Tiga Dekade Berkarya & Masih On Fire di Balik Lensa
astakom.com, Jakarta – Fotografi bukan sekadar profesi atau urusan menekan tombol shutter. Bagi Ade Rahardjo, perjalanan selama 37 tahun berkarya membuktikan bahwa fotografi adalah cara melihat dan memaknai kehidupan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, satu hal yang tetap bertahan: rasa, insting, pengalaman, dan karakter seorang fotografer tak akan pernah sepenuhnya tergantikan.
Berawal dari tugas arsitektur
Fotografi awalnya bukanlah pilihan karier utama Ade Rahardjo. Semua bermula pada tahun 1989 saat ia menempuh pendidikan arsitektur di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta. Kala itu, ia diwajibkan membuat dokumentasi foto untuk menyelesaikan tugas kuliah. Tanpa adanya kamera ponsel seperti sekarang, seluruh proses mengandalkan kamera analog dan film.
Kebutuhan akademis tersebut justru menyulut rasa ingin tahu Ade. Ia mulai mendalami mekanisme kamera, jenis film, exposure, komposisi, hingga teknik pemotretan. Jam terbangnya bertambah seiring banyaknya rekan yang meminta bantuannya untuk dipotret. Latar belakang arsitektur ini kelak menjadi fondasi visual yang kuat. Bagi Ade, arsitektur dan fotografi memiliki banyak irisan—terutama dalam memahami komposisi, perspektif, ruang, garis, dan keseimbangan visual.
Krisis 1998 dan arah baru
Di awal kariernya, Ade lebih banyak berfokus pada fotografi arsitektur. Namun, krisis ekonomi 1998 menghantam sektor pembangunan dan membuat proyek di bidang tersebut merosot tajam. Situasi ini mendorong Ade untuk mengalihkan fokusnya ke fotografi manusia dan potret (portraiture).
Dari fotografi potret, ia melebarkan sayap ke ranah komersial. Berbagai bidang seperti wedding, company profile, event, kegiatan komunitas, hingga lifestyle menjadi bagian dari portofolio profesionalnya. Walau menangani beragam genre, fotografi potret tetap menjadi salah satu kekuatan utamanya.

Memotret Presiden hingga tamu negara
Perjalanan profesionalnya membawa Ade mendapat kesempatan memotret sejumlah tokoh penting, termasuk Presiden Megawati Soekarnoputri dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ade menegaskan bahwa pemotretan tersebut dilakukan untuk kebutuhan media dan komersial, bukan dalam kapasitas sebagai fotografer resmi kepresidenan. Pengalaman ini membawanya berinteraksi langsung dengan lingkungan Istana serta berbagai tokoh nasional dan internasional.
Aksesnya ke lingkungan Istana bermula dari rekomendasi Armaya Tohir (Beck Tohir), fotografer dokumentasi Istana sejak era Presiden Soeharto. Bersama rekannya, Marson, Ade mendapat kesempatan mengabadikan momen-momen penting di Istana Negara.
Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi saat Presiden Megawati mengadakan pertemuan empat mata dengan Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong di Batam. Saat itu, Ade bertugas untuk PGN dalam agenda peresmian proyek gas menuju Singapura. Di tengah pengawalan ketat dan keterbatasan waktu yang kurang dari lima menit, ia mendapatkan izin khusus untuk mengabadikan momen bersejarah tersebut. Bagi Ade, kesempatan itu menjadi pelajaran berharga tentang kepercayaan dan profesionalisme di lingkungan berprotokol tinggi.
Pengalaman tiga dekade dan disiplin era analog
Ade mulai menangani fotografi pernikahan sejak 1991. Setelah lebih dari tiga dekade, bidang ini masih menjadi bagian dari aktivitasnya. Jika dahulu ia menangani seluruh rangkaian acara pernikahan, kini ia lebih selektif dan fokus memotret pengantin secara khusus maupun dokumentasi keluarga, terutama para orang tua.
Selain wedding, ia tetap aktif mengerjakan company profile, fotografi komunitas, dan lifestyle—di mana permintaan untuk fotografi lifestyle belakangan ini relatif lebih dominan.
Pengalaman bergelut dengan kamera film memberi pelajaran mendasar bagi disiplin kerjanya: jangan asal menekan shutter. Dengan keterbatasan sekitar 36 exposure per roll film dan tanpa fasilitas pratinjau (preview), fotografer dituntut memperhitungkan exposure, komposisi, angle, perspektif, arah cahaya, cuaca, hingga timing sebelum mengambil gambar.
“Kalau bisa pada saat kita motret itu sudah mendekati hampir 100 persen keinginan,” ungkap Ade dalam suatu perbincangan yang dikutip astakom.com pada Minggu (30/08/20260.
Bagi Ade, insting dan kedisiplinan inilah yang terbangun kuat pada fotografer generasi analog. Kemudahan teknologi digital memang luar biasa, namun terkadang membuat proses pengambilan keputusan terlalu dibebankan pada tahap penyuntingan (editing). Padahal, fotografer idealnya mampu menghasilkan gambar yang kuat sejak dari dalam kamera.

Presisi cahaya dan tantangan era AI
Kedisiplinan teknis tersebut terbukti saat Ade mengerjakan proyek company profile Toyota Astra. Ia tiba di kawasan Sunter, Jakarta Utara, sekitar pukul lima pagi membawa kamera medium format Mamiya 6x7. Hasil fotonya membuat pihak klien terheran-heran dan menanyakan apakah gambar tersebut telah disunting menggunakan komputer karena warna langit biru yang sangat bersih.
Padahal, saat itu teknologi penyuntingan digital belum ada. Ade sepenuhnya mengandalkan perhitungan waktu, arah cahaya, kondisi udara, dan pemilihan sudut pemotretan yang tepat.
Terkait perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, Ade tidak bersikap anti-teknologi. Ia mengakui efisiensi dan kecepatan AI dalam mengolah materi visual. Namun, menurutnya ada elemen manusia yang tidak dapat direplikasi teknologi: sudut pandang (angle), perspektif, insting, pengalaman, dan karakter fotografer.
“Resepnya sama, tapi yang kokinya beda. Ya sudah pasti hasilnya beda.” ujar pria berusia 55 tahun tersebut.
Karakter dan konsistensi inilah yang membuat klien-klien lamanya tetap mempercayakan kebutuhan visual mereka kepadanya selama puluhan tahun.
Passion otomotif dan Studio Bakoel Orange
Di luar dunia fotografi, Ade memiliki kegemaran di bidang otomotif, khususnya mobil klasik Mercedes-Benz Tiger sejak awal 1990-an. Kendaraan ini bahkan menjadi mobil pengantin pada pernikahannya. Saat ini, ia mengoleksi delapan unit mobil: lima Mercedes-Benz Tiger, dua Mercedes-Benz Boxer, dan satu Mini. Salah satu koleksi paling ikonik adalah Mercedes-Benz Tiger 200 berwarna oranye dengan nomor polisi B 251 ADE. Ade juga pernah menjabat sebagai Ketua Mercy Tiger Club Indonesia periode 2015–2017.
Dalam menjalankan aktivitas profesionalnya, Ade mengusung bendera studio bisnisnya sendiri.
"Memakai brand studio Bakoel Orange. Filosofinya Bakoel adalah tempat makan nasi, jadi studio inilah tempat gua dan para orang-orang yang ada di dalamnya mencari makan dan Orange adalah warna kreatifitas," tutur Ade
Filosofi urip iku urup
Tiga puluh tujuh tahun sejak memotret pada tahun 1989, teknologi telah berpindah dari film ke digital, lalu ke smartphone dan visual generatif AI. Namun fondasi fotografi Ade tetap berakar pada pemahaman ruang dari latar belakang arsitektur, kedisiplinan era analog, serta adaptabilitas di dunia komersial.
Perjalanan panjang tersebut bermuara pada filosofi hidup yang dipegangnya: “Urip iku urup.”
Prinsip Jawa ini berarti "hidup itu menyala"—keberadaan seseorang hendaknya memberi manfaat dan menjadi penerang bagi sesama. Bagi Ade, menjaga silaturahmi, berbagi pengalaman, dan saling membantu adalah cara menjaga agar api kehidupan tersebut tetap menyala. Selama cahaya itu ada, perjalanan Ade Rahardjo dalam merawat rasa lewat kamera masih terus berlanjut. (aNs)
Gen Z Takeaway
Ade Rahardjo tuh beneran definisi legend yang tetep stay fire! Berawal dari spill tugas kuliah arsitektur di tahun 1989, doi sukses level up jadi fotografer komersial kelas atas yang pernah membidik tokoh sekelas Presiden Megawati dan Wapres Jusuf Kalla. Meski era AI dan kamera digital makin bikin serba instan, vibes kedisiplinan era analog—mulai dari mainan sudut pandang, rasa, sampai presisi pencahayaan—bikin karya doi tetep punya soul tersendiri yang gak bakal bisa di-copy-paste sama teknologi. Luar biasanya lagi, di luar kesibukan slay di dunia fotografi dan ngoleksi mobil Mercy Tiger klasik lewat brand Studio Bakoel Orange, Ade tetep pegang teguh prinsip "Urip iku urup" biar tetep impactful dan menyala buat sesama!









