S&P Pertahankan Rating BBB, Prospek Ekonomi RI Dinilai Tetap Tangguh dan On Track
astakom.com, Jakarta - Lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings, resmi mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level BBB dan peringkat jangka pendek di A-2, lengkap dengan outlook yang tetap stabil.
S&P menilai bahwa pelemahan kondisi fiskal dan eksternal di Indonesia sekarang cuma bersifat sementara (temporary). Mereka optimis kondisi ini bakal segera membaik seiring dengan kenaikan harga komoditas dan langkah taktis pemerintah dalam memangkas belanja negara.
S&P memproyeksikan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat di angka sekitar 5% untuk beberapa tahun ke depan. Mereka menyoroti kebijakan hilirisasi serta langkah ketat pemerintah dalam mengelola sektor mineral dan sumber daya alam (SDA) dinilai sebagai strategi jangka panjang yang bijak karena berpotensi mendongkrak penerimaan negara dan ekspor.
Meskipun begitu, S&P tetap memberikan catatan penting. Mereka mengingatkan bahwa perubahan kebijakan yang terlalu cepat dan ketidakpastian dalam implementasi bisa menjadi red flag yang menekan kepercayaan investor, sekaligus memicu pelemahan nilai tukar rupiah dan pasar keuangan.
Ekonomi RI dinilai tetap tangguh
Ekonomi Indonesia sebenarnya sukses tumbuh 5,6% secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2026, didorong oleh meroketnya konsumsi selama masa liburan dan belanja pemerintah. Selain itu angka ini menunjukkan kalau Indonesia sukses menggaet permintaan domestik dan aktivitas investasi. Bahkan pendapatan per kapita Indonesia diperkirakan bakal naik sampai USD5.200 tahun ini.
Untuk mengatasi berbagai tekanan yang membayangi ekonomi global saat ini, pemerintah melakukan langkah-langkah penyesuaian anggaran yang sangat terukur. S&P memperkirakan defisit APBN akan tetap aman terkendali di bawah batas aman 3% dari PDB.
Salah satu caranya adalah dengan melakukan penghematan belanja, termasuk memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekitar sepertiga dari rencana awal. Di sisi lain, pendapatan negara pada semester I-2026 justru melesat 21% dibanding periode yang sama tahun lalu, disokong oleh pulihnya penerimaan pajak dan royalti sektor SDA seiring membaiknya harga komoditas global.
Kebijakan ekonomi RI dinilai bijak
Menanggapi penilaian dari S&P tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan bahwa pencapaian ini adalah pengakuan nyata atas konsistensi pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
"Keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada level investment grade dengan outlook stabil menunjukkan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional terjaga kredibel. Pemerintah akan terus menjaga disiplin fiskal, memperkuat basis penerimaan negara, meningkatkan kualitas belanja, serta memastikan pembiayaan dikelola secara prudent, efisien, dan berkelanjutan," jelas Purbaya dalam keterangan resminya, dikutip oleh astakom.com pada Selasa (14/7/2026).
Sinyal positif bagi investor
Apresiasi senada juga datang dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Menurutnya, keputusan S&P ini membuktikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih sangat kokoh dan dipercaya oleh komunitas internasional.
"Di tengah ketidakpastian global yang meningkat, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan (ekonomi) di kisaran 5 persen, mempertahankan disiplin fiskal dengan defisit di bawah 3 persen PDB, serta memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam. Ini menjadi sinyal positif bagi investor bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid," kata Airlangga dalam keterangannya, dikutip oleh astakom.com pada Selasa (14/07/2026). (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
S&P kasih sinyal kalau ekonomi Indonesia masih worth to trust dengan rating BBB dan outlook stabil. Walau global lagi chaos, prospek growth sekitar 5% masih keep on track berkat hilirisasi dan disiplin fiskal. Tapi, pemerintah tetap harus konsisten karena kebijakan yang berubah terlalu cepat bisa bikin investor jadi wait and see.









