Nepal-Tiongkok Diterjang Banjir Bandang: 1.130 Meninggal, 4.500 Korban Hilang

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 3 September 2026 | 08:08 WIB
Nepal-Tiongkok Diterjang Banjir Bandang: 1.130 Meninggal, 4.500 Korban Hilang
Nepal-Tiongkok Diterjang Banjir Bandang: 1.130 Meninggal, 4.500 Korban Hilang [Ilustrasi banjir bandang Nepal/Gemini]

astakom.com, Jakarta – Duka mendalam menyelimuti kawasan perbatasan Nepal dan Tiongkok. Dampak banjir bandang serta tanah longsor yang terjadi sejak pekan lalu benar-benar out of control. Hingga saat ini, total korban tewas telah menembus 1.130 jiwa, sementara hampir 4.500 orang lainnya masih dikabarkan hilang di tengah kondisi lapangan yang super chaos.

Evakuasi all out

Mengutip Anadolu, Rabu (02/09/2026), Otoritas Pengurangan Risiko Bencana dan Manajemen Nepal mengonfirmasi kalau 1.114 jenazah sudah ditemukan sejak banjir bandang menerjang wilayah Nepal pada 26 Agustus. Selain itu, sebanyak 292 orang mengalami luka-luka dan 3.916 orang lainnya masih dalam pencarian.

Proses evakuasi pun terus dipacu secara all out. Sekitar 12.000 warga telah dievakuasi dari zona bahaya, sementara lebih dari 21.000 personel keamanan termasuk unsur tentara dan polisi dikerahkan untuk menyisir lokasi bencana. Pihak otoritas memprediksi secara keseluruhan ada sekitar 1,6 juta orang yang terdampak oleh musibah ini.

Di sisi perbatasan Tiongkok, situasi juga tak kalah memprihatinkan. Total 16 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 546 orang masih hilang, termasuk 261 warga negara asing, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Xinhua.

Pemicu gletser retak

Bencana dahsyat ini bermula pada 26 Agustus lalu ketika gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, mengalami retakan parah di ketinggian sekitar 5.200 meter. Longsoran es dan batu skala besar tersebut dengan cepat berubah menjadi aliran material masif yang menyerang lembah-lembah di sepanjang perbatasan.

Terjangan air, lumpur, dan material batu menghantam beberapa kawasan di Nepal, seperti Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavre, hingga Lembah Kathmandu. Sementara di wilayah Tiongkok, runtuhan material menimbun pos perlintasan perbatasan Gyirong di Daerah Otonomi Xizang.

Butuh bantuan internasional

Proses pencarian dan identifikasi para korban berjalan sangat berat akibat parahnya dampak bencana yang terjadi. Menghadapi situasi yang kian mendesak ini, pemerintah Nepal menghimbau bantuan internasional berupa lemari pendingin jenazah, peralatan tes DNA, teknologi remote sensing (penginderaan jauh), hingga armada drone untuk memetakan area-area yang terdampak.

Medan terjal hancur

Merespons kondisi krisis ini, Tiongkok, Korea Selatan, dan India langsung menerjunkan tim penyelamat ke lokasi. Namun, medan yang amat terjal serta jalur transportasi yang hancur total membuat mobilitas tim lapangan sangat terbatas.

Media pemerintah Tiongkok melaporkan kalau tim penyelamat bahkan harus menempuh perjalanan berjalan kaki hingga 10 jam untuk mencapai area perlintasan Gyirong. Sesampainya di sana, situasi digambarkan sangat memprihatinkan karena tidak ada lagi sisa bangunan maupun infrastruktur yang berdiri.

Hingga kini, operasi pencarian dan penyelamatan masih terus dilakukan demi menemukan ribuan korban yang belum diketahui nasibnya. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Bencana gletser retak di perbatasan Nepal-Tiongkok makin krisis: korban jiwa tembus 1.130 orang, ribuan masih hilang, dan jalur evakuasi hancur total sampai tim penyelamat harus jalan kaki 10 jam. Stay alert sama dampak krisis iklim yang makin nyata ini!

Nepal Tiongkok Banjir Banjir bandang

Infografis

Terkini