pati singkong tidak bekerja sendirian, tetapi dapat dikombinasikan dengan air, wetting agent, dan senyawa fosfat seperti ammonium polyphosphate atau APP.

Periset Kimia Molekuler BRIN Julinton menjelaskan bahwa penggunaan pati singkong dalam teknologi pemadam memiliki dasar ilmiah yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui rekayasa kimia dan formulasi.

“Pernyataan Bapak Presiden terkait penggunaan bahan berbasis singkong untuk mendukung pemadaman kebakaran memiliki dasar ilmiah yang kuat. Namun, formulasi, efektivitas, keselamatan, dan dampak lingkungannya tetap harus divalidasi melalui pengujian laboratorium dan lapangan secara terukur,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (27/08/2026).

Bukan tepung tapi gel

Sederhananya, yang diharapkan bukanlah tepung singkong biasa dilempar ke api, tapi diolah dulu sehingga berbentuk gel. Konsep gel inilah yang membuat inovasi tersebut menarik untuk karhutla, terutama di lahan gambut.

Salah satu kelemahan air dalam pemadaman kebakaran adalah sifatnya yang mudah mengalir dan menguap. Ketika disemprotkan ke permukaan tanah yang sangat panas, sebagian air dapat segera mengalir keluar dari daerah sasaran atau berubah menjadi uap. Kondisi tersebut membatasi lamanya air berada pada material yang terbakar.

Zat singkong berupa pati yang terdapat dalam singkong diformulasikan supaya menghasilkan bahan yang lebih kental dan mampu menempel atau mempertahankan air lebih lama pada permukaan bahan yang terbakar.

Material berbentuk gel memiliki tingkat ketahanan lebih tinggi sehingga berpotensi bertahan dan melekat lebih lama pada permukaan.

Dengan mempertahankan air pada lokasi kebakaran, gel dapat memperpanjang proses pendinginan. Air yang terkandung di dalam gel menyerap energi panas sebelum menguap sehingga temperatur bahan bakar dapat menurun.

Dalam penelitian yang pernah dilakukan pakar forensik kebakaran IPB University, Prof. Bambang Hero Saharjo, material berbasis tepung memang pernah dikembangkan menjadi gel. Namun, perlu dicatat, bahan yang pernah diuji Bambang adalah tepung jagung, bukan tepung singkong.

Gel tersebut dicampurkan dengan air dalam takaran tertentu dan kemudian dapat diaplikasikan menggunakan pompa serta selang. Material gel membantu mempertahankan air lebih lama dan dapat menutup pori-pori gambut sehingga bara di bawah permukaan lebih sulit kembali menyala.

Karhutla di gambut sulit dipadamkan

Karhutla di lahan gambut memang punya karakter yang berbeda dibandingkan kebakaran biasa.

Api tidak selalu terlihat sebagai kobaran besar di permukaan. Ketika gambut dalam kondisi kering, api dapat masuk ke lapisan bawah dan terus membara. Bahkan ketika api di permukaan terlihat sudah padam, bara di bawah tanah masih dapat bertahan dan kemudian muncul kembali.

Bambang menjelaskan bahwa karakter gambut yang mudah mengering dan kemampuan api untuk bertahan di bawah permukaan menjadi salah satu alasan karhutla di Kalimantan sulit ditangani.

Karena itu, tantangannya bukan sekadar membuat api terlihat padam. Yang lebih penting adalah memastikan bara di dalam gambut benar-benar mati.

Kalau material berbentuk gel mampu mempertahankan air lebih lama dan menutup permukaan gambut, secara teori hal itu bisa membantu proses pendinginan sekaligus mengurangi kemungkinan bara muncul lagi.

Presiden Prabowo meminta bahan berbasis singkong tersebut diproduksi dalam skala lebih besar dan diuji secara lebih luas supaya karhutla segera bisa tertangani.

Prabowo bahkan membayangkan bahan tersebut dapat digunakan dengan konsep yang mirip water bombing, termasuk untuk menjangkau titik kebakaran dari udara.

Water bombing sudah menjadi salah satu metode yang digunakan pemerintah dalam operasi karhutla, sementara ubi bombing masih berada dalam tahap pengembangan dan pengujian.

Karena itu, jika nantinya terbukti efektif, ubi bombing lebih masuk akal dipandang sebagai tambahan alat dalam sistem penanganan karhutla, bukan otomatis menggantikan seluruh metode pemadaman yang sudah ada.

BRIN masih menguji ubi bombing

BRIN dan Polri masih melakukan pengujian lebih lanjut. Mulai dari formulasi, dosis, cara aplikasi, luas cakupan, efektivitas terhadap berbagai jenis bahan bakar, kemampuan menangani gambut yang terbakar di bawah permukaan, hingga dampaknya terhadap lingkungan.

BRIN menyebut penggunaan pati singkong memang memiliki dasar ilmiah yang dapat dikembangkan. Tetapi formulasi, efektivitas, keselamatan, dampak lingkungan, hingga teknik aplikasinya masih harus diuji.

Tantangannya akan jauh berbeda ketika bahan tersebut digunakan untuk karhutla berskala besar.

Misalnya, berapa banyak material yang dibutuhkan untuk satu hektare? Seberapa efektif bahan tersebut ketika disemprotkan dari udara? Apakah gel bisa mencapai permukaan gambut secara merata? Berapa lama efek pendinginannya bertahan? Dan apakah formulasi tersebut aman bagi lingkungan?

Semua pertanyaan itu masih membutuhkan jawaban melalui penelitian dan pengujian. (hPs/RaM/aNs))

Gen Z Takeaway

Spill istilah Ubi bombing yang lagi hits diperbincangkan, jadi ini adalah inovasi baru yang lagi dikembangkan buat bantu menangani karhutla dengan memanfaatkan pati singkong. Berbeda dari water bombing yang pakai air, ubi bombing nantinya diolah menjadi gel agar bisa menahan air lebih lama di area yang terbakar, terutama lahan gambut. Ide ini berasal dari temuan Babinsa di Lubuklinggau dan kemudian mendapat perhatian Presiden Prabowo Subianto. Meski terdengar menjanjikan, ubi bombing masih perlu banyak pengujian untuk membuktikan efektivitas, keamanan, dan dampaknya terhadap lingkungan.

Ubi Bombing Inovasi Ubi Bombing Presiden Prabowo Karhutla Karhutla Kalbar

Infografis

Terkini