PM India Temui Presiden Iran, Desak Kebebasan Navigasi di Selat Hormuz
astakom.com, Jakarta – Perdana Menteri India, Narendra Modi, baru aja menyerukan pentingnya menjaga kebebasan navigasi dan perdagangan internasional. Hal ini ditegaskan Modi pas ketemu langsung sama Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, di tengah situasi Selat Hormuz yang makin memanas.
Kedua pemimpin negara tersebut bertatap muka di ibu kota Kyrgyzstan, Bishkek, pada Senin (31/08/2026) di sela-sela KTT Shanghai Cooperation Organization (SCO). Pertemuan ini menjadi ajang buat ngebahas perkembangan terbaru di kawasan Timur Tengah sekaligus saling tukar pandangan mengenai situasi yang terus berkembang.
Tatap Muka Perdana
Dilansir dari Anadolu Agency pada Selasa, (1/09/2026) ini adalah momen pertama kalinya Modi dan Pezeshkian ketemu langsung secara face to face sejak perang AS-Iran pecah pada akhir Februari lalu. Walaupun baru ketemu lagi, sebelumnya mereka sebenarnya udah beberapa kali spill kondisi dan berkomunikasi via telepon.
Diplomasi Tanpa Kekerasan
Dalam obrolan tersebut, Modi secara terbuka menyampaikan keprihatinannya atas tensi kawasan yang makin bertambah. Ia kembali menekankan sikap konsisten India kalau seluruh konflik sejatinya harus diselesaikan lewat jalan dialog dan diplomasi, bukan kekerasan.
Nggak cuma itu, Modi juga menekankan pentingnya effort berkelanjutan demi menciptakan perdamaian dan stabilitas jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Khusus mengenai Selat Hormuz, Modi wanti wanti agar kebebasan navigasi dan lalu lintas perdagangan tetap terjaga aman tanpa gangguan.
“Warga sipil dan infrastruktur sipil, termasuk pelayaran komersial dan para pelaut, tidak boleh menjadi sasaran dalam keadaan apa pun,” ucap pernyataan resmi dari kantor Perdana Menteri India.
Panasnya Selat Hormuz
Pertemuan Modi dan Pezeshkian ini terjadi di momen yang krusial banget. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali meroket setelah militer AS melancarkan serangan ke Pulau Larak, sebuah pulau yang lokasinya sangat dekat dengan jalur perairan strategis tersebut. Serangan ini langsung memicu ancaman respons balik dari pihak Iran.
Sebagai kilas balik, perselisihan antara Teheran dan Washington emang udah berlangsung sejak perang pecah akibat serangkaian serangan ke Iran pada akhir Februari.
Kedua belah pihak sebenarnya sempat mencapai kesepakatan kerangka pada Juni lalu berkat mediasi dari Pakistan dan Qatar. Sayangnya, proses damai itu mendadak stuck dan mengalami kebuntuan akibat perbedaan pandangan mengenai navigasi di Selat Hormuz.
Ancaman Krisis Energi
Dampaknya, pada Juli lalu, AS kembali melancarkan kampanye serangan udara selama dua pekan penuh dan memberlakukan lagi blokade laut terhadap Iran.
Sebelumnya, Selat Hormuz merupakan vital supply chain bagi perdagangan energi global. Kalau sampai jalur ini terganggu atau ada blokade, dampaknya bakal berantai dan bikin kacau rantai pasokan serta perdagangan internasional secara keseluruhan. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Konflik AS-Iran yang makin panas di Selat Hormuz bikin dunia ketar-ketir karena jalur ini vital banget buat pasokan energi global. Kalau lalu lintas laut di sana macet atau kena blokade, dampaknya bakal berantai sampai ke harga bensin dan barang harian yang makin mahal. India akhirnya turun tangan lewat diplomasi biar jalur pelayaran tetap aman dan krisis ekonomi global bisa dicegah.









