Waspada! Jadi Perhatian Orang Tua, 5 Tanda Anak Berisiko Dieksploitasi Online
astakom.com, Jakarta - Aktivitas online kini sudah menjadi bagian dari keseharian anak, mulai dari bermain gim hingga berkomunikasi dengan teman. Namun, ruang digital juga bisa menjadi tempat munculnya ancaman dan manipulasi yang membuat anak rentan menjadi korban eksploitasi.
Melansir dari The Guardian pada Selasa, (01/09/2026), otoritas di berbagai negara memperingatkan peningkatan sadistic online exploitation (SOE). Dalam modus ini, pelaku dapat menggunakan ancaman dan manipulasi untuk memaksa anak melakukan tindakan berbahaya secara online.
Psikolog forensik dan klinis Jessica Pratley mengatakan orang tua perlu memperhatikan perubahan pada kondisi dan kesejahteraan anak.
“Orang tua paling mengenal anak mereka,” ujarnya melansir dari laman The Guardian.
5 tanda perlu diperhatikan
Australian Federal Police (AFP) mencatat beberapa perubahan yang dapat menjadi tanda anak berpotensi menjadi korban SOE. Berikut di antaranya:
- Pola tidur dan makan berubahAnak tiba-tiba mengalami perubahan kebiasaan tidur atau pola makannya.
- Makin tertutup saat onlineAnak menjadi lebih rahasia soal aktivitas digital atau menghabiskan waktu lebih lama dengan perangkat.
- Menjauh dari sekitarAnak mendadak menarik diri dari keluarga, teman, atau aktivitas yang sebelumnya rutin dilakukan.
- Muncul tanda menyakiti diriPada remaja, perilaku menyakiti diri atau tindakan berisiko perlu mendapat perhatian serius.
- Bahasa dan sikap berubahAnak mulai menggunakan bahasa atau simbol ekstrem hingga menolak nilai yang sebelumnya mereka pegang.
Meski begitu, satu tanda saja tidak otomatis berarti anak menjadi korban eksploitasi online. Orang tua perlu melihat perubahan tersebut sebagai sebuah pola, terutama jika terjadi secara tiba-tiba dan cukup signifikan.
Komunikasi jadi kunci
Selain memperhatikan perubahan perilaku, komunikasi dengan anak juga penting. Pratley mengatakan anak akan lebih mudah bercerita ketika memiliki hubungan yang membuat mereka merasa aman.
“Pengungkapan terjadi dalam konteks hubungan,” kata Pratley.
Orang tua pun disarankan rutin membicarakan kehidupan anak, termasuk pertemanan, sekolah, minat, hingga aktivitas mereka di dunia digital. Miranda Bain dari Act for Kids menilai komunikasi terbuka dapat membuat anak lebih nyaman untuk bercerita ketika mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan di internet.
“Orang tua harus bisa membuka pintu untuk percakapan tersebut,” ujarnya.
Nina Vaaranen-Valkonen, psikoterapis sekaligus CEO Protect Children, menambahkan bahwa korban bisa merasa malu dan menyalahkan diri sendiri setelah mengalami eksploitasi online. Padahal, manipulasi yang dilakukan pelaku dapat membuat anak merasa seolah-olah mereka yang bertanggung jawab.
“Rasa bersalah dan malu adalah milik pelaku,” tegas Nina Vaaranen-Valkonen.
Karena itu, jika anak mulai bercerita tentang pengalaman yang membuatnya tidak nyaman, orang tua sebaiknya mendengarkan dengan tenang dan tidak langsung memarahi atau menyalahkan. Dukungan yang aman dapat membantu anak lebih berani mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. (deA/RaM)
Gen Z Takeaway
Anak mendadak berubah, makin tertutup, atau menjauh dari sekitar? Jangan langsung ngegas. Coba ajak ngobrol dengan tenang dan jadi tempat aman untuk cerita. Di dunia digital, dukungan orang tua bisa jadi langkah penting untuk melindungi anak.









